uLSN08P13StNRpu8zdLBsXY8k4kNVrJ45iKXYMFb
Bookmark

Mungkin, Itulah yang Disebut Surga

 

Pernahkah kita membayangkan sebuah tempat yang begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia?

Sebuah tempat di mana tidak ada lagi ketakutan akan kehilangan, tidak ada rasa cemas tentang hari esok, tidak ada kelaparan, tidak ada ancaman, dan tidak ada kegelisahan yang terus menghantui pikiran.

Di sana, mungkin tidak ada lagi manusia yang harus berlomba untuk bertahan hidup. Tidak ada yang perlu merasa lebih tinggi dari yang lain, tidak ada iri hati, tidak ada permusuhan. Semuanya hidup dalam harmoni, dalam ketenangan yang mungkin selama ini kita cari di dunia, tetapi tidak pernah benar-benar kita temukan.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri:

Apakah itu yang dinamakan surga?

Jika benar demikian, betapa berbahagianya mereka yang kelak dapat memasukinya.

Sebab di sana, mungkin untuk pertama kalinya manusia benar-benar terbebas dari segala sesuatu yang selama hidupnya membuat hati lelah.

Tidak ada lagi kesakitan yang harus ditahan.

Tidak ada lagi penyesalan yang harus dipikul.

Tidak ada lagi kehilangan yang harus diterima dengan air mata.

Tidak ada lagi ketakutan tentang apa yang akan terjadi esok hari.

Yang ada hanyalah ketenangan.

Yang ada hanyalah kebahagiaan.

Yang ada hanyalah kepuasan sejati—bukan kepuasan yang datang karena memiliki banyak hal, tetapi kepuasan yang lahir karena tidak ada lagi sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Mungkin selama ini kita mengira kebahagiaan adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Padahal bisa jadi, kebahagiaan yang paling sempurna adalah ketika tidak ada lagi rasa takut kehilangan apa pun.

Di dunia, kita hidup dengan segala keterbatasan. Kita mencintai, lalu takut kehilangan. Kita memiliki, lalu takut kekurangan. Kita berharap, lalu takut kecewa. Kita mengejar masa depan, sementara hari ini perlahan berlalu begitu saja.

Barangkali karena itulah manusia selalu merindukan sebuah tempat yang lebih baik.

Tempat di mana hati tidak lagi gelisah.

Tempat di mana tidak ada air mata karena kehilangan.

Tempat di mana tidak ada rasa lapar, ancaman, kebencian, ataupun penyesalan.

Sebuah tempat di mana semuanya berada dalam harmoni.

Jika tempat seperti itu benar-benar ada, mungkin itulah rumah yang sesungguhnya.

Mungkin, itulah surga.

Dan jika kelak kita benar-benar sampai di sana, semoga semua luka yang pernah kita rasakan di dunia terasa begitu kecil dibandingkan dengan kebahagiaan yang akhirnya kita temukan.

Karena mungkin, setelah perjalanan panjang yang penuh ketakutan, kehilangan, kesabaran, dan air mata, manusia memang pada akhirnya hanya ingin satu hal, pulang ke tempat di mana ia tidak perlu takut kehilangan apa pun lagi.


Penulis : Muhammad Ielham Aulia Almukarram 

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar