NAFSU PASCA NIKAH DENGAN PEREMPUAN LAIN
Ketika Keinginan Sudah Terpenuhi, Tetapi Ujian Justru Baru Dimulai
Ada satu hal yang sering tidak dibicarakan secara jujur ketika seorang lelaki memutuskan menikah dengan perempuan lain.
Sebelum pernikahan, yang ada mungkin hanya rasa tertarik, rasa penasaran, rasa rindu, dan keinginan untuk memiliki.
Dalam pikirannya, perempuan itu terlihat begitu istimewa.
Senyumnya terasa berbeda.
Perhatiannya terasa lebih menyenangkan.
Percakapan dengannya terasa lebih hidup.
Dan karena dorongan perasaan serta nafsu, seorang lelaki akhirnya mengambil keputusan untuk menikah.
Ia mungkin berkata kepada dirinya sendiri:
"Setelah menikah, semuanya akan menjadi halal."
Benar, pernikahan yang sah menjadikan hubungan suami-istri halal.
Tetapi ada sesuatu yang sering terlupakan:
Menjadi halal bukan berarti semua keinginan boleh diikuti tanpa batas.
Justru setelah akad, tanggung jawab menjadi jauh lebih besar.
Ketika seorang lelaki menikahi perempuan lain, ia bukan hanya mendapatkan seorang istri baru.
Ia mendapatkan amanah baru.
Dan apabila ia masih memiliki istri sebelumnya, maka amanahnya bertambah.
Ia bukan hanya berhadapan dengan perasaan dirinya sendiri.
Ia berhadapan dengan hati dua perempuan, keluarga, anak-anak jika ada, serta tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Di sinilah nafsu setelah pernikahan menjadi sebuah ujian.
Nafsu Tidak Berhenti Setelah Akad
Sebagian orang mungkin mengira bahwa setelah mendapatkan perempuan yang diinginkan, nafsu akan selesai.
Padahal manusia memiliki sifat ingin memiliki.
Sebelum menikah, seseorang mengejar.
Setelah menikah, muncul keinginan lain.
Ingin lebih banyak perhatian.
Ingin lebih banyak waktu.
Ingin lebih banyak kedekatan.
Ingin pasangan selalu memahami dirinya.
Bahkan setelah mendapatkan apa yang dahulu sangat diinginkan, manusia masih bisa merasa kurang.
Inilah mengapa Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan sesuatu, tetapi juga bagaimana mengendalikan diri setelah mendapatkannya.
Nafsu bukan selalu sesuatu yang harus dimatikan.
Nafsu adalah bagian dari manusia.
Tetapi nafsu harus ditempatkan di bawah kendali iman dan akal.
Keinginan yang halal pun tetap harus dijalankan dengan tanggung jawab.
Sebab sesuatu yang halal dapat berubah menjadi sumber dosa apabila dilakukan dengan cara yang zalim, menipu, mengabaikan kewajiban, atau menyakiti hak orang lain.
Ketika Perempuan Lain Menjadi Objek Keinginan
Ada lelaki yang sebelum menikah dengan perempuan kedua sudah membayangkan betapa indah kehidupannya.
Ia melihat kelebihan perempuan tersebut.
Ia membandingkannya dengan istri pertama.
Yang satu dianggap lebih cantik.
Yang satu dianggap lebih perhatian.
Yang satu dianggap lebih muda.
Yang satu dianggap lebih memahami dirinya.
Yang satu membuatnya merasa dihargai.
Perbandingan semacam ini sangat berbahaya.
Sebab ketika seseorang terus melihat kelebihan orang lain dan kekurangan pasangannya, ia akan kehilangan rasa syukur terhadap apa yang sudah dimilikinya.
Padahal manusia memiliki kecenderungan melihat sesuatu yang baru sebagai sesuatu yang lebih menarik.
Yang baru sering terlihat indah karena kita belum mengenal seluruh kekurangannya.
Ketika seorang lelaki baru mengenal perempuan lain, ia mungkin hanya melihat sisi terbaiknya.
Belum terlihat bagaimana ia ketika marah.
Belum terlihat bagaimana ia ketika menghadapi kesulitan.
Belum terlihat bagaimana ia ketika ekonomi rumah tangga sedang buruk.
Belum terlihat bagaimana ia ketika sakit.
Belum terlihat bagaimana ia ketika terjadi perbedaan pendapat.
Begitu pula sebaliknya.
Perempuan tersebut mungkin melihat seorang lelaki yang romantis dan perhatian.
Namun setelah menikah, ia baru mengetahui seluruh tanggung jawab, kekurangan, dan karakter sebenarnya.
Karena itu, jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan perasaan yang sedang tinggi.
Pernikahan Bukan Obat untuk Nafsu
Ini penting untuk dipahami.
Menikah memang merupakan jalan yang halal untuk menyalurkan kebutuhan biologis.
Tetapi pernikahan bukan obat yang membuat seseorang otomatis terbebas dari hawa nafsu.
Jika seseorang tidak belajar mengendalikan dirinya, setelah menikah pun ia masih bisa tertarik kepada perempuan lain.
Hari ini menikah dengan perempuan kedua.
Besok tertarik lagi kepada perempuan ketiga.
Setelah itu merasa ada perempuan lain yang lebih menarik.
Jika pola seperti ini terus terjadi, persoalannya bukan lagi tentang siapa perempuan yang dinikahi.
Persoalannya adalah ketidakmampuan mengendalikan keinginan.
Sebab seseorang yang tidak belajar merasa cukup akan selalu mencari sesuatu yang baru.
Nafsu mengatakan:
"Masih ada yang lebih cantik."
"Masih ada yang lebih muda."
"Masih ada yang lebih menarik."
"Masih ada yang lebih memahami saya."
Jika semua itu dituruti tanpa batas, seseorang tidak akan pernah merasa cukup.
Ia akan terus mengejar.
Terus membandingkan.
Terus menginginkan.
Dan akhirnya kehilangan ketenangan.
Istri Bukan Sekadar Pemenuh Nafsu
Pernikahan tidak boleh direduksi menjadi persoalan seksual.
Istri bukan sekadar seseorang yang memenuhi kebutuhan biologis suami.
Ia adalah manusia yang memiliki hati.
Ia memiliki kebutuhan emosional.
Ia memiliki hak untuk dihormati.
Ia memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik.
Ia memiliki hak atas nafkah sesuai kemampuan dan kewajiban.
Ia memiliki hak atas keadilan dalam rumah tangga sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, lelaki yang menikahi perempuan lain harus bertanya kepada dirinya sendiri:
"Apakah saya benar-benar siap menjadi suami yang bertanggung jawab, atau saya hanya sedang mengikuti keinginan?"
Pertanyaan tersebut sangat penting.
Sebab perasaan bisa berubah.
Nafsu bisa naik dan turun.
Tetapi akad pernikahan adalah amanah.
Jangan Menggunakan Agama untuk Membenarkan Keinginan Pribadi
Poligami merupakan persoalan yang memiliki pembahasan tersendiri dalam Islam.
Namun satu hal harus jelas:
Jangan menjadikan agama sekadar alat untuk membenarkan semua keinginan pribadi.
Jika seseorang ingin menikah lagi, ia harus memahami hukum, syarat, tanggung jawab, serta konsekuensinya.
Jangan hanya mengambil bagian yang sesuai dengan keinginan lalu meninggalkan bagian yang terasa berat.
Ketika berbicara mengenai poligami, pembahasan tentang keadilan dan tanggung jawab tidak boleh dihapus.
Seorang lelaki tidak cukup berkata:
"Ini halal."
Lalu berhenti di sana.
Ia juga harus bertanya:
"Apakah saya mampu menjalankan amanahnya?"
Sebab halal dan mampu bertanggung jawab adalah dua persoalan yang harus dipahami secara serius.
Keadilan Bukan Sekadar Uang
Ada lelaki yang menganggap dirinya sudah adil karena memberikan nafkah kepada semua istrinya.
Padahal keadilan dalam rumah tangga memiliki banyak dimensi.
Ada waktu.
Ada tempat tinggal.
Ada nafkah.
Ada perhatian.
Ada perlakuan.
Ada tanggung jawab.
Ada hak-hak keluarga.
Dalam rumah tangga poligami, persoalan keadilan menjadi semakin sensitif.
Karena itu, seorang lelaki tidak boleh menganggap perasaan istri pertama sebagai sesuatu yang tidak penting.
Rasa cemburu adalah bagian dari manusia.
Perasaan terluka juga manusiawi.
Yang harus dijaga adalah bagaimana semua pihak menghadapi perasaan tersebut dengan cara yang baik dan tidak zalim.
Jangan Menghancurkan Rumah Lama Demi Mengejar Perasaan Baru
Ada lelaki yang setelah menikah dengan perempuan lain mulai melupakan istri pertamanya.
Telepon semakin jarang.
Waktu semakin sedikit.
Nafkah mulai tidak teratur.
Perhatian berubah.
Anak-anak mulai merasa kehilangan ayah.
Istri pertama merasa ditinggalkan.
Sementara lelaki tersebut justru semakin sibuk menikmati kehidupan barunya.
Ini adalah keadaan yang harus direnungkan.
Jangan sampai sebuah pernikahan baru menjadi alasan untuk menghancurkan amanah lama.
Jika seorang lelaki memutuskan untuk menikah lagi, ia harus semakin bertanggung jawab, bukan semakin bebas dari tanggung jawab.
Jumlah rumah tangga bertambah, maka tanggung jawab juga bertambah.
Bukan berarti hak istri pertama menghilang.
Bukan berarti anak-anak dari pernikahan pertama menjadi tidak penting.
Bukan berarti masa lalu harus dibuang.
Nafsu Bisa Membutakan Penilaian
Nafsu yang kuat dapat membuat seseorang melihat sesuatu secara tidak objektif.
Perempuan lain terlihat sempurna.
Istri sendiri terlihat penuh kekurangan.
Perempuan lain dianggap lebih memahami.
Istri sendiri dianggap terlalu banyak menuntut.
Perempuan lain dianggap lebih lembut.
Istri sendiri dianggap berubah.
Padahal bisa jadi perbedaannya hanya karena satu hubungan masih berada dalam masa pendekatan dan yang satu sudah berada dalam realitas rumah tangga.
Jangan membandingkan versi terbaik orang lain dengan versi lelah pasangan sendiri.
Perempuan lain mungkin tersenyum karena baru bertemu.
Istri mungkin terlihat diam karena sudah bertahun-tahun menanggung berbagai beban rumah tangga.
Perempuan lain mungkin memberikan perhatian karena hubungan masih penuh harapan.
Istri mungkin sedang lelah mengurus anak, rumah, keluarga, dan berbagai persoalan.
Perbandingan tanpa memahami konteks adalah ketidakadilan.
Ketika Nafsu Mulai Surut
Ada satu fase yang sering terjadi dalam hubungan manusia.
Apa yang dulu sangat menarik, lama-kelamaan menjadi sesuatu yang biasa.
Kecantikan yang dahulu membuat hati berdebar menjadi pemandangan sehari-hari.
Perhatian yang dahulu membuat bahagia menjadi kebiasaan.
Hal yang dahulu dikejar mati-matian akhirnya menjadi bagian dari rutinitas.
Di sinilah seseorang diuji.
Apakah ia masih mampu mencintai ketika sensasi baru sudah hilang?
Apakah ia masih mampu menghargai ketika rasa penasaran sudah selesai?
Apakah ia masih mampu menjaga ketika tidak lagi merasakan gejolak seperti awal perkenalan?
Inilah perbedaan antara nafsu dan cinta yang matang.
Nafsu mengejar sensasi.
Cinta yang matang belajar bertanggung jawab.
Nafsu bertanya:
"Apa yang bisa saya dapatkan?"
Cinta bertanya:
"Apa yang bisa saya berikan?"
Pernikahan Harus Menghasilkan Ketenangan
Tujuan rumah tangga bukan sekadar mendapatkan kepuasan.
Rumah tangga seharusnya menjadi tempat memperoleh ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat.
Karena itu, seseorang harus berhati-hati agar keinginan pribadi tidak justru menghilangkan ketenteraman keluarga.
Jika setelah menikah dengan perempuan lain seorang lelaki menjadi semakin jauh dari Allah, semakin sering berbohong, semakin banyak menyembunyikan sesuatu, semakin sering menzalimi keluarganya, dan semakin sulit memenuhi kewajiban, maka ia perlu berhenti dan melakukan evaluasi terhadap dirinya.
Bukan berarti semua persoalan rumah tangga dapat disederhanakan menjadi satu penyebab.
Namun setiap orang perlu melakukan muhasabah.
Apakah keputusan yang saya ambil membuat saya semakin bertanggung jawab atau justru semakin mengikuti hawa nafsu?
Jangan Memburu Perempuan, Kejarlah Kebaikan
Lelaki yang matang tidak mengukur keberhasilan hidupnya dari berapa banyak perempuan yang mampu ia miliki.
Ia mengukur keberhasilannya dari seberapa baik ia menjalankan amanah.
Memiliki banyak perhatian dari perempuan bukan prestasi.
Mampu membuat banyak perempuan tertarik bukan ukuran kemuliaan.
Yang menjadi ukuran adalah bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang telah mempercayakan hidupnya kepadanya.
Seorang suami harus belajar menjadi tempat aman bagi keluarganya.
Bukan sumber ketakutan.
Bukan sumber ketidakpastian.
Bukan seseorang yang terus membuat istri merasa dibandingkan.
Kepada Lelaki yang Baru Menikah dengan Perempuan Lain
Jika engkau baru menikah dengan perempuan lain, jangan merasa bahwa kehidupanmu telah selesai pada saat akad.
Justru perjalanan baru saja dimulai.
Jaga perempuan yang telah menjadi istrimu.
Hormati keluarganya.
Penuhi kewajibanmu.
Jangan abaikan istri sebelumnya jika engkau masih memiliki tanggung jawab kepadanya.
Jangan biarkan anak-anak menjadi korban keputusan orang dewasa.
Jangan menjadikan nafsu sebagai alasan untuk terus mencari perempuan berikutnya.
Belajarlah merasa cukup.
Belajarlah bersyukur.
Belajarlah mencintai dengan dewasa.
Dan jika suatu hari rasa tertarik kepada perempuan lain muncul lagi, jangan langsung menganggap bahwa perasaan itu harus diwujudkan.
Tidak setiap keinginan harus dituruti.
Ada keinginan yang harus dikendalikan.
Ada godaan yang harus ditinggalkan.
Ada perasaan yang harus dikembalikan kepada Allah.
Di situlah nilai perjuangan seorang lelaki.
Lelaki Sejati Bukan yang Menaklukkan Banyak Perempuan
Lelaki sejati bukanlah lelaki yang mampu mendapatkan banyak perempuan.
Lelaki sejati adalah lelaki yang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kesempatan.
Ia mampu berkata "tidak" kepada godaan.
Ia mampu menahan diri ketika keinginan muncul.
Ia mampu menjaga amanah ketika tidak ada orang yang melihat.
Ia mampu tetap jujur ketika kebohongan mungkin lebih mudah.
Ia mampu menjaga hati pasangan meskipun dirinya memiliki banyak pilihan.
Sebab kekuatan seorang lelaki bukan hanya terletak pada kemampuan mendapatkan.
Kekuatan juga terlihat dari kemampuan menahan diri.
Penutup: Setelah Nafsu, Apa yang Tersisa?
Pada akhirnya, setiap manusia harus menghadapi kenyataan bahwa nafsu memiliki batas.
Rasa tertarik bisa berubah.
Kecantikan akan mengalami perubahan.
Usia akan berjalan.
Tubuh akan menua.
Sensasi yang dahulu begitu kuat bisa menjadi biasa.
Lalu apa yang tersisa?
Yang tersisa adalah akhlak.
Yang tersisa adalah kesetiaan.
Yang tersisa adalah tanggung jawab.
Yang tersisa adalah kasih sayang.
Yang tersisa adalah amal.
Dan yang paling penting, yang tersisa adalah pertanggungjawaban kepada Allah.
Maka sebelum seorang lelaki menikah dengan perempuan lain, jangan hanya bertanya:
"Apakah saya menginginkannya?"
Tanyakan:
"Apakah saya siap bertanggung jawab kepadanya?"
Jangan hanya bertanya:
"Apakah saya mencintainya?"
Tanyakan:
"Apakah saya mampu memperlakukannya dengan baik ketika cinta sedang diuji?"
Jangan hanya bertanya:
"Apakah dia membuat saya bahagia?"
Tanyakan:
"Apakah saya juga mampu membuatnya merasa aman dan dihormati?"
Dan setelah pernikahan berlangsung, jangan terus hidup dalam pengejaran terhadap rasa baru.
Belajarlah menikmati nikmat yang telah Allah berikan.
Karena manusia yang tidak belajar bersyukur akan selalu merasa kurang.
Hari ini ia menginginkan satu perempuan.
Besok ingin perempuan lain.
Setelah itu mencari yang berikutnya.
Akhirnya ia memiliki banyak keinginan tetapi kehilangan ketenangan.
Nafsu berkata: "Tambahkan lagi."
Iman berkata: "Cukupkan dirimu dengan yang halal dan tunaikan amanahmu."
Nafsu berkata: "Cari yang lebih menarik."
Akhlak berkata: "Hargai orang yang telah mempercayakan hidupnya kepadamu."
Nafsu berkata: "Ikuti perasaanmu."
Akal dan agama berkata: "Pertimbangkan akibatnya."
Maka jangan sampai seorang lelaki mengejar perempuan lain karena nafsu, lalu kehilangan keluarga yang telah dibangunnya.
Jangan sampai sesuatu yang awalnya dianggap kebahagiaan justru berubah menjadi sumber luka bagi banyak orang.
Dan jangan sampai seseorang sibuk mencari cinta baru, sementara ia belum selesai menjalankan tanggung jawab terhadap cinta yang telah dipercayakan kepadanya.
Sebab menikah bukan sekadar mendapatkan seseorang yang kita inginkan.
Menikah adalah menerima seseorang sebagai amanah.
Dan amanah tidak cukup hanya dicintai.
Amanah harus dijaga.
Pada akhirnya, bukan berapa banyak perempuan yang pernah hadir dalam hidup seorang lelaki yang akan menentukan kemuliaannya.
Melainkan seberapa baik ia menjaga hati, menunaikan kewajiban, mengendalikan nafsu, berlaku adil, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan di hadapan Allah.
Jangan biarkan nafsu menentukan arah hidup.
Biarkan iman memimpin, akal mempertimbangkan, dan tanggung jawab menyempurnakan.
Karena setelah gejolak nafsu berlalu, yang akan tinggal adalah kenyataan:
siapa yang kita sakiti, siapa yang kita bahagiakan, amanah apa yang kita tunaikan, dan bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.