uLSN08P13StNRpu8zdLBsXY8k4kNVrJ45iKXYMFb
Bookmark

Tunangan dan Petaka di Masa Menunggu Pernikahan

Tunangan dan Petaka di Masa Menunggu Pernikahan


Oleh:  Azhari 

Pertunangan sering kali dipandang sebagai kabar bahagia. Dua insan yang telah sepakat untuk melangkah menuju pernikahan mulai memperkenalkan diri sebagai pasangan yang akan segera membangun rumah tangga. Keluarga berkumpul, doa dipanjatkan, rencana pernikahan disusun, dan hari bahagia mulai dihitung.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: pertunangan bukanlah pernikahan.

Di antara hari pertunangan dan hari akad terdapat sebuah ruang waktu yang sangat penting. Ruang waktu itu seharusnya digunakan untuk mengenal pasangan lebih dalam, menguji kesungguhan, menyelesaikan persoalan, dan mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga.

Sayangnya, masa menunggu tersebut tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bagi sebagian pasangan, masa tunangan justru menjadi periode munculnya persoalan yang sebelumnya tidak terlihat. Kecemburuan, konflik keluarga, masalah ekonomi, komunikasi yang buruk, campur tangan orang lain, bahkan hubungan dengan pihak ketiga dapat muncul sebelum pernikahan dilaksanakan.

Di sinilah kita perlu bertanya: apakah pertunangan benar-benar menjadi jalan menuju pernikahan, atau justru menjadi awal dari sebuah petaka?

Ketika Status Tunangan Disalahartikan

Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah perubahan sikap setelah seseorang bertunangan. Status sebagai calon suami atau calon istri kadang ditafsirkan sebagai hak untuk menguasai kehidupan pasangan.

Telepon genggam mulai diperiksa. Pertemanan mulai diatur. Media sosial diawasi. Setiap pesan dipertanyakan. Setiap keterlambatan membalas pesan dianggap sebagai tanda kecurangan.

Padahal, pertunangan tidak memberikan hak kepada seseorang untuk menghilangkan privasi dan kebebasan pasangannya.

Hubungan yang sehat membutuhkan kepercayaan. Jika sejak masa pertunangan hubungan sudah dipenuhi kecurigaan dan pengawasan, maka pasangan perlu berhenti sejenak dan melihat persoalan tersebut dengan jernih.

Cinta bukan kepemilikan.

Mencintai seseorang berarti menghargai dirinya sebagai manusia yang memiliki kehendak, tanggung jawab, keluarga, pekerjaan, serta kehidupan sosial.

Pertunangan seharusnya mengajarkan dua orang untuk berjalan berdampingan, bukan berjalan dengan satu pihak berada di depan sebagai pengendali dan pihak lainnya hanya mengikuti.

Era Digital: Mempertemukan Sekaligus Memisahkan

Kehadiran teknologi digital membuat komunikasi menjadi semakin mudah. Pasangan yang berjauhan dapat berbicara setiap saat. Foto, video, pesan, dan berbagai aktivitas dapat dibagikan dalam hitungan detik.

Tetapi kemudahan itu juga membawa persoalan baru.

Sebuah komentar di media sosial dapat menimbulkan kecemburuan. Sebuah pesan dari orang lain dapat menjadi sumber pertengkaran. Percakapan pribadi dapat disalahartikan. Bahkan aktivitas yang sebenarnya sederhana dapat menjadi persoalan besar ketika tidak dikomunikasikan dengan baik.

Media sosial juga sering menciptakan ilusi tentang kehidupan yang sempurna.

Pasangan melihat orang lain yang tampak bahagia, romantis, memiliki rumah indah, pekerjaan bagus, dan kehidupan yang terlihat tanpa masalah. Kemudian tanpa sadar mereka membandingkan hubungan sendiri dengan kehidupan yang ditampilkan orang lain di internet.

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Tidak semua kebahagiaan dipublikasikan. Tidak semua masalah terlihat. Tidak semua foto menggambarkan kenyataan.

Karena itu, pasangan yang sedang bertunangan perlu berhati-hati. Jangan membangun keputusan besar berdasarkan apa yang terlihat di layar.

Kenalilah pasangan dalam kehidupan nyata, bukan hanya melalui dunia digital.

Masa Tunangan Adalah Masa Menguji Kesungguhan

Pertunangan seharusnya tidak hanya menjadi masa menunggu hari pernikahan.

Ia harus menjadi masa untuk bertanya dan menjawab berbagai persoalan penting.

Bagaimana pasangan menghadapi masalah?

Bagaimana ia memperlakukan orang tua?

Bagaimana sikapnya terhadap pekerjaan?

Bagaimana cara mengelola uang?

Bagaimana ia menghadapi perbedaan pendapat?

Apakah ia mampu meminta maaf?

Apakah ia mampu mengendalikan emosi?

Apakah ia menghargai batasan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mempersiapkan gedung, pakaian pengantin, undangan, dan pesta.

Sebab, pesta pernikahan hanya berlangsung sehari. Rumah tangga berlangsung bertahun-tahun, bahkan sepanjang kehidupan.

Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana pasangan memperlakukan kita ketika suasana sedang bahagia. Perhatikan pula bagaimana ia bersikap ketika marah, kecewa, tertekan, atau menghadapi persoalan.

Di situlah karakter seseorang sering kali terlihat.

Jangan Menutup Mata Karena Sudah Bertunangan

Ada pasangan yang menemukan persoalan serius setelah pertunangan, tetapi memilih diam karena merasa semuanya sudah terlanjur.

Undangan mungkin sudah direncanakan. Keluarga sudah diberi tahu. Persiapan pernikahan sudah berjalan. Bahkan mungkin sebagian biaya sudah dikeluarkan.

Akibatnya, ketika muncul persoalan, mereka merasa tidak memiliki pilihan selain tetap melanjutkan pernikahan.

Cara berpikir seperti itu perlu dipertimbangkan kembali.

Mengakui adanya masalah sebelum menikah bukan berarti gagal. Justru keberanian untuk mengakui masalah dapat menjadi bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.

Pernikahan tidak seharusnya dilakukan hanya karena takut mengecewakan keluarga atau malu kepada masyarakat.

Masyarakat mungkin hanya melihat acara pernikahan. Tetapi pasanganlah yang akan menjalani kehidupan setelah pesta selesai.

Karena itu, keputusan menikah harus didasarkan pada kesiapan dan pertimbangan yang matang.

Lebih Baik Menunda daripada Menyesal

Ada kalanya persoalan dalam masa tunangan membutuhkan waktu untuk diselesaikan.

Menunda pernikahan bukan selalu berarti membatalkan hubungan. Terkadang penundaan diperlukan agar kedua pihak dapat menyelesaikan persoalan dengan tenang.

Lebih baik menunda beberapa waktu untuk memastikan kesiapan daripada terburu-buru menikah kemudian menghadapi persoalan yang jauh lebih berat.

Tidak ada pernikahan yang sempurna. Setiap pasangan pasti memiliki perbedaan. Namun, ada perbedaan yang dapat dibicarakan dan ada persoalan yang memerlukan perhatian serius.

Kuncinya adalah kejujuran.

Jangan menyembunyikan persoalan hanya demi mempertahankan citra hubungan.

Jika ada masalah ekonomi, bicarakan.

Jika ada persoalan keluarga, bicarakan.

Jika ada ketidakpercayaan, bicarakan.

Jika ada perbedaan tujuan hidup, bicarakan.

Jika ada sesuatu yang membuat hati ragu, jangan abaikan begitu saja.

Keraguan bukan selalu tanda bahwa hubungan harus berakhir. Tetapi keraguan adalah alasan untuk berhenti sejenak dan melakukan introspeksi.

Cinta Saja Tidak Cukup

Kita sering mendengar kalimat bahwa pernikahan harus dilandasi cinta.

Kalimat itu benar, tetapi cinta saja tidak cukup.

Rumah tangga juga membutuhkan tanggung jawab, kesetiaan, kemampuan berkomunikasi, kesabaran, pengelolaan ekonomi, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kesediaan untuk saling menghormati.

Cinta mungkin membuat dua orang ingin bersama.

Tetapi kedewasaanlah yang membuat mereka mampu bertahan menghadapi kehidupan bersama.

Seseorang mungkin sangat mencintai pasangannya, tetapi jika tidak mampu menghargai, tidak mampu mengendalikan emosi, tidak bertanggung jawab, atau tidak jujur, maka cinta tersebut akan menghadapi banyak tantangan.

Karena itu, masa pertunangan harus digunakan untuk mempersiapkan lebih dari sekadar perasaan.

Persiapkan karakter.

Persiapkan mental.

Persiapkan ekonomi.

Persiapkan komunikasi.

Persiapkan hubungan dengan keluarga.

Dan yang tidak kalah penting, persiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik.

Jangan Menikah Karena Tekanan

Salah satu alasan seseorang tetap melanjutkan pernikahan meskipun memiliki keraguan adalah tekanan sosial.

Ada yang takut dianggap mempermalukan keluarga. Ada yang takut menjadi bahan pembicaraan. Ada yang merasa usia sudah cukup. Ada yang takut kehilangan pasangan. Ada pula yang merasa karena pertunangan sudah diumumkan kepada banyak orang, maka pernikahan harus tetap dilaksanakan.

Padahal, pernikahan bukan sebuah pertunjukan untuk memenuhi penilaian orang lain.

Masyarakat hanya hadir ketika akad dan pesta berlangsung. Setelah itu, pasangan akan kembali ke kehidupan mereka sendiri.

Yang menjalani kehidupan rumah tangga adalah suami dan istri.

Karena itu, keputusan menikah harus dilakukan dengan kesadaran, bukan semata-mata karena tekanan.

Menjaga Batas Selama Pertunangan

Ada hal lain yang juga penting: menjaga batas selama masa pertunangan.

Karena belum menjadi suami istri, pasangan yang bertunangan tetap perlu menjaga kehormatan dan batas pergaulan masing-masing.

Jangan karena merasa sudah memiliki komitmen, lalu semua batas dianggap boleh dilanggar.

Menjaga batas bukan berarti tidak mencintai. Justru menjaga batas merupakan bentuk penghormatan terhadap pasangan dan terhadap pernikahan yang sedang dipersiapkan.

Pertunangan seharusnya menjadi masa untuk memperkuat niat baik, bukan kesempatan untuk mengambil hak-hak yang baru seharusnya ada setelah pernikahan.

Ketika Masalah Sudah Menjadi Petaka

Petaka dalam masa tunangan tidak selalu datang dalam bentuk perpisahan.

Kadang petaka berupa luka batin yang berkepanjangan.

Kadang berupa hilangnya kepercayaan.

Kadang berupa konflik antara dua keluarga.

Kadang berupa persoalan ekonomi yang baru diketahui setelah hubungan berjalan jauh.

Kadang berupa hubungan dengan orang ketiga.

Kadang pula berupa keputusan menikah yang dilakukan secara terburu-buru hanya karena takut kehilangan.

Karena itu, pasangan perlu belajar mengenali tanda-tanda masalah sejak awal.

Jangan menunggu masalah menjadi besar baru kemudian mencari solusi.

Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki masalah. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu menghadapi masalah dengan cara yang dewasa.

Jangan Takut Bertanya Sebelum Menikah

Sebelum mengucapkan janji pernikahan, pasangan sebaiknya berani membicarakan berbagai persoalan mendasar.

Apa tujuan hidup masing-masing?

Bagaimana kehidupan ekonomi setelah menikah?

Di mana akan tinggal?

Bagaimana hubungan dengan kedua keluarga?

Bagaimana pembagian tanggung jawab?

Bagaimana cara menyelesaikan konflik?

Bagaimana penggunaan media sosial?

Bagaimana menjaga batas dengan orang lain?

Bagaimana menghadapi perbedaan pendapat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terasa serius, tetapi justru diperlukan.

Pernikahan adalah keputusan besar. Maka, wajar apabila keputusan tersebut dipersiapkan dengan serius.

Pernikahan Bukan Akhir dari Perjuangan

Banyak orang menganggap bahwa setelah menikah semua persoalan akan selesai.

Padahal, pernikahan justru merupakan awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Setelah pernikahan, akan ada persoalan pekerjaan, ekonomi, keluarga, tempat tinggal, kesehatan, anak, pendidikan, dan berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Karena itu, pasangan harus memiliki kemampuan untuk bekerja sama.

Tidak ada pasangan yang selalu sepakat dalam segala hal. Perbedaan pasti ada.

Yang penting bukan bagaimana menghilangkan semua perbedaan, tetapi bagaimana mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.

Pertunangan Harus Menjadi Ruang Kejujuran

Pertunangan adalah kesempatan untuk membuka diri.

Jangan membangun pernikahan di atas kebohongan.

Jangan menyembunyikan sesuatu yang secara wajar akan memengaruhi kehidupan rumah tangga.

Kejujuran mungkin terasa berat pada awalnya, tetapi kebohongan yang terbongkar setelah menikah dapat menimbulkan persoalan yang jauh lebih besar.

Pasangan yang ingin membangun rumah tangga harus berani berkata jujur, sekaligus belajar menerima kejujuran.

Kejujuran bukan berarti membuka semua hal tanpa batas. Kejujuran berarti tidak sengaja menyembunyikan hal-hal penting yang dapat memengaruhi keputusan pasangan untuk menikah.

Penutup: Jangan Terburu-buru Menuju Pelaminan

Pertunangan adalah janji untuk menuju pernikahan, bukan jaminan bahwa pernikahan pasti harus terjadi dalam keadaan apa pun.

Masa menunggu pernikahan harus dimanfaatkan untuk memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar matang.

Jangan terburu-buru hanya karena takut kehilangan.

Jangan menikah hanya karena malu membatalkan.

Jangan menikah hanya karena keluarga sudah merencanakan.

Dan jangan pula menikah hanya karena dunia maya telah mengetahui hubungan tersebut.

Pernikahan adalah keputusan dua manusia yang akan menjalani kehidupan bersama.

Karena itu, masa pertunangan harus digunakan untuk mengenal, memahami, memperbaiki, dan mempersiapkan diri.

Jangan sampai cincin pertunangan yang seharusnya menjadi simbol kesungguhan justru berubah menjadi simbol keterpaksaan. Jangan sampai masa menunggu pernikahan menjadi masa menutup mata terhadap persoalan yang sebenarnya sudah terlihat.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa cepat seseorang sampai ke pelaminan, tetapi seberapa matang ia mempersiapkan kehidupan setelah pelaminan.

Sebab pesta pernikahan hanya berlangsung sehari.

Namun, kehidupan setelahnya akan menjadi perjalanan panjang yang harus dijalani bersama.

Nasihat sederhana bagi mereka yang sedang bertunangan:

Jangan terburu-buru mengejar hari pernikahan. Gunakan masa pertunangan untuk memastikan bahwa orang yang akan menjadi pasangan hidup bukan hanya orang yang kita cintai, tetapi juga orang yang mampu bersama-sama membangun kehidupan dengan kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, kesabaran, dan saling menghormati.

Sebab lebih baik berhenti sejenak untuk memastikan langkah, daripada berjalan tergesa-gesa menuju sebuah kehidupan yang sejak awal tidak benar-benar siap dijalani.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar