Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Nasihat untuk Pemimpin Rakyat di Era Digital, pada Masa Gen Z

Sabtu, 10 Januari 2026 | 22:11 WIB Last Updated 2026-01-10T15:17:04Z

Memimpin di era Gen Z bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang kehadiran yang otentik. Generasi ini lahir dan tumbuh bersama gawai, algoritma, dan arus informasi yang tak pernah tidur. Mereka cepat menangkap kepalsuan, alergi pada retorika kosong, dan menuntut konsistensi antara kata dan kerja. Maka, nasihat pertama bagi pemimpin rakyat hari ini: jadilah nyata, bukan sekadar terlihat.
Gen Z menilai pemimpin dari jejak digitalnya sama seriusnya dengan kebijakan di lapangan. Satu unggahan bisa menguatkan kepercayaan; satu inkonsistensi bisa meruntuhkannya. Transparansi bukan pilihan, melainkan prasyarat. Akui keterbatasan, jelaskan proses, dan laporkan hasil—bahkan ketika hasil itu belum sempurna. Kejujuran prosedural lebih dihargai daripada janji besar tanpa bukti.
Kedua, dengarkan sebelum berbicara. Era digital memberi ruang dialog dua arah. Pemimpin yang hanya menyiarkan pesan, tanpa membuka telinga, akan ditinggal. Gen Z ingin didengar—bukan sekadar disurvei. Libatkan mereka dalam perumusan kebijakan, beri ruang partisipasi bermakna, dan hargai kritik sebagai energi perbaikan, bukan ancaman kekuasaan.
Ketiga, kelola narasi tanpa memanipulasi realitas. Media sosial adalah alat, bukan panggung pencitraan. Gunakan narasi untuk menjelaskan kebijakan, mengedukasi publik, dan menggalang kolaborasi. Hindari sensasi. Gen Z cepat membedakan empati tulus dari konten performatif. Ketika narasi selaras dengan realita, kepercayaan tumbuh; ketika tidak, krisis legitimasi mengintai.
Keempat, prioritaskan dampak nyata. Generasi ini pragmatis dan berorientasi hasil. Mereka peduli pada isu konkret: akses pendidikan, peluang kerja, kesehatan mental, lingkungan, dan keadilan digital. Kebijakan yang berdampak langsung—meski kecil—lebih bermakna daripada program megah yang jauh dari kebutuhan.
Kelima, pimpin dengan etika digital. Lindungi data warga, lawan disinformasi dengan fakta, dan jadikan literasi digital sebagai agenda kebijakan. Pemimpin yang membiarkan hoaks tumbuh sama berbahayanya dengan yang menyebarkannya. Keteladanan etika di ruang digital akan memantul ke ruang sosial.
Keenam, rawat empati lintas generasi. Jembatani pengalaman generasi lama dengan energi Gen Z. Jangan meremehkan idealisme mereka; arahkan dengan kebijaksanaan. Kepemimpinan hari ini adalah seni merangkul perbedaan tempo dan bahasa, tanpa kehilangan tujuan bersama.
Akhirnya, ingatlah: di mata Gen Z, legitimasi lahir dari konsistensi nilai, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan belajar. Kekuasaan yang tak mau belajar akan tertinggal oleh zaman. Pemimpin yang mau bertumbuh akan diikuti. Di era digital, kepemimpinan bukan tentang seberapa keras suara Anda terdengar, melainkan seberapa jauh dampak Anda dirasakan.