Ada satu kompas moral yang sering hilang di tengah hiruk-pikuk dunia modern: harga diri.
Padahal tanpa harga diri, uang hanyalah tumpukan kertas, dan kekuasaan hanyalah kursi yang menunggu runtuh.
Di zaman ketika segalanya bisa dibeli, dinegosiasikan, dan diperdagangkan, harga diri justru menjadi barang langka. Banyak orang rela menukar kehormatan dengan jabatan, menukar integritas dengan proyek, dan menukar nurani dengan amplop.
Seolah-olah hidup hanya soal:
siapa paling kaya,
siapa paling berkuasa,
siapa paling disegani.
Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
siapa yang masih bisa menatap cermin tanpa merasa hina.
Ketika Uang Menjadi Tuhan Baru
Uang hari ini bukan lagi alat.
Ia telah berubah menjadi ukuran nilai manusia.
Orang dihormati bukan karena kejujurannya,
tetapi karena kekayaannya.
Orang didengar bukan karena kebenarannya,
tetapi karena jabatannya.
Maka lahirlah generasi yang diajari satu mantra berbahaya:
“Tidak apa-apa menghalalkan cara, yang penting sukses.”
Di titik inilah harga diri mulai mati pelan-pelan.
Korupsi dibela dengan alasan kebutuhan keluarga.
Kebohongan dibungkus dengan istilah strategi.
Pengkhianatan disebut kelicikan politik.
Semua terdengar rasional,
sampai suatu hari anak-anak bertanya:
“Ayah kerja apa sampai punya semua ini?”
Dan kita tak punya jawaban yang bersih.
Kekuasaan Tanpa Harga Diri adalah Tiran dalam Setelan Jas
Kekuasaan seharusnya menjadi alat pengabdian.
Namun di tangan orang tanpa harga diri, ia berubah menjadi senjata penindasan.
Mereka memenjarakan kritik.
Mereka membeli suara.
Mereka membungkam kebenaran.
Dan ketika diprotes, mereka berkata:
“Beginilah realitas politik.”
Tidak.
Itu bukan realitas politik.
Itu realitas orang yang kehilangan kehormatan.
Pemimpin tanpa harga diri tidak takut pada dosa,
ia hanya takut kehilangan jabatan.
Orang Miskin Bisa Terhormat, Orang Kaya Bisa Hina
Sejarah selalu membuktikan satu hal:
kemiskinan tidak otomatis membuat seseorang hina,
dan kekayaan tidak otomatis membuat seseorang mulia.
Ada buruh yang hidup pas-pasan,
tetapi tidak pernah mencuri.
Ada petani yang makan seadanya,
tetapi tidak pernah menjilat penguasa.
Ada ibu rumah tangga yang tidak punya apa-apa,
tetapi menjaga kehormatannya seperti menjaga nyawanya.
Sebaliknya,
ada pejabat bergaji miliaran yang mencuri,
ada pengusaha kaya yang menipu,
ada elite berkuasa yang menjual bangsanya sendiri.
Mereka mungkin kaya.
Mereka mungkin berkuasa.
Tapi mereka miskin harga diri.
Harga Diri: Satu-satunya Harta yang Tidak Bisa Dirampas
Semua bisa dirampas dari manusia:
rumah,
tanah,
jabatan,
uang,
bahkan kebebasan fisik.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dirampas kecuali kita menyerahkannya sendiri: harga diri.
Penjara bisa mengurung tubuh.
Kemiskinan bisa menekan hidup.
Ancaman bisa membuat gemetar.
Tapi harga diri hanya mati jika kita sendiri membunuhnya.
Dan itulah sebabnya orang-orang besar dalam sejarah
lebih memilih mati terhormat
daripada hidup hina.
Dunia yang Mengajarkan Menjual Diri
Ironi terbesar zaman ini adalah:
orang jujur dianggap bodoh,
orang berprinsip dianggap naif,
orang berharga diri dianggap tidak fleksibel.
Sebaliknya:
penjilat disebut pintar,
pembohong disebut cerdas,
pengkhianat disebut realistis.
Dunia terbalik seperti ini hanya bisa bertahan
jika masih ada orang-orang yang menolak ikut gila.
Penutup: Lebih Baik Kehilangan Segalanya daripada Kehilangan Diri Sendiri
Uang bisa habis.
Kekuasaan bisa runtuh.
Popularitas bisa lenyap.
Tapi harga diri yang hilang
jarang bisa kembali.
Lebih baik miskin tapi terhormat
daripada kaya tapi hina.
Lebih baik tidak berkuasa tapi bermartabat
daripada berkuasa tapi menjijikkan di mata sejarah.
Karena pada akhirnya,
ketika semua tepuk tangan berhenti
dan semua kursi kekuasaan kosong—
yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sunyi:
“Apakah aku hidup sebagai manusia,
atau hanya sebagai makhluk yang menjual dirinya sendiri?”
Dan di sanalah harga diri menjadi lebih utama
daripada uang dan kekuasaan.