Apa yang Sebenarnya Kita Cari dalam Hidup?
Marcus Aurelius, melalui tulisan-tulisannya, banyak mengajarkan tentang arti kehidupan yang sebenarnya.
Menariknya, ia bukanlah seorang manusia yang hidup jauh dari kekayaan dan kekuasaan. Ia justru berada di puncak keduanya. Marcus Aurelius adalah seorang Kaisar Romawi, seseorang yang pada zamannya memiliki kedudukan, kekuasaan, dan segala sesuatu yang mungkin menjadi impian banyak manusia.
Namun dari catatan-catatan pribadinya yang kemudian dikenal dan dibaca oleh dunia, kita menemukan sesuatu yang berbeda.
Seolah-olah ia sedang mengingatkan kita bahwa kekayaan dan kekuasaan bukanlah tujuan akhir dari kehidupan.
Sebab manusia sering kali mengejar sesuatu dengan penuh ambisi. Ketika mendapatkannya, kita merasa bangga. Setelah itu muncul ketakutan untuk kehilangan. Dan ketika sesuatu yang kita miliki benar-benar pergi, kita merasa sedih dan menyesal.
Kita mengejar.
Kemudian kita bangga.
Lalu kita takut kehilangan.
Dan pada akhirnya, kita bersedih ketika kehilangan itu benar-benar datang.
Begitulah manusia.
Mungkin yang sebenarnya kita cari bukanlah sebanyak apa yang bisa kita miliki, melainkan seberapa tenang kita dapat menjalani kehidupan.
Hidup dalam keterbatasan
Marcus Aurelius mengajarkan bahwa manusia hidup dengan banyak keterbatasan.
Ada begitu banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan.
Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita tidak bisa memaksa semua keadaan berjalan sesuai dengan keinginan. Kita tidak bisa mencegah semua kehilangan, kegagalan, perubahan, bahkan kematian.
Tetapi ada sesuatu yang masih berada dalam ruang kendali kita, bagaimana kita bersikap terhadap semua itu.
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan badai yang datang, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana kita berdiri ketika badai itu menerpa.
Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepada kita. Namun kita masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana kita meresponsnya.
Di situlah letak kebebasan manusia.
Kesederhanaan di tengah segala sesuatu
Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan Marcus Aurelius.
Ia memiliki kekuasaan yang sangat besar, tetapi pemikirannya justru banyak mengarah kepada kesederhanaan, pengendalian diri, dan kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara.
Mungkin karena berada di puncak kekuasaan membuatnya semakin memahami bahwa tidak ada kedudukan yang benar-benar abadi.
Hari ini seseorang berada di atas.
Besok mungkin tidak lagi.
Hari ini kita memiliki sesuatu.
Suatu hari kita mungkin harus melepaskannya.
Karena itu, hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa memiliki apa-apa. Hidup sederhana adalah ketika kita tidak membiarkan apa yang kita miliki menguasai diri kita.
Tetap sederhana ketika berada di atas.
Tetap kuat ketika berada di bawah.
Tetap tenang ketika mendapatkan sesuatu.
Dan tetap menerima ketika sesuatu harus pergi.
Mungkin ketenangan adalah kekayaan yang sebenarnya
Pada akhirnya, mungkin manusia tidak benar-benar membutuhkan sebanyak yang selama ini kita pikirkan.
Kita membutuhkan tempat untuk pulang, orang-orang yang kita cintai, makanan untuk hidup, kesehatan, dan hati yang cukup tenang untuk menjalani hari.
Selebihnya, banyak hal yang kita kejar mungkin hanya menambah daftar keinginan yang tidak pernah selesai.
Kita mendapatkan satu hal, lalu menginginkan hal berikutnya.
Kita mencapai satu tujuan, lalu menciptakan tujuan baru.
Kita membeli sesuatu, kemudian takut kehilangan sesuatu yang telah dibeli.
Dan tanpa sadar, hidup kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang kita pikir akan membuat kita bahagia.
Padahal mungkin kebahagiaan itu tidak selalu berada di tempat yang jauh.
Mungkin ia hadir ketika kita mampu menerima hidup sebagaimana adanya.
Mampu bersyukur ketika mendapatkan, Mampu menerima ketika kehilangan, Mampu bekerja keras tanpa diperbudak oleh ambisi.
Dan mampu memiliki sesuatu tanpa merasa bahwa hidup kita akan berakhir ketika sesuatu itu hilang.
Marcus Aurelius mungkin telah lama mengingatkan kita tentang hal tersebut.
Bahwa hidup bukan tentang menguasai segala sesuatu.
Karena pada akhirnya, kita tidak akan pernah mampu menguasai semuanya.
Hidup adalah tentang belajar menguasai diri sendiri.
Dan mungkin, setelah semua yang kita kejar berhenti sejenak, yang sebenarnya kita cari sejak awal hanyalah satu hal sederhana, ketenangan.
Penulis : Muhammad Ielham Aulia Almukarram
