uLSN08P13StNRpu8zdLBsXY8k4kNVrJ45iKXYMFb
Bookmark

WASIAT UNTUK ISTRIKU


“Kutitipkan Anak Kita, Lanjutkan Perjuangan dengan Ilmu, Agama, dan Pengabdian”

Istriku yang kucintai,

Jika suatu hari aku tidak lagi berada di sisimu, jangan hanya kenang aku sebagai seorang suami yang pernah menemanimu dalam suka dan duka.

Kenanglah aku sebagai seseorang yang pernah memiliki cita-cita besar untuk keluarga kita.

Cita-cita itu sederhana, tetapi sangat berat untuk diwujudkan:

Aku ingin anak kita tumbuh menjadi manusia yang mengenal Allah, mencintai ilmu, berakhlak mulia, mencintai agama, dan bermanfaat bagi bangsa serta masyarakat.

Karena itu, jika suatu hari aku pergi lebih dahulu, ada satu amanah yang ingin kutitipkan kepadamu.

Kutitipkan anak kita kepadamu.

Bukan sekadar untuk dibesarkan.

Bukan sekadar untuk disekolahkan.

Tetapi untuk dididik menjadi manusia yang memiliki ilmu dan iman.

Aku ingin engkau menjadi ibu yang terus menanamkan dalam hatinya bahwa kehidupan ini bukan hanya tentang mencari harta, kedudukan, atau popularitas.

Ajarkan kepadanya bahwa manusia hidup untuk beribadah kepada Allah dan memberikan manfaat kepada sesama.


Istriku, Jangan Hanya Besarkan Tubuhnya, Besarkan Juga Jiwanya

Anak kita kelak akan tumbuh.

Tubuhnya akan besar.

Usianya akan bertambah.

Ia akan mengenal dunia yang semakin luas.

Ia akan bertemu banyak orang.

Ia akan mendapatkan berbagai macam pengaruh.

Karena itu, jangan hanya pastikan ia kenyang.

Pastikan juga hatinya mendapatkan makanan.

Makanan bagi tubuh adalah makanan.

Tetapi makanan bagi jiwa adalah iman dan ilmu.

Ajarkan kepadanya membaca Al-Qur'an.

Ajarkan kepadanya shalat.

Ajarkan kepadanya menghormati orang tua.

Ajarkan kepadanya kejujuran.

Ajarkan kepadanya kesabaran.

Ajarkan kepadanya keberanian membela kebenaran.

Ajarkan kepadanya rendah hati ketika berhasil.

Ajarkan kepadanya tidak berputus asa ketika gagal.

Dan ajarkan kepadanya bahwa ilmu yang dimiliki bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk memberikan manfaat.


Jangan Biarkan Ia Kehilangan Arah

Istriku,

Dunia akan menawarkan banyak jalan kepada anak kita.

Ada jalan yang mudah tetapi belum tentu benar.

Ada jalan yang ramai tetapi belum tentu membawa kebaikan.

Ada jalan yang menjanjikan harta tetapi menghilangkan prinsip.

Ada jalan yang membuat seseorang terkenal tetapi kehilangan ketenangan.

Karena itu, aku berharap engkau selalu mengingatkannya:

Jangan mengejar dunia sampai kehilangan akhirat.

Boleh menjadi orang kaya.

Boleh menjadi orang sukses.

Boleh menjadi orang berpendidikan tinggi.

Boleh menjadi pemimpin.

Boleh memiliki kedudukan.

Tetapi jangan pernah kehilangan iman dan akhlak.

Ajarkan kepadanya bahwa setinggi apa pun pendidikan seseorang, ia tetap harus tunduk kepada kebenaran.

Sebanyak apa pun hartanya, ia tetap harus mengenal rasa syukur.

Setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap harus menghormati orang lain.


Kutitipkan Perjuangan Ini Kepadamu

Istriku,

Mungkin suatu hari nanti aku tidak sempat melihat anak kita dewasa.

Mungkin aku tidak sempat melihat ia menyelesaikan pendidikannya.

Mungkin aku tidak sempat menyaksikan ia berdiri di tengah masyarakat.

Mungkin aku tidak sempat melihat ia menjadi seseorang yang berguna.

Jika hari itu benar-benar datang, jangan biarkan cita-cita kita berhenti.

Lanjutkan perjuangan itu.

Jika dahulu kita bercita-cita agar anak kita belajar agama, teruskan.

Jika dahulu kita ingin ia mencintai ilmu, teruskan.

Jika dahulu kita berharap ia menjadi manusia yang bermanfaat, teruskan.

Jangan katakan:

"Ayahmu sudah tidak ada, maka cita-cita itu selesai."

Katakan kepadanya:

"Ayahmu mungkin telah pergi, tetapi nasihat dan cita-citanya harus tetap hidup dalam dirimu."

Biarkan ia mengetahui bahwa ayahnya pernah mempunyai harapan besar terhadap dirinya.

Bukan untuk membuatnya hidup dalam tekanan.

Tetapi agar ia mengetahui bahwa hidupnya memiliki tanggung jawab.


Ilmu Agama Jangan Pernah Ditinggalkan

Istriku,

Jika engkau harus memilih antara membesarkan anak yang hanya pandai mencari dunia dengan anak yang memiliki ilmu dan akhlak, aku berharap engkau mengutamakan pendidikan yang membentuk jiwanya.

Dunia ini membutuhkan orang-orang berilmu.

Tetapi ilmu tanpa akhlak dapat menjadi bencana.

Karena itu, jangan hanya mengejar gelar.

Ajarkan ia adab.

Jangan hanya mengejar kecerdasan.

Ajarkan ia ketakwaan.

Jangan hanya mengejar pekerjaan.

Ajarkan ia tanggung jawab.

Jangan hanya mengajarkan bagaimana memperoleh sesuatu.

Ajarkan pula bagaimana berbagi.

Aku ingin anak kita memahami agama dengan baik.

Bukan agar ia merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Tetapi agar ia menjadi manusia yang rendah hati.

Bukan agar ia mudah menyalahkan orang lain.

Tetapi agar ia mampu membedakan yang benar dan yang salah dengan ilmu dan kebijaksanaan.

Bukan agar ia suka berdebat.

Tetapi agar ia mampu memberikan manfaat.


Jadikan Ilmu Sebagai Jalan Pengabdian

Istriku,

Sampaikan kepada anak kita kelak:

Ilmu bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan.

Ilmu adalah amanah.

Jika ia belajar ilmu agama, jadikan ilmu itu sebagai cahaya bagi dirinya dan orang lain.

Jika ia belajar ilmu umum, gunakan ilmu itu untuk membangun masyarakat.

Jika ia menjadi guru, jadilah guru yang mendidik dengan hati.

Jika ia menjadi ulama, jadilah ulama yang bijaksana.

Jika ia menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang amanah.

Jika ia menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur.

Jika ia menjadi pekerja, jadilah pekerja yang bertanggung jawab.

Jika ia menjadi apa pun dalam kehidupan ini, pastikan ia tidak kehilangan prinsip.

Agama menjadi pedoman, ilmu menjadi bekal, dan pengabdian menjadi jalan hidup.


Berjuang untuk Agama, Bangsa, dan Kemanusiaan

Istriku,

Aku ingin anak kita memahami bahwa mencintai agama tidak berarti membenci orang lain.

Mencintai bangsa tidak berarti merendahkan bangsa lain.

Berjuang untuk masyarakat bukan berarti mencari permusuhan.

Ajarkan kepadanya perjuangan yang memiliki ilmu.

Perjuangan yang memiliki akhlak.

Perjuangan yang menghormati hukum dan manusia.

Perjuangan yang membawa kemaslahatan.

Jika kelak ia mampu membantu orang miskin, bantulah.

Jika ia mampu mendidik masyarakat, didiklah.

Jika ia mampu membangun lembaga pendidikan, bangunlah.

Jika ia mampu menjadi orang yang berguna bagi bangsa, jadilah.

Tetapi jangan pernah mengajarkan kepadanya bahwa perjuangan harus selalu dengan kekerasan.

Ajarkan bahwa pena juga bisa menjadi senjata ilmu.

Pendidikan juga merupakan perjuangan.

Kejujuran juga merupakan perjuangan.

Mendidik satu anak menjadi manusia baik juga merupakan perjuangan.

Membantu orang yang kesusahan juga merupakan perjuangan.

Menjaga persatuan masyarakat juga merupakan perjuangan.

Dan bekerja dengan jujur demi kemaslahatan orang banyak juga merupakan pengabdian.


Jangan Jadikan Anak Sebagai Beban Masa Lalu

Istriku,

Jika aku pergi lebih dahulu, mungkin engkau akan merasa sangat berat.

Mungkin engkau akan menangis.

Mungkin engkau akan merasa sendirian.

Tetapi jangan biarkan anak kita merasa bahwa kepergianku adalah akhir dari kehidupannya.

Jangan terlalu sering membuatnya hidup dalam kesedihan.

Ceritakan tentang ayahnya secukupnya.

Ceritakan tentang kebaikan yang pernah kita perjuangkan.

Ceritakan tentang cita-cita yang pernah kita bangun.

Tetapi jangan membuatnya tumbuh dengan kebencian atau dendam.

Biarkan ia tumbuh dengan cinta.

Biarkan ia mendoakan ayahnya.

Dan jika suatu hari ia berhasil, katakan kepadanya:

"Nak, keberhasilanmu bukan hanya untuk dirimu. Gunakanlah untuk kebaikan."


Istriku, Engkau Adalah Madrasah Pertama Anak Kita

Aku tahu tugasmu tidak mudah.

Menjadi ibu bukan pekerjaan ringan.

Ada malam-malam ketika engkau harus terjaga.

Ada saat ketika anak sakit.

Ada masa ketika biaya pendidikan terasa berat.

Ada saat ketika anak memberontak.

Ada ketika ia salah memilih teman.

Ada ketika ia kehilangan semangat.

Pada saat-saat seperti itu, bersabarlah.

Jangan menyerah dalam mendidiknya.

Ingatlah bahwa seorang ibu bukan hanya melahirkan seorang anak.

Seorang ibu ikut menentukan bagaimana anak tersebut mengenal kehidupan.

Rumah adalah sekolah pertama.

Dan engkau adalah salah satu guru pertama yang akan dikenangnya.

Karena itu, ajarkan dengan kasih sayang.

Tegur jika salah.

Peluk ketika ia sedih.

Dengarkan ketika ia berbicara.

Doakan ketika ia tertidur.

Dan ketika ia berhasil, jangan lupa mengingatkan bahwa semua keberhasilan berasal dari pertolongan Allah.


Jangan Takut Jika Perjuangan Terasa Berat

Istriku,

Mungkin akan ada masa ketika engkau merasa:

"Aku tidak sanggup."

Ketika itu terjadi, berdoalah.

Jangan hanya mengandalkan kekuatanmu sendiri.

Mintalah pertolongan kepada Allah.

Jika lelah, beristirahatlah.

Jika sedih, menangislah di hadapan Allah.

Jika bingung, mintalah nasihat kepada orang-orang yang amanah dan berilmu.

Engkau tidak harus menjadi manusia yang sempurna.

Engkau hanya perlu terus berusaha.

Aku tidak meminta engkau menjadi ibu tanpa kesalahan.

Aku hanya berharap engkau tidak berhenti berjuang.


Pesan untuk Anak Kita

Dan jika suatu hari anak kita membaca tulisan ini, dengarkan pesan ayahmu:

Nak,

Ayah mungkin tidak selalu berada di sampingmu.

Tetapi ayah ingin engkau membawa doa dan harapan ayah dalam perjalanan hidupmu.

Belajarlah.

Jangan pernah berhenti mencari ilmu.

Hormati ibumu.

Jaga keluargamu.

Jangan sombong ketika berhasil.

Jangan menyerah ketika gagal.

Jangan menjual prinsip demi dunia.

Jangan gunakan ilmu untuk menipu manusia.

Jangan gunakan kekuatan untuk menindas.

Jangan gunakan kedudukan untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak benar.

Jadilah manusia yang bermanfaat.

Jika engkau menjadi orang berilmu, gunakan ilmumu.

Jika engkau menjadi orang kaya, gunakan hartamu untuk kebaikan.

Jika engkau menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang amanah.

Jika engkau menjadi rakyat biasa, jadilah rakyat yang baik.

Apa pun jalan hidupmu, jangan tinggalkan Allah.

Dan jangan pernah lupa:

Ibumu telah berjuang membesarkanmu.

Hormati dia.

Jaga dia.

Doakan dia.

Jangan biarkan ia merasa sendirian setelah menghabiskan hidupnya untuk membesarkanmu.


Perjuangan Tidak Boleh Berhenti pada Satu Generasi

Istriku,

Aku menyadari bahwa manusia akan pergi.

Tetapi cita-cita yang baik tidak boleh ikut mati.

Jika hari ini kita mendidik anak dengan ilmu, mungkin suatu hari ia akan mendidik anaknya lagi.

Jika hari ini kita menanamkan iman, mungkin suatu hari iman itu akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jika hari ini kita mengajarkan pengabdian, mungkin suatu hari ia akan mengabdi kepada masyarakat.

Itulah perjuangan yang sesungguhnya.

Bukan tentang nama kita yang dikenal.

Tetapi tentang kebaikan yang tetap hidup setelah kita tiada.

Aku tidak ingin anak kita menjadi terkenal hanya karena nama ayahnya.

Aku ingin ia dikenal karena akhlaknya.

Aku tidak ingin ia dihormati hanya karena kedudukan.

Aku ingin ia dihormati karena manfaat yang diberikannya.

Aku tidak ingin ia menjadi orang besar hanya di hadapan manusia.

Aku ingin ia menjadi manusia yang bernilai di hadapan Allah.


Penutup: Kutitipkan Amanah Ini Kepadamu

Istriku,

Jika suatu hari aku tidak lagi bisa menggenggam tanganmu, aku titipkan satu amanah.

Kutitipkan anak kita.

Jaga hatinya.

Jaga pendidikannya.

Jaga agamanya.

Jaga akhlaknya.

Bimbing ia mencintai ilmu.

Ajarkan ia mencintai kebenaran.

Ajarkan ia menghormati manusia.

Dan tanamkan dalam dirinya semangat untuk memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Jika kelak ia menjadi orang besar, jangan biarkan ia lupa kepada Allah.

Jika ia menjadi orang sederhana, jangan biarkan ia merasa rendah diri.

Jika ia gagal, ajarkan ia bangkit.

Jika ia berhasil, ajarkan ia bersyukur.

Jika ia tersesat, tuntun ia kembali.

Jika ia jatuh, rangkul ia.

Dan jika suatu hari nanti ia berdiri membawa ilmu dan pengabdian, lihatlah ia dengan bangga.

Katakan kepadanya:

"Nak, teruskan perjuangan yang baik. Jangan hidup hanya untuk dirimu sendiri."

Sebab mungkin itulah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan.

Bukan rumah yang megah.

Bukan harta yang banyak.

Bukan jabatan yang tinggi.

Tetapi seorang anak yang berilmu, beriman, berakhlak, dan mau berjuang memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Istriku, jika suatu hari aku pergi, jangan hanya menangis karena kehilangan.

Lanjutkanlah doa.

Jika rindu, doakan aku.

Jika sedih, ingatlah cita-cita kita.

Jika lelah, ingatlah amanah yang kita tinggalkan.

Dan jika anak kita kelak menjadi manusia yang baik, berilmu, beriman, serta bermanfaat bagi banyak orang, mungkin di situlah kita akan merasakan bahwa perjuangan kita tidak pernah sia-sia.

Karena manusia boleh pergi.

Tetapi ilmu yang diajarkan, akhlak yang diwariskan, dan kebaikan yang ditanamkan dapat terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itulah wasiatku kepadamu.

Kutitipkan anak kita.

Didiklah dengan ilmu.

Besarkan dengan iman.

Bimbing dengan kasih sayang.

Dan arahkan langkahnya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Semoga Allah menjaga kalian ketika aku masih ada, dan menjaga kalian jika suatu hari aku telah tiada.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.


Penulis 

Azhari 

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar