Di akhir zaman seperti sekarang, dunia kerja ibarat samudera luas yang ombaknya semakin tinggi. Dulu, ijazah bisa menjadi “tiket masuk” yang cukup untuk mendapat pekerjaan. Kini, ijazah hanyalah satu dari banyak syarat — bahkan terkadang kalah oleh keterampilan, jaringan, atau kreativitas. Persaingan tidak lagi hanya dengan teman sebangku atau tetangga sekampung, melainkan dengan ribuan orang di seluruh dunia.
Kita hidup di era di mana lowongan kerja semakin sedikit, tetapi pencari kerja semakin banyak. Perusahaan menginginkan tenaga yang sudah siap pakai, terampil, dan adaptif. Sementara itu, teknologi otomatisasi dan kecerdasan buatan menggantikan banyak pekerjaan rutin yang dulu menjadi andalan.
Bagi generasi hari ini, tantangannya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan alasan agar kita layak dipilih. Kejujuran, disiplin, dan kemampuan belajar cepat kini menjadi modal yang sama pentingnya dengan ilmu. Dunia kerja tidak menunggu kita siap — kita yang harus berlari mengejar, bahkan kalau perlu melompat lebih tinggi dari yang pernah kita bayangkan.
Namun, jangan sampai keterbatasan membuat kita berhenti. Kesempatan memang tidak selalu datang di depan pintu, kadang kita harus membangunnya sendiri. Jika tidak bisa menjadi karyawan, jadilah pencipta lapangan kerja. Jika tidak bisa langsung besar, mulailah dari kecil, dari apa yang ada di tangan.
Ingatlah, setiap zaman punya tantangannya sendiri, dan setiap generasi punya pahlawan-pahlawan yang lahir dari kesulitan. Bisa jadi, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, kita justru menemukan jati diri, keterampilan baru, dan jalan hidup yang lebih bermakna.
Akhir zaman bukanlah akhir harapan. Selama kita berani berjuang, belajar tanpa henti, dan tidak takut gagal, maka masa depan tetap bisa kita menangkan.
Kunci hidup di akhir zaman: Jangan hanya menjadi pencari kerja — jadilah pencipta nilai.
Penulis Azhari