Jangan Paksa Calon Menikah: Lebih Baik Batal Sebelum Akad daripada Rumah Tangga Berakhir Tragis
Jangan Paksa Calon Menikah: Lebih Baik Batal Sebelum Akad daripada Rumah Tangga Berakhir Tragis
Oleh: azhari
Ada sebuah nasihat yang sederhana, tetapi sering kali sulit dilakukan:
Jangan memaksakan pernikahan kepada seseorang yang hatinya sudah tidak siap.
Sebab pernikahan bukan sekadar tentang bagaimana dua keluarga bertemu, tanggal ditentukan, gedung dipesan, undangan disebarkan, lalu akad dilaksanakan.
Pernikahan adalah keputusan untuk hidup bersama.
Ada tanggung jawab di dalamnya. Ada hak dan kewajiban. Ada persoalan ekonomi. Ada hubungan dengan keluarga besar. Ada perbedaan karakter. Ada kesabaran yang harus dipelihara. Ada masa ketika cinta terasa kuat, tetapi ada pula masa ketika rumah tangga diuji oleh keadaan.
Karena itu, jangan sampai seseorang menikah hanya karena takut kehilangan calon.
Jangan paksakan menikah hanya karena takut calon pergi.
Sebab kalau calon pergi sebelum akad, memang sakit.
Tetapi jika seseorang dipaksa menikah, lalu setelah akad ia justru merasa terjebak, akibatnya bisa jauh lebih panjang.
Pernikahan Bukan Tempat untuk Memaksa Hati
Dalam ajaran Islam, pernikahan bukan perkara yang dilakukan dengan sembarangan.
Rasulullah ï·º mengajarkan pentingnya meminta persetujuan calon mempelai sebelum pernikahan. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi ï·º menjelaskan bahwa seorang perempuan tidak dinikahkan sebelum dimintai persetujuannya.
Pesan yang dapat dipahami dari prinsip tersebut adalah bahwa pernikahan tidak seharusnya dibangun di atas penolakan dan keterpaksaan.
Maka, orang tua boleh menasihati.
Keluarga boleh memberikan pertimbangan.
Tokoh agama boleh memberikan arahan.
Sahabat boleh mengingatkan.
Tetapi nasihat berbeda dengan paksaan.
Musyawarah berbeda dengan tekanan.
Membimbing berbeda dengan mengendalikan.
Jangan sampai kalimat:
“Kami hanya ingin yang terbaik untukmu.”
berubah menjadi:
“Kamu harus menikah dengan dia, tidak boleh menolak.”
Karena yang akan menjalani kehidupan rumah tangga bukan hanya keluarga.
Yang akan menjalani adalah pasangan tersebut.
Jangan Menikah Karena Takut Calon Pergi
Ada orang yang mempertahankan hubungan bukan karena benar-benar yakin, tetapi karena takut kehilangan.
Takut calon menikah dengan orang lain.
Takut tidak mendapatkan pasangan lagi.
Takut usia bertambah.
Takut keluarga kecewa.
Takut menjadi bahan pembicaraan.
Takut dianggap mempermainkan perasaan.
Akhirnya, karena semua ketakutan itu, seseorang berkata:
“Sudahlah, kita menikah saja.”
Padahal di dalam hati masih ada keraguan.
Inilah yang harus diwaspadai.
Jangan menjadikan pernikahan sebagai cara untuk menghilangkan rasa takut kehilangan.
Pernikahan seharusnya lahir dari keyakinan dan kesiapan untuk menjalani kehidupan bersama, bukan dari kepanikan karena takut seseorang pergi.
Sebab seseorang mungkin bisa dipaksa mengatakan “iya”.
Tetapi hati tidak mudah dipaksa untuk mencintai, menerima, dan menjalani rumah tangga dengan tulus.
Kalau Calon Pergi, Jangan Langsung Mengejar dengan Paksaan
Ini bagian yang paling berat.
Bagaimana jika calon tiba-tiba mengatakan:
“Saya tidak siap.”
Atau:
“Saya ingin membatalkan pernikahan.”
Atau bahkan:
“Saya ingin mengakhiri hubungan ini.”
Tentu saja hati akan hancur.
Tetapi jangan langsung mengubah kesedihan menjadi paksaan.
Jangan mengancam.
Jangan mengatakan:
“Kalau kamu pergi, hidupmu akan saya rusak.”
Jangan mengatakan:
“Semua keluarga sudah tahu, kamu tidak boleh mundur.”
Jangan mengerahkan banyak orang untuk menekan calon.
Jangan mempermalukan dia di depan keluarga.
Jangan menyebarkan percakapan pribadi.
Dan jangan menggunakan agama untuk menakut-nakuti seseorang agar tetap bertahan.
Berikan kesempatan untuk berbicara.
Tanyakan apa masalahnya.
Apakah ada persoalan yang masih bisa diselesaikan?
Apakah dia membutuhkan waktu?
Apakah ada kesalahpahaman?
Apakah ada persoalan keluarga?
Apakah ada persoalan ekonomi?
Atau memang hatinya sudah tidak ingin melanjutkan?
Semua itu perlu diketahui dengan kepala dingin.
Lebih Baik Batal Sebelum Akad daripada Menyesal Setelah Akad
Kalimat ini mungkin terdengar pahit.
Tetapi terkadang kebenaran memang tidak selalu manis.
Pernikahan yang batal sebelum akad memang menyakitkan. Namun, pernikahan yang dipaksakan dapat melahirkan luka yang lebih panjang.
Bayangkan sebuah pesta pernikahan.
Semua orang tersenyum.
Keluarga bahagia.
Foto bersama.
Tamu memberikan ucapan selamat.
Tetapi setelah semuanya selesai, pasangan yang menikah ternyata tidak benar-benar siap menjalani kehidupan bersama.
Mulailah pertengkaran.
Komunikasi memburuk.
Muncul rasa kecewa.
Muncul penyesalan.
Kemudian saling menyalahkan.
Pada akhirnya, rumah tangga yang seharusnya menjadi tempat ketenangan justru menjadi tempat pertengkaran.
Bukankah lebih baik persoalan itu diketahui sebelum akad?
Bukankah lebih baik sebuah rencana pernikahan ditunda atau dibatalkan daripada memaksakan sesuatu yang belum siap?
Pesta pernikahan hanya berlangsung beberapa jam.
Tetapi kehidupan rumah tangga bisa berlangsung puluhan tahun.
Jangan mempertahankan pesta beberapa jam dengan mengorbankan kehidupan puluhan tahun.
Jangan Takut Malu Karena Pernikahan Batal
Dalam masyarakat, salah satu tekanan terbesar datang dari perkataan orang.
“Sudah tunangan, kok batal?”
“Undangan sudah disiapkan.”
“Keluarga sudah bertemu.”
“Orang sekampung sudah tahu.”
“Malunya bagaimana?”
Pertanyaan seperti itu bisa membuat seseorang takut mengambil keputusan yang sebenarnya diperlukan.
Padahal masyarakat hanya melihat dari luar.
Mereka tidak menjalani rumah tangga kita.
Mereka tidak mengetahui semua persoalan di dalam hubungan.
Mereka tidak akan berada di dalam rumah ketika pasangan bertengkar.
Mereka tidak ikut merasakan tekanan ekonomi.
Mereka tidak ikut merasakan kesepian.
Karena itu, jangan menikah hanya demi membungkam komentar orang lain.
Biarkan orang berbicara beberapa hari, daripada kita menderita bertahun-tahun.
Tentu pembatalan pernikahan bukan sesuatu yang boleh dilakukan secara gegabah.
Tetapi jika memang ada persoalan serius yang membuat salah satu pihak tidak siap atau tidak bersedia, maka persoalan tersebut harus dibicarakan secara jujur sebelum akad.
Pertunangan Bukan Akad Nikah
Ini juga perlu dipahami oleh banyak pasangan.
Pertunangan atau khitbah bukan berarti seseorang sudah menjadi suami atau istri.
Masa pertunangan justru merupakan kesempatan untuk memastikan bahwa rencana pernikahan memang layak dilanjutkan.
Di masa inilah berbagai hal penting harus dibicarakan.
Bagaimana kehidupan setelah menikah?
Di mana akan tinggal?
Bagaimana mengatur keuangan?
Bagaimana hubungan dengan orang tua?
Bagaimana membagi tanggung jawab?
Bagaimana menyelesaikan konflik?
Bagaimana jika terjadi masalah pekerjaan?
Bagaimana menghadapi perbedaan karakter?
Bagaimana menjaga batas pergaulan sebelum akad?
Semakin serius seseorang mempersiapkan pernikahan, semakin banyak hal yang perlu dibicarakan.
Jangan hanya membicarakan gedung, pakaian, katering, foto, dan undangan.
Bicarakan juga kehidupan setelah pesta selesai.
Jangan Hanya Bertanya “Kapan Menikah?”
Pertanyaan yang paling sering muncul dalam hubungan menuju pernikahan adalah:
“Kapan kita menikah?”
Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Apakah kita siap menikah?”
Keduanya berbeda.
Menentukan tanggal tidak sulit.
Mempersiapkan kehidupan setelah tanggal tersebut yang membutuhkan kesungguhan.
Karena itu, sebelum menikah, pasangan sebaiknya mampu berbicara secara jujur mengenai berbagai persoalan yang akan mereka hadapi.
Kalau ada masalah komunikasi, selesaikan.
Kalau ada masalah keuangan, bicarakan.
Kalau ada masalah keluarga, cari jalan keluar.
Kalau ada perbedaan prinsip, jangan ditutupi.
Kalau ada keraguan yang mendalam, jangan pura-pura tidak ada.
Jangan menyembunyikan masalah sebelum menikah hanya demi membuat pernikahan terlaksana.
Sebab masalah yang disembunyikan sebelum akad bisa menjadi masalah yang lebih besar setelah akad.
Jangan Jadikan Orang Tua Sebagai Alat Tekanan
Orang tua memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan anak.
Nasihat mereka harus dihormati.
Namun, persoalan jodoh juga perlu dibicarakan dengan bijaksana.
Jangan sampai orang tua berkata:
“Kalau kamu tidak menikah dengannya, Ibu kecewa.”
“Ayah sudah malu kepada keluarga.”
“Kamu harus menikah karena keluarga sudah setuju.”
Kalimat seperti itu bisa membuat anak merasa tidak mempunyai pilihan.
Lebih baik orang tua berkata:
“Kami sudah memberikan pertimbangan. Kami melihat kebaikan dan kekurangannya. Tetapi keputusan harus dipikirkan dengan matang. Jangan menikah karena terpaksa.”
Dengan demikian, orang tua tetap memberikan arahan tanpa menjadikan dirinya sebagai sumber tekanan.
Jangan Gunakan Agama untuk Memaksa
Ini yang paling perlu dijaga.
Agama seharusnya menjadi sumber petunjuk, bukan alat untuk memenangkan keinginan pribadi.
Jangan mengatakan:
“Kalau kamu membatalkan pernikahan berarti kamu tidak menghargai agama.”
Jangan pula mengatakan:
“Kalau kamu meninggalkan dia berarti kamu berdosa.”
Persoalan pernikahan tidak sesederhana itu.
Dalam masalah agama, kita harus berhati-hati memberikan vonis.
Yang perlu dilakukan adalah mengajak kedua pihak bermusyawarah, mencari nasihat dari orang yang memahami ilmu agama dan kondisi persoalan, serta mempertimbangkan hak dan kewajiban masing-masing.
Pernikahan adalah perkara serius.
Karena itu, jangan menjadikannya arena untuk saling menekan.
Kalau Akhirnya Calon Pergi
Ada kemungkinan semua nasihat sudah diberikan.
Sudah bermusyawarah.
Sudah mencoba memperbaiki hubungan.
Tetapi calon tetap memilih pergi.
Apa yang harus dilakukan?
Terima kenyataan dengan sekuat hati.
Bukan berarti tidak boleh menangis.
Bukan berarti tidak boleh kecewa.
Bukan berarti tidak boleh berduka.
Semua itu manusiawi.
Tetapi jangan kehilangan akhlak hanya karena kehilangan calon.
Jangan membalas dengan membuka aib.
Jangan menyebarkan rahasia.
Jangan mengajak orang lain membenci.
Jangan menghina.
Jangan mengancam.
Dan jangan menjadikan media sosial sebagai tempat mempertontonkan luka pribadi.
Jika hubungan memang berakhir, berusahalah mengakhirinya dengan cara yang baik.
Sebab seseorang boleh pergi dari kehidupan kita, tetapi kita tidak boleh kehilangan prinsip sebagai seorang Muslim.
Bisa Jadi Kegagalan Itu Adalah Pelajaran
Manusia sering menyebut sesuatu sebagai “kegagalan” karena tidak sesuai dengan rencana.
Rencana menikah gagal.
Pertunangan batal.
Calon pergi.
Tetapi kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik sebuah kejadian.
Bisa jadi kita merasa kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Namun, Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Karena itu, jangan berhenti hidup hanya karena sebuah hubungan berakhir.
Perbaiki diri.
Perbanyak doa.
Belajar dari kesalahan.
Jaga hubungan dengan keluarga.
Dan jangan terburu-buru mencari pengganti hanya untuk membuktikan bahwa kita masih bisa mendapatkan pasangan.
Sembuhkan diri terlebih dahulu.
Pernikahan Harus Dimulai dengan Kerelaan
Pernikahan yang sehat bukan dimulai dari kalimat:
“Saya terpaksa.”
Bukan pula:
“Saya menikah karena takut dia pergi.”
Bukan:
“Saya menikah karena keluarga memaksa.”
Dan bukan:
“Saya menikah karena malu kepada masyarakat.”
Pernikahan seharusnya dimulai dengan kesediaan:
“Saya memilihmu dengan sadar, saya memahami tanggung jawabnya, dan saya bersedia berusaha menjalani kehidupan ini bersamamu.”
Itulah mengapa persetujuan dan kerelaan calon mempelai merupakan prinsip penting dalam pembahasan pernikahan dalam Islam.
Jangan Mengejar Akad, Persiapkan Rumah Tangga
Pada akhirnya, jangan terlalu sibuk mengejar hari pernikahan sampai lupa mempersiapkan kehidupan setelah pernikahan.
Jangan hanya bertanya:
“Kapan akad?”
Tanyakan:
“Sudah siapkah kita?”
Jangan hanya mempersiapkan pesta.
Persiapkan tanggung jawab.
Jangan hanya mempersiapkan pakaian pengantin.
Persiapkan kesabaran.
Jangan hanya mempersiapkan rumah.
Persiapkan komunikasi.
Jangan hanya mempersiapkan buku nikah.
Persiapkan hati untuk menjalankan amanah.
Sebab pernikahan bukan akhir dari perjuangan cinta.
Pernikahan justru awal dari perjuangan yang sebenarnya.
Penutup
Jangan paksakan calon untuk menikah.
Jika dia masih ragu, dengarkan.
Jika dia belum siap, beri kesempatan untuk mempersiapkan diri.
Jika ada persoalan, selesaikan.
Jika perlu menunda, jangan takut menunda.
Dan jika pada akhirnya dia memilih pergi, jangan mengejarnya dengan tekanan dan ancaman.
Lebih baik kehilangan calon sebelum akad daripada kehilangan ketenangan setelah akad.
Lebih baik menangis karena pernikahan batal daripada menangis setiap hari karena pernikahan yang dipaksakan.
Lebih baik menghadapi rasa malu karena gagal menikah daripada mempertahankan pernikahan hanya demi menjaga penilaian manusia.
Kita boleh merencanakan.
Kita boleh berharap.
Kita boleh berikhtiar.
Tetapi jangan memaksa sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.
Dalam urusan jodoh, manusia berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Jika bersama adalah kebaikan, semoga Allah mudahkan.
Jika berpisah ternyata lebih baik, semoga Allah memberikan kekuatan untuk menerima.
Sebab yang kita cari bukan sekadar seseorang untuk menjadi suami atau istri.
Yang kita cari adalah teman perjalanan yang bersedia berjalan bersama dalam ketaatan, tanggung jawab, kesetiaan, kesabaran, dan kasih sayang.
Jangan terburu-buru mengejar akad. Pastikan terlebih dahulu bahwa dua hati benar-benar siap untuk menjalani kehidupan setelah akad.
Karena pernikahan yang baik bukan hanya tentang berhasil sampai ke pelaminan, tetapi tentang mampu menjaga amanah setelah semua tamu pulang.