HUJAN DI DUNIA, AYAH DI KUBUR
Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat
... menit baca
*Ketika hujan turun, rindu kepada Ayah kembali mengguyur hati yang belum selesai menerima kehilangan.*
Hari ini hujan turun membasahi bumi. Langit tampak mendung, angin berembus perlahan, dan suara rintik hujan seolah membawa kembali kenangan tentang seseorang yang begitu berarti dalam hidupku: Ayah.
Ayah, di saat hujan seperti ini, pikiranku selalu tertuju kepadamu. Aku membayangkan tanah yang basah, dedaunan yang jatuh, dan pusaramu yang kini menjadi tempat peristirahatanmu.
Ayah, apakah engkau tahu betapa kami merindukanmu?
Dahulu, ketika hujan turun, masih ada suaramu yang mengingatkan kami agar menjaga diri. Masih ada sosokmu yang membuat rumah terasa hangat, meskipun di luar dingin dan gelap.
Namun, kini semuanya berbeda.
Hujan tetap turun, tetapi Ayah tak lagi pulang. Pintu rumah masih terbuka, tetapi tak ada langkah kakimu yang terdengar. Kami masih bisa memanggil namamu, tetapi tak ada lagi jawaban yang bisa kami dengar.
**Hujan di dunia, Ayah di kubur. Kami basah oleh air hujan, sementara hati kami basah oleh air mata kerinduan.**
Ada begitu banyak cerita yang ingin kami sampaikan kepadamu. Ada keberhasilan yang ingin kami tunjukkan, ada kesedihan yang ingin kami ceritakan, dan ada pelukan yang ingin kami rasakan sekali lagi.
Namun, kematian telah membatasi semuanya. Kami hanya bisa berdiri di hadapan pusaramu, menundukkan kepala, mengirimkan doa, dan berharap Allah melimpahkan rahmat kepadamu.
Ayah, maafkan kami jika dahulu terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa menikmati waktu bersamamu. Maafkan kami jika pernah membantah nasihatmu, membuatmu kecewa, atau belum sempat membalas segala pengorbananmu.
Kini kami mengerti, kehilangan seorang ayah bukan sekadar kehilangan seseorang dalam keluarga. Kami kehilangan tempat bertanya, tempat bersandar, dan salah satu sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.
**Ayah, hujan ini akan reda, tetapi entah kapan rindu ini akan selesai.**
Mungkin kami akan belajar tersenyum kembali. Mungkin kami akan terbiasa menjalani hari tanpa kehadiranmu. Namun, ada bagian dari hati kami yang akan selalu menyimpan namamu.
Ya Allah, saat hujan membasahi bumi, kami memohon kepada-Mu, limpahkanlah rahmat dan ampunan kepada ayah kami. Lapangkanlah kuburnya, terangilah tempat peristirahatannya, dan terimalah segala amal kebaikannya.
Ayah, beristirahatlah dengan tenang. Kami akan melanjutkan kehidupan ini dengan membawa kenangan dan nasihatmu.
Jika kelak kami kembali merindukanmu di tengah hujan, biarlah doa menjadi bahasa cinta yang kami kirimkan kepadamu.
**Hujan di dunia, Ayah di kubur.**
*Jarak antara kami dan Ayah kini bukan lagi sejauh perjalanan, melainkan batas kehidupan. Kami hanya mampu menunggu, berdoa, dan berharap semoga Allah mempertemukan kami kembali di surga-Nya.*
*Al-Fatihah untuk Ayah tercinta.* 🤲
Sebelumnya
...
Berikutnya
...