uLSN08P13StNRpu8zdLBsXY8k4kNVrJ45iKXYMFb
Bookmark

Menikah Karena Tren, Tanpa Bekal Ilmu: Jangan Sampai Perceraian Menjadi Debu

Menikah Karena Tren, Tanpa Bekal Ilmu: Jangan Sampai Perceraian Menjadi Debu


Oleh: Azhari 

Ada satu pemandangan yang semakin sering kita lihat di zaman sekarang.

Seseorang melihat temannya menikah, lalu ingin segera menikah.

Melihat sahabat mengunggah foto akad, muncul keinginan untuk segera memiliki pasangan.

Melihat orang lain memamerkan kemesraan rumah tangga di media sosial, hati pun berkata, “Saya juga ingin seperti mereka.”

Kemudian pernikahan menjadi seperti sebuah tren.

Hari ini teman menikah.

Besok saudara menikah.

Minggu berikutnya melihat orang lain menikah.

Akhirnya muncul perasaan bahwa hidup kita tertinggal hanya karena belum menikah.

Padahal, pernikahan bukan perlombaan.

Tidak ada penghargaan bagi siapa yang paling cepat menikah.

Tidak ada medali bagi siapa yang paling muda menjadi suami atau istri.

Dan tidak ada jaminan bahwa seseorang yang cepat menikah pasti lebih bahagia daripada orang yang memilih menunggu sambil mempersiapkan diri.

Menikah adalah keputusan besar.

Ia bukan sekadar perubahan status dari lajang menjadi suami atau istri.

Di balik akad terdapat amanah.

Ada hak dan kewajiban.

Ada tanggung jawab.

Ada kehidupan bersama.

Ada keluarga yang harus dihormati.

Ada persoalan ekonomi.

Ada perbedaan karakter.

Ada anak-anak yang mungkin lahir kemudian.

Dan ada ujian kehidupan yang tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya.

Karena itu, jangan menikah hanya karena ikut tren.

Jangan sampai kita begitu bersemangat mengejar hari pernikahan, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan setelah akad.

Pernikahan Bukan Sekadar Hari yang Indah

Banyak orang mempersiapkan pernikahan dengan sangat serius.

Gedung dicari.

Pakaian dipilih.

Undangan dicetak.

Fotografer dipesan.

Dekorasi dipersiapkan.

Makanan dipikirkan.

Daftar tamu dibuat.

Semuanya dipersiapkan agar hari pernikahan terlihat sempurna.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Pernikahan memang layak dirayakan dengan penuh syukur.

Namun, ada satu persiapan yang terkadang justru terlupakan:

persiapan menjadi suami dan istri.

Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk memilih dekorasi, tetapi hanya sedikit waktu untuk mempelajari hak dan kewajiban suami istri?

Berapa banyak uang yang disiapkan untuk pesta, tetapi tidak pernah membicarakan bagaimana mengatur keuangan setelah menikah?

Berapa banyak tenaga yang digunakan untuk mempersiapkan foto pernikahan, tetapi tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan konflik rumah tangga?

Padahal, pesta hanya berlangsung beberapa jam.

Sementara rumah tangga dijalani setiap hari.

Setelah tamu pulang, kehidupan sebenarnya baru dimulai.

Di situlah seseorang tidak lagi hanya membutuhkan pakaian pengantin yang indah.

Ia membutuhkan kesabaran.

Ia membutuhkan ilmu.

Ia membutuhkan akhlak.

Ia membutuhkan kemampuan berkomunikasi.

Ia membutuhkan tanggung jawab.

Dan yang paling penting, ia membutuhkan kesiapan untuk terus belajar.

Cinta Saja Tidak Selalu Cukup

Cinta adalah salah satu bagian penting dalam pernikahan.

Tetapi rumah tangga tidak dapat dibangun hanya dengan cinta.

Sebelum menikah, seseorang mungkin berkata:

"Aku akan selalu mencintaimu."

Kalimat itu indah.

Namun, setelah menikah akan muncul pertanyaan yang lebih nyata:

Bagaimana ketika ekonomi sedang sulit?

Bagaimana ketika pasangan sakit?

Bagaimana ketika terjadi perbedaan pendapat?

Bagaimana ketika keluarga besar ikut campur?

Bagaimana ketika suami pulang dalam keadaan lelah?

Bagaimana ketika istri sedang menghadapi tekanan?

Bagaimana ketika keinginan suami berbeda dengan keinginan istri?

Bagaimana ketika anak mulai tumbuh dan membutuhkan perhatian?

Bagaimana ketika kehidupan tidak sesuai dengan rencana?

Di sinilah cinta diuji oleh kehidupan nyata.

Cinta yang matang bukan hanya tentang kata-kata romantis.

Cinta yang matang terlihat dari kesediaan untuk bertanggung jawab.

Dari kemampuan mendengar.

Dari kesediaan meminta maaf.

Dari kemampuan mengendalikan emosi.

Dari kemauan untuk memperbaiki diri.

Karena itu, jangan hanya mencari pasangan yang membuat kita jatuh cinta.

Carilah juga pasangan yang bersedia belajar bersama untuk membangun rumah tangga.

Dan jangan hanya bertanya apakah calon pasangan kita baik.

Tanyakan pula kepada diri sendiri:

“Apakah saya sudah belajar menjadi pasangan yang baik?”

Media Sosial Jangan Dijadikan Ukuran Kebahagiaan

Zaman sekarang memiliki tantangan tersendiri.

Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu sempurna.

Kita melihat pasangan tersenyum.

Berfoto bersama.

Pergi berlibur.

Makan malam romantis.

Merayakan ulang tahun.

Membagikan hadiah.

Menulis kata-kata cinta.

Akhirnya kita berpikir:

"Begitu indahnya rumah tangga mereka."

Kemudian kita membandingkannya dengan kehidupan sendiri.

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan bagian yang ingin ditampilkan.

Kita tidak melihat bagaimana mereka menyelesaikan pertengkaran.

Kita tidak melihat bagaimana mereka mengatur keuangan.

Kita tidak melihat bagaimana mereka menghadapi keluarga.

Kita tidak melihat bagaimana mereka menghadapi kesulitan.

Kita hanya melihat sebuah potongan kehidupan.

Karena itu, jangan mengambil keputusan menikah hanya karena melihat kehidupan orang lain di layar telepon.

Jangan membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial.

Rumah tangga bukan konten.

Rumah tangga adalah kehidupan nyata.

Menikah Karena Takut Tertinggal

Ada orang yang sebenarnya belum siap menikah.

Namun karena teman-temannya sudah menikah, ia merasa tertinggal.

Ada yang belum siap secara ekonomi.

Ada yang belum matang secara emosional.

Ada yang belum memahami tanggung jawab rumah tangga.

Tetapi karena takut disebut belum laku, akhirnya memaksakan diri mencari pasangan.

Ini berbahaya.

Sebab pernikahan bukan obat untuk menghilangkan rasa minder.

Menikah bukan cara untuk membuktikan bahwa kita lebih baik daripada orang lain.

Menikah juga bukan perlombaan untuk mengejar status sosial.

Setiap orang mempunyai perjalanan hidup yang berbeda.

Ada yang menikah muda.

Ada yang menikah setelah mapan.

Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan pasangan.

Semua manusia mempunyai cerita masing-masing.

Maka jangan menikah hanya karena takut tertinggal.

Lebih baik menunggu dengan sabar sambil mempersiapkan diri daripada terburu-buru menikah tanpa bekal.

Belajar Sebelum Menikah

Jika seseorang hendak menjalani kehidupan rumah tangga puluhan tahun, mengapa belajar hanya dilakukan setelah masalah datang?

Bukankah lebih baik belajar sebelum menikah?

Pelajari bagaimana Islam mengatur pernikahan.

Pelajari hak dan kewajiban suami istri.

Pelajari adab berkomunikasi.

Pelajari cara menyelesaikan konflik.

Pelajari pengelolaan keuangan keluarga.

Pelajari bagaimana mendidik anak.

Pelajari hubungan dengan keluarga besar.

Pelajari bagaimana menjaga kehormatan pasangan.

Dan yang tidak kalah penting, pelajari bagaimana mengendalikan diri ketika marah.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Tidak ada pasangan yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Tetapi orang yang memiliki ilmu akan lebih memahami bagaimana menghadapi kesalahan tersebut.

Ilmu bukan jaminan bahwa rumah tangga tidak akan mempunyai masalah.

Namun, ilmu dapat menjadi bekal untuk menghadapi masalah dengan lebih bijaksana.

Jangan Belajar Menjadi Suami Setelah Menjadi Suami

Ada sebuah kesalahan yang sering terjadi.

Seseorang baru belajar tentang tanggung jawab setelah menjadi suami.

Baru belajar komunikasi setelah rumah tangga bermasalah.

Baru belajar keuangan setelah terlilit utang.

Baru belajar menjadi ayah setelah anak lahir.

Baru belajar memahami pasangan setelah hubungan mulai renggang.

Tentu belajar tidak pernah terlambat.

Tetapi alangkah baiknya jika persiapan dimulai sebelum akad.

Begitu juga dengan seorang perempuan.

Jangan menunggu setelah menjadi istri baru belajar memahami tanggung jawab rumah tangga.

Belajar sejak sebelum menikah.

Bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.

Membaca.

Mengikuti kajian.

Berdiskusi dengan orang yang dapat dipercaya.

Dan yang terpenting, belajar menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan nyata.

Jangan Anggap Perceraian sebagai Jalan Keluar yang Ringan

Pernikahan memang tidak selalu berhasil.

Ada rumah tangga yang menghadapi persoalan sangat berat.

Dalam keadaan tertentu, perceraian dapat menjadi jalan penyelesaian.

Karena itu, kita tidak boleh menghakimi setiap pasangan yang akhirnya bercerai.

Namun, yang perlu direnungkan adalah jangan sampai perceraian dianggap sebagai sesuatu yang ringan.

Ketika sedang marah, jangan mudah mengatakan:

“Kita cerai saja!”

Ketika sedang bertengkar, jangan menjadikan perceraian sebagai ancaman.

Sebab kata-kata yang terus digunakan sebagai senjata dapat menghancurkan rasa aman dalam rumah tangga.

Rumah tangga membutuhkan ruang untuk berbicara.

Membutuhkan kesabaran.

Membutuhkan nasihat.

Membutuhkan musyawarah.

Dan dalam persoalan tertentu, membutuhkan bantuan pihak yang kompeten dan dapat dipercaya.

Jangan setiap masalah langsung dibawa ke media sosial.

Jangan setiap pertengkaran langsung diumumkan kepada semua orang.

Tidak semua masalah rumah tangga layak menjadi konsumsi publik.

Cerai Bagaikan Debu, Jangan Sampai Terjadi Karena Kecerobohan

Ungkapan “cerai bagaikan debu” dapat menjadi sebuah peringatan.

Bukan berarti perceraian boleh diremehkan.

Justru sebaliknya.

Jangan sampai pernikahan dilakukan begitu mudah karena mengikuti tren, kemudian ketika menghadapi sedikit persoalan, perceraian dianggap sebagai jalan yang paling cepat.

Menikah harus serius.

Mempertahankan rumah tangga juga harus serius.

Jika ada masalah kecil, jangan langsung membesarkannya.

Jika ada perbedaan, jangan langsung menjadikannya permusuhan.

Jika pasangan melakukan kesalahan, bicarakan.

Jika kita sendiri yang salah, berani meminta maaf.

Jika emosi sedang tinggi, belajar menenangkan diri sebelum berbicara.

Sebab banyak persoalan besar bermula dari masalah kecil yang tidak pernah diselesaikan dengan baik.

Rumah Tangga Membutuhkan Akhlak

Ilmu pernikahan penting.

Tetapi ilmu tanpa akhlak juga tidak cukup.

Seseorang mungkin hafal banyak nasihat tentang rumah tangga, tetapi jika ia suka merendahkan pasangan, mudah menghina, kasar ketika marah, tidak mau mendengar, dan selalu merasa dirinya benar, rumah tangga tetap akan menghadapi masalah.

Akhlak adalah bagian penting dari kehidupan keluarga.

Ketika marah, tidak menghina.

Ketika kecewa, tidak mempermalukan.

Ketika berbeda pendapat, tidak merendahkan.

Ketika pasangan salah, menasihati dengan cara yang baik.

Ketika kita salah, tidak gengsi meminta maaf.

Ketika ekonomi sulit, tidak saling menyalahkan.

Ketika mendapat rezeki, tidak lupa bersyukur.

Inilah sebagian bentuk kedewasaan dalam rumah tangga.

Jangan Menikah untuk Melarikan Diri

Ada pula orang yang ingin menikah karena ingin melarikan diri dari masalah.

Ingin keluar dari rumah.

Ingin melupakan masa lalu.

Ingin membuktikan kepada mantan bahwa dirinya sudah bahagia.

Ingin mendapatkan seseorang yang dapat menyelesaikan semua masalahnya.

Padahal pasangan bukan penyelamat kehidupan kita.

Pasangan adalah teman perjalanan.

Masing-masing tetap memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki dirinya.

Jangan menaruh seluruh beban kebahagiaan kepada pasangan.

Suami bukan manusia sempurna.

Istri juga bukan manusia sempurna.

Keduanya adalah manusia yang memiliki kekurangan.

Karena itu, pernikahan seharusnya menjadi tempat dua orang belajar tumbuh bersama, bukan tempat satu orang menuntut orang lain untuk menyempurnakan seluruh hidupnya.

Jangan Menikah Hanya Karena Takut Sendirian

Kesepian memang tidak menyenangkan.

Tetapi menikah dengan orang yang salah hanya karena takut sendirian juga bukan solusi.

Seseorang bisa merasa sangat kesepian meskipun tidur di kamar yang sama dengan pasangannya.

Kesepian dalam rumah tangga terkadang lebih menyakitkan karena secara fisik bersama, tetapi secara emosional berjauhan.

Maka jangan memilih pasangan hanya karena takut sendiri.

Kenali calon.

Lihat akhlaknya.

Lihat tanggung jawabnya.

Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih lemah.

Lihat bagaimana ia menghadapi masalah.

Lihat bagaimana ia berbicara ketika marah.

Bicarakan persoalan penting sebelum akad.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah kamu mencintaiku?”

Tetapi tanyakan:

“Apakah kita siap menjalani kehidupan bersama?”

Pernikahan Bukan Perlombaan

Tidak ada yang salah dengan menikah muda.

Tidak ada pula yang salah dengan menikah setelah lebih siap.

Yang salah adalah ketika seseorang menikah tanpa memahami apa yang sedang ia masuki.

Jangan merasa kalah karena belum menikah.

Jangan merasa menang hanya karena sudah menikah.

Sebab ukuran keberhasilan bukan seberapa cepat seseorang sampai ke pelaminan.

Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana ia menjalani kehidupan setelah pelaminan.

Pernikahan bukan garis akhir. Pernikahan adalah garis awal.

Setelah akad, perjuangan baru dimulai.

Ada kehidupan yang harus dibangun.

Ada pasangan yang harus dijaga.

Ada keluarga yang harus dihormati.

Ada anak yang mungkin harus dididik.

Ada ujian yang harus dihadapi.

Dan semuanya membutuhkan kesabaran.

Menikah Itu Ibadah, Maka Jangan Dilakukan Tanpa Ilmu

Jika seseorang hendak melaksanakan ibadah tertentu, ia biasanya berusaha mempelajari tata caranya.

Maka ketika hendak memasuki kehidupan rumah tangga yang berlangsung bertahun-tahun, bahkan insyaallah seumur hidup, mengapa tidak mempersiapkan ilmu?

Menikah adalah amanah.

Karena itu, persiapkan dengan sungguh-sungguh.

Persiapkan ilmu.

Persiapkan mental.

Persiapkan ekonomi.

Persiapkan komunikasi.

Persiapkan akhlak.

Persiapkan kemampuan menyelesaikan masalah.

Dan yang paling penting, persiapkan niat.

Jangan menjadikan pernikahan sebagai ajang mengikuti tren.

Jadikan pernikahan sebagai jalan untuk membangun keluarga yang baik dan kehidupan yang diridai Allah.

Penutup: Jangan Kejar Pernikahan, Kejar Kesiapan

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting sebelum menikah bukan hanya:

“Kapan saya menikah?”

Tetapi:

“Sudahkah saya siap menikah?”

Sudahkah siap menjadi suami?

Sudahkah siap menjadi istri?

Sudahkah siap bertanggung jawab?

Sudahkah siap menerima kekurangan pasangan?

Sudahkah siap menghadapi perbedaan?

Sudahkah siap mengelola ekonomi?

Sudahkah siap menjadi orang tua jika Allah memberikan keturunan?

Sudahkah siap menjaga kehormatan pasangan?

Dan sudahkah siap untuk terus belajar?

Jangan hanya mempersiapkan pakaian pengantin.

Persiapkan kesabaran.

Jangan hanya mempersiapkan pesta.

Persiapkan tanggung jawab.

Jangan hanya mempersiapkan rumah.

Persiapkan komunikasi.

Jangan hanya mempersiapkan foto pernikahan.

Persiapkan kehidupan setelah foto selesai.

Sebab ketika semua tamu sudah pulang, ketika dekorasi sudah dibongkar, ketika pakaian pengantin sudah disimpan, dan ketika kehidupan kembali berjalan seperti biasa, yang tersisa adalah dua manusia yang harus menjalani kehidupan bersama.

Di situlah cinta diuji.

Di situlah ilmu dibutuhkan.

Di situlah akhlak berbicara.

Dan di situlah kesabaran menjadi sangat berharga.

Maka jangan menikah karena semua orang sedang menikah.

Jangan menikah karena takut tertinggal.

Jangan menikah karena media sosial.

Jangan menikah karena tekanan keluarga atau masyarakat.

Dan jangan menikah hanya karena takut sendirian.

Menikahlah dengan kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah.

Belajarlah sebelum menikah.

Teruslah belajar setelah menikah.

Jika ada masalah, jangan langsung menyerah.

Jika ada perbedaan, jangan langsung bermusuhan.

Jika ada kesalahan, belajar memperbaiki.

Dan jika suatu persoalan memang sangat berat, carilah nasihat serta bantuan dari orang yang memiliki ilmu dan dapat dipercaya.

Sebab rumah tangga tidak membutuhkan pasangan yang sempurna.

Rumah tangga membutuhkan dua orang yang bersedia terus belajar menjadi lebih baik.

Jangan sampai kita mengikuti tren menikah hari ini, tetapi tidak siap menghadapi kenyataan rumah tangga esok hari.

Jangan sampai akad dilakukan dengan mudah, sementara perceraian akhirnya menjadi jalan keluar yang begitu mudah pula.

Karena itu, sebelum bertanya:

“Kapan kita menikah?”

bertanyalah lebih dahulu:

“Sudahkah kita memiliki ilmu untuk menjalani pernikahan?”

Dan sebelum mengejar hari pernikahan, pastikan kita telah mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Sebab menikah itu mudah. Menjadi pasangan yang baik membutuhkan ilmu, iman, akhlak, kesabaran, tanggung jawab, dan perjuangan sepanjang kehidupan.

Jangan sekadar mengejar status menikah. Kejarlah keberkahan dalam pernikahan.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar