Negeri Bihari: Jejak Sejarah Besar yang Menunggu Perhatian Zaman
Perjalanan pulang ke kampung melalui jalur Krueng Raya bukan sekadar perjalanan melewati jalan dan hamparan alam. Setiap tikungan menyimpan cerita panjang tentang peradaban, perjuangan, dan kejayaan masa lalu yang pernah tumbuh di tanah Aceh.
Selama sepuluh tahun terakhir, perjalanan menuju Laweueng melewati beberapa negeri yang memiliki akar sejarah penting dalam perjalanan Aceh. Dari kawasan bekas Kerajaan Lamuri seperti Beureunuet, Lampanah, hingga Leungah, kemudian memasuki wilayah perbatasan Pedir, sampailah pada sebuah negeri yang menyimpan banyak cerita: Bihari atau Biheue.
Di negeri inilah dua Gunung Seulawah, Agam dan Inong, berdiri kokoh seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang sejarah besar. Alamnya indah, tanahnya kaya cerita, dan masyarakatnya menyimpan warisan perjuangan yang tidak boleh dilupakan.
Bihari bukan sekadar nama sebuah wilayah. Ia adalah bagian dari perjalanan peradaban Aceh yang memiliki hubungan dengan dunia luar. Sejarah mencatat bahwa kawasan pesisir Aceh sejak dahulu menjadi jalur penting perdagangan dan pertukaran ilmu pengetahuan dengan berbagai bangsa, termasuk India dan Arab.
Hubungan tersebut tidak hanya membawa perkembangan ekonomi, tetapi juga membuka ruang pertukaran budaya, pendidikan, dan pemikiran. Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban yang dikenal luas karena keterbukaannya terhadap dunia.
Namun, sejarah tidak hanya berbicara tentang kejayaan perdagangan dan ilmu pengetahuan. Sejarah juga mencatat keberanian para pejuang yang mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajahan.
Salah satu nama besar yang lahir dari Negeri Bihari adalah Potjut Meurah Intan Biheue, seorang pejuang perempuan yang menjadi simbol keberanian dan keteguhan hati. Dalam catatan sejarah perjuangan Aceh melawan Belanda, ia dikenal sebagai sosok yang tidak gentar menghadapi pasukan kolonial.
Keberanian Potjut Meurah Intan menggambarkan bahwa perjuangan mempertahankan tanah air bukan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Perempuan Aceh juga memiliki peran besar dalam sejarah perlawanan. Dengan semangat yang kuat, ia terus memimpin perjuangan hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Blora.
Kisah perjuangannya seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi hari ini. Bahwa keberanian, keteguhan, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran adalah nilai yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Namun, sejarah besar sering kali berhadapan dengan kenyataan pahit. Di tengah kebanggaan terhadap masa lalu, masih terdapat persoalan pembangunan yang membutuhkan perhatian.
Dalam perjalanan melewati Negeri Bihari, terlihat kondisi jalan yang seakan tidak banyak berubah selama bertahun-tahun. Jembatan yang rusak di perbatasan Negeri Kalee, sisi jalan yang mengalami longsor, serta permukaan jalan yang berlubang menjadi gambaran bahwa infrastruktur dasar masih membutuhkan perhatian serius.
Ironisnya, sebuah negeri yang memiliki nilai sejarah besar masih harus menghadapi persoalan akses yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Jalan bukan hanya sebagai penghubung tempat, tetapi juga penghubung ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan masa depan generasi.
Perbaikan infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik. Jalan yang baik adalah bentuk penghargaan terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Jalan yang aman membuka peluang ekonomi, memudahkan aktivitas warga, serta menjaga agar daerah bersejarah tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Negeri yang pernah melahirkan pejuang seperti Potjut Meurah Intan seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Bukan karena ingin mengistimewakan sebuah daerah, tetapi karena sejarah adalah bagian dari identitas bangsa yang harus dirawat.
Jangan sampai generasi muda mengenal nama-nama besar dalam sejarah hanya melalui buku, tetapi tidak melihat bagaimana kondisi tempat yang menjadi saksi perjuangan mereka.
Melestarikan sejarah tidak cukup hanya dengan membuat catatan atau mengenang tokoh perjuangan setiap tahun. Pelestarian sejarah juga harus diwujudkan melalui pembangunan nyata, menjaga lingkungan, memperbaiki akses, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bihari memiliki potensi besar. Keindahan alam, nilai sejarah, dan budaya masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk pengembangan daerah apabila dikelola dengan baik. Wisata sejarah, pendidikan budaya, serta ekonomi lokal dapat berkembang jika didukung oleh infrastruktur yang memadai.
Perjalanan melewati Negeri Bihari memberikan pelajaran bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Sejarah adalah tanggung jawab masa kini untuk diwariskan kepada masa depan.
Potjut Meurah Intan dan para pejuang lainnya telah memberikan warisan berupa keberanian. Tugas generasi sekarang adalah menjaga warisan tersebut melalui kerja nyata.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengingat perjuangannya, tetapi juga bangsa yang mampu menghargai tempat-tempat yang menjadi saksi perjuangan itu.
Negeri Bihari memiliki cerita besar dari masa lalu. Kini, tantangannya adalah memastikan negeri yang pernah melahirkan pejuang besar tidak dilupakan oleh pembangunan zaman. Sejarah harus dihormati bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perhatian dan tindakan nyata.