SEJARAH PERJALANAN HIDUP MENUJU KEMATIAN
Setiap manusia memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Kita lahir tanpa membawa apa-apa, tumbuh dalam pelukan keluarga, belajar mengenal dunia, mengejar cita-cita, mencari rezeki, membangun keluarga, meraih kedudukan, mengumpulkan harta, dan berusaha menemukan kebahagiaan.
Namun, di balik panjangnya perjalanan itu terdapat satu kepastian yang tidak dapat dihindari: setiap perjalanan kehidupan pada akhirnya akan sampai pada kematian.
Sejak manusia dilahirkan, sebenarnya waktu sedang berjalan menuju sebuah akhir. Masa kanak-kanak berlalu, masa muda berganti menjadi dewasa, kekuatan perlahan berkurang, rambut berubah warna, dan tubuh yang dahulu kuat akhirnya membutuhkan istirahat.
Manusia sering sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah ada.
Kita mengejar jabatan seolah-olah jabatan akan selamanya menjadi milik kita. Kita mengejar harta seolah-olah semua kekayaan dapat dibawa ketika meninggalkan dunia. Kita mengejar penghormatan manusia, tetapi terkadang lupa mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanggungjawaban yang jauh lebih besar.
Padahal, kematian tidak pernah bertanya apakah seseorang kaya atau miskin, memiliki jabatan atau rakyat biasa, terkenal atau tidak dikenal.
Kematian adalah perjalanan yang pasti dilalui setiap manusia.
Karena itu, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi tentang apa yang kita lakukan selama diberi kesempatan untuk hidup.
Ada orang yang hidupnya panjang tetapi sedikit meninggalkan kebaikan. Ada pula yang hidupnya tidak terlalu lama, tetapi namanya tetap dikenang karena ilmu, perjuangan, kepedulian, dan kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain.
Maka jangan ukur keberhasilan hidup hanya dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh.
Ukurlah juga dari berapa banyak orang yang pernah kita bantu, berapa banyak hati yang pernah kita bahagiakan, berapa banyak kesalahan yang telah kita perbaiki, dan berapa banyak kebaikan yang masih dapat kita tinggalkan setelah kita tiada.
Hidup adalah perjalanan. Dunia adalah tempat persinggahan. Kematian adalah kepastian.
Ketika waktunya tiba, rumah yang besar tidak dapat menemani. Jabatan tidak dapat menyelamatkan. Harta tidak dapat dibawa seluruhnya. Popularitas tidak lagi berarti.
Yang tersisa adalah jejak kehidupan dan segala sesuatu yang telah kita perbuat.
Karena itu, selagi masih diberikan umur, jangan terlalu sibuk membenci. Jangan terlalu mudah menyakiti. Jangan menggunakan kekuasaan untuk menzalimi. Jangan sombong karena hari ini berada di atas.
Sebab kita semua sedang berjalan menuju tempat yang sama.
Hari ini kita menyaksikan orang lain pergi.
Suatu hari nanti, orang lain akan menyaksikan kita pergi.
Maka perbaikilah hubungan dengan sesama. Mintalah maaf ketika bersalah. Maafkan ketika mampu. Gunakan ilmu untuk memberi manfaat. Gunakan harta untuk kebaikan. Gunakan jabatan untuk melayani, bukan menindas.
Jangan menunggu tua untuk berubah menjadi baik. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai seseorang.
Sebab tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.
Pada akhirnya, manusia tidak dapat memilih bagaimana ia dilahirkan, tetapi masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana ia menjalani kehidupan.
Hiduplah dengan baik, tinggalkan kebaikan, dan persiapkan diri untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Karena kehidupan dunia hanyalah satu perjalanan, dan setiap perjalanan pada akhirnya akan menemukan tempat untuk berhenti.
Yang pergi akan menjadi kenangan.
Yang tinggal akan melanjutkan perjalanan.
Dan setiap manusia akhirnya akan sampai pada kematian.