MENELUSURI SEJARAH PEUSANGAN: DARI KENEGGERIAN HINGGA PUSAT PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN
Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat
... menit baca
**Oleh: Azhari, S.Sy., M.H.**
*Sejarah Peusangan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan yang harus diselamatkan dari hilangnya ingatan generasi.*
Peusangan merupakan salah satu wilayah bersejarah di Kabupaten Bireuen, Aceh. Wilayah ini memiliki jejak pemerintahan tradisional, tokoh uleebalang, perkembangan pendidikan Islam, dan kehidupan pertanian yang ikut membentuk perjalanan masyarakat Aceh.
Namun, seberapa jauh generasi hari ini mengenal sejarah Peusangan? Siapa tokoh yang memimpin wilayah ini pada masa lalu? Bagaimana Matangglumpangdua berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pendidikan? Dan di mana peninggalan sejarah yang masih dapat ditelusuri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui penelitian, dokumen sejarah, kesaksian keluarga, serta peninggalan yang masih dapat diperiksa.
## 1. Peusangan dalam catatan sejarah
Dalam literatur sejarah Aceh, Peusangan dikenal sebagai sebuah *kenegerian* yang memiliki pemerintahan tradisional dengan pemimpin bergelar uleebalang atau Ampon Chik. Istilah ini lebih tepat digunakan daripada langsung menyebut Peusangan sebagai kerajaan yang berdiri sendiri, sebab bentuk dan kedudukan pemerintahannya perlu dipahami berdasarkan sumber sejarah pada masanya.
Buku *Bireuen Kota Juang* memuat pembahasan tentang Kenegerian Peusangan dan riwayat tokoh-tokoh yang memimpin wilayah tersebut. Sementara itu, buku *Biografi Teuku Chiek Peusangan* yang diterbitkan pada 2013 menjadi salah satu rujukan untuk menelusuri riwayat kepemimpinan tradisional Peusangan.
Kedua sumber ini dapat menjadi titik awal penelitian lebih lanjut mengenai struktur pemerintahan, silsilah pemimpin, dan perkembangan wilayah Peusangan.
## 2. Teuku Chiek Muhammad Djohan Alamsjah
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Peusangan adalah Teuku Muhammad Djohan Alamsjah, yang dikenal sebagai Teuku Chiek Peusangan atau Ampon Chik Peusangan.
Berdasarkan buku *Biografi Teuku Chiek Peusangan*, ia lahir pada 25 Juni 1890 di Pulo Iboh. Ayahnya adalah Teuku Chiek Sjamaun, sedangkan ibunya bernama Potjut Unggaih.
Riwayat tokoh ini penting karena kepemimpinan uleebalang bukan hanya berkaitan dengan kekuasaan tradisional, tetapi juga dengan hubungan sosial, ekonomi, pendidikan, dan perubahan politik pada masa kolonial.
Dalam kajian sejarah, peran seorang tokoh harus dinilai berdasarkan tindakan, kebijakan, dokumen, serta kesaksian yang dapat diverifikasi. Dengan demikian, penulisan sejarah Peusangan tidak berhenti pada penyebutan nama tokoh, tetapi juga menjelaskan kontribusi dan konteks zamannya.
## 3. Matangglumpangdua dan perkembangan masyarakat
Matangglumpangdua memiliki posisi penting dalam perkembangan Peusangan. Sejumlah tulisan sejarah daerah mengaitkan pertumbuhan kawasan ini dengan kepemimpinan Ampon Chik Peusangan serta perkembangan kegiatan ekonomi masyarakat.
Sektor pertanian, khususnya persawahan, merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Peusangan. Pengembangan pengairan dan peningkatan produktivitas pertanian ikut membentuk perkembangan ekonomi wilayah tersebut.
Salah satu pembangunan yang sering dikaitkan dengan masa kepemimpinan Teuku Chiek Muhammad Djohan Alamsjah adalah Bendungan Pante Lhong. Sejumlah tulisan lokal menyebut pembangunan pengairan tersebut membantu pertanian dan meningkatkan hasil panen.
Meski demikian, rincian tahun pembangunan, proses pelaksanaan, dan dampak ekonominya perlu diteliti lebih lanjut melalui arsip serta sumber teknis yang relevan.
## 4. Pendidikan Islam dan Jami'ah Almuslim
Sejarah Peusangan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan Islam.
Jami'ah Almuslim di Matangglumpangdua merupakan salah satu lembaga penting dalam perjalanan pendidikan Aceh. Sejarah pendiriannya berkaitan dengan kerja sama antara tokoh masyarakat, ulama, dan pihak yang mendukung perkembangan pendidikan.
Kajian sejarah Jami'ah Almuslim mencatat peran Teuku Haji Chik Muhammad Johan Alamsyah dalam hubungannya dengan para ulama dan perkembangan pendidikan Islam di Peusangan.
Pada 1939, Matangglumpangdua juga menjadi lokasi musyawarah ulama yang berperan dalam pembentukan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Peristiwa tersebut memperlihatkan hubungan antara Peusangan, pendidikan Islam, dan gerakan ulama di Aceh pada awal abad ke-20.
Fakta ini menunjukkan bahwa sejarah Peusangan bukan hanya sejarah pemerintahan tradisional, tetapi juga sejarah intelektual dan pendidikan masyarakat.
5. Jejak ulama dan peninggalan sejarah
Di wilayah Peusangan Raya, berbagai tempat dan peninggalan memiliki potensi penting untuk penelitian sejarah. Salah satunya adalah rumah adat yang dikaitkan dengan Teungku Chik Awe Geutah di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.
Riwayat Teungku Chik Awe Geutah perlu didokumentasikan secara sistematis melalui penelitian terhadap peninggalan fisik, sumber tertulis, dan kesaksian keluarga maupun masyarakat setempat.
Pekerjaan ini penting karena tradisi lisan dapat mengalami perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa dokumentasi yang baik, sebagian informasi tentang tokoh dan tempat bersejarah berisiko tidak lagi diketahui secara lengkap.
6. Tantangan penulisan sejarah Peusangan
Salah satu persoalan dalam penulisan sejarah lokal adalah perbedaan antara catatan tertulis, tradisi lisan, silsilah keluarga, dan penafsiran penulis.
Karena itu, penelitian sejarah Peusangan perlu memperhatikan beberapa hal:
1. **Arsip pemerintahan:** mencari dokumen tentang pemerintahan uleebalang, batas wilayah, dan perubahan administrasi.
2. **Silsilah tokoh:** memeriksa nama, hubungan keluarga, dan urutan generasi melalui dokumen yang tersedia.
3. **Peninggalan fisik:** mendata rumah adat, makam, nisan, manuskrip, dan bangunan bersejarah.
4. **Kesaksian masyarakat:** merekam cerita para sesepuh dengan mencatat identitas sumber dan waktu wawancara.
5. **Perbandingan sumber:** mencocokkan informasi dari buku sejarah, arsip kolonial, dokumen keluarga, dan penelitian akademik.
Kisah mengenai asal-usul keturunan atau hubungan dengan kerajaan besar pada masa lampau juga perlu ditempatkan sesuai kekuatan buktinya. Cerita yang tercatat dalam sebuah buku tidak otomatis berarti semua rinciannya telah terverifikasi secara independen.
## 7. Saatnya menyusun buku sejarah Peusangan
Menurut saya, sudah waktunya masyarakat dan lembaga terkait mendorong penyusunan buku sejarah Peusangan yang lebih lengkap, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Buku tersebut idealnya mencakup:
- Asal-usul nama dan wilayah Peusangan.
- Perkembangan pemerintahan tradisional dan para uleebalang.
- Sejarah Matangglumpangdua.
- Peran ulama dan perkembangan pendidikan Islam.
- Sejarah pertanian, pengairan, perdagangan, dan kehidupan sosial.
- Perubahan pemerintahan pada masa kolonial dan setelah kemerdekaan.
- Dokumentasi situs, bangunan, makam, serta manuskrip bersejarah.
Penelitian itu sebaiknya melibatkan sejarawan, akademisi, tokoh adat, ulama, keluarga pemilik arsip, pemerintah gampong, dan generasi muda.
Dengan pendekatan tersebut, buku sejarah Peusangan tidak sekadar menjadi kumpulan cerita, tetapi menjadi sumber pengetahuan yang berguna bagi pendidikan dan pelestarian budaya.
Maka Peusangan memiliki warisan sejarah yang patut dipelajari secara serius. Jejak pemerintahan tradisional, kepemimpinan Teuku Chiek Peusangan, perkembangan Matangglumpangdua, serta peran pendidikan Islam merupakan bagian penting dari perjalanan masyarakat Aceh.
Namun, kebanggaan terhadap sejarah harus berjalan bersama tanggung jawab ilmiah. Fakta perlu dibedakan dari cerita yang belum terverifikasi, sedangkan setiap klaim sejarah harus diberi ruang untuk diperiksa melalui sumber yang relevan.
**Jangan sampai generasi Peusangan hanya mengenal nama tokoh sejarah, tetapi tidak mengetahui perjalanan, pemikiran, dan perubahan yang membentuk daerahnya.**
Sejarah tidak cukup diwariskan melalui cerita. Ia harus dicatat, diteliti, dan dibuka untuk dipelajari oleh generasi berikutnya.
**Peusangan perlu melangkah maju tanpa kehilangan ingatan terhadap akar sejarahnya.**
### Sumber data dan referensi awal
1\. Teuku Syahrizal (2013), Biografi Teuku Chiek Peusangan. Terbitan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. [Buka dokumen di Repositori Kemendikbud](https://repositori.kemendikdasmen.go.id/10817/?utm_source=chatgpt.com).
2\. \*\* Bireuen Kota Juang — bagian “Kenegerian di Kabupaten Bireuen: Peusangan”.\*\* Memuat uraian sejarah Kenegerian Peusangan dan riwayat tokoh uleebalang. [Baca dokumen](https://repositori.kemendikdasmen.go.id/21201/1/2010-Buku-Bireun%20Kota%20Juang.pdf?utm_source=chatgpt.com).
3\. Kajian sejarah Jami'ah Almuslim. Memuat informasi tentang Teuku Haji Chik Muhammad Johan Alamsyah dan hubungan tokoh masyarakat dengan perkembangan pendidikan Islam di Peusangan. [Baca bagian sejarah](https://repository.uinsu.ac.id/320/6/BAB%203.pdf?utm_source=chatgpt.com).
4\. Artikel tentang perkembangan Peusangan Raya. Membahas pembangunan pertanian dan peran pendidikan dalam perkembangan wilayah. [Baca artikel Komparatif.ID](https://komparatif.id/melanjutkan-pembangunan-peusangan-raya/?utm_source=chatgpt.com).
5\. Dokumentasi sejarah Teungku Chik Awe Geutah. Memuat informasi awal tentang rumah adat dan tradisi lisan setempat. [Baca dokumentasi GPPM Aceh](https://www.gppmaceh.com/2022/06/sejarah-singkat-tgk-chiek-di-awe-geutah.html?utm_source=chatgpt.com).
Catatan: Referensi di atas merupakan titik awal penelitian, bukan bukti bahwa seluruh klaim sejarah telah terverifikasi. Untuk naskah ilmiah atau buku resmi, setiap data kronologi, silsilah, dan klaim asal-usul perlu diperiksa langsung terhadap sumber aslinya.
Sebelumnya
...
Berikutnya
...