Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Pernikahan karena Nafsu yang Membawa Petaka

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:14 WIB Last Updated 2026-02-28T21:16:10Z
Di tengah derasnya arus media sosial, kisah cinta hari ini sering diproduksi dengan sangat singkat—dipertemukan oleh layar, dipercepat oleh perasaan, dan diputuskan oleh hasrat. Banyak orang menyebutnya cinta, padahal yang sedang berkuasa sebenarnya adalah nafsu. Dari situlah sebuah pernikahan dilahirkan. Bukan dari kesiapan, bukan dari kesadaran, apalagi dari tanggung jawab.
Pernikahan karena nafsu memang tampak indah di awal. Seolah dunia sedang berpihak. Seolah semua rintangan bisa diatasi hanya dengan kalimat, “yang penting kita saling cinta.” Namun sejarah sosial kita menunjukkan satu hal yang pahit: cinta yang hanya ditopang oleh emosi sesaat sering berakhir menjadi petaka yang panjang.
Nafsu bukan sekadar soal ketertarikan fisik. Nafsu juga bisa berbentuk dorongan ingin segera memiliki, takut kehilangan, takut sendirian, ingin membuktikan diri, atau sekadar ingin keluar dari tekanan keluarga dan lingkungan. Semua harus cepat. Semua harus sekarang.
Sayangnya, pernikahan bukan ruang uji coba perasaan.
Ia adalah institusi sosial, hukum, dan moral. Ia memikul nasib dua keluarga, masa depan anak-anak, serta tanggung jawab ekonomi dan psikologis yang tidak ringan.
Di Aceh—sebagaimana di banyak daerah lain—kita semakin sering menyaksikan pernikahan yang terjadi karena desakan emosi, lalu runtuh hanya dalam hitungan bulan atau beberapa tahun. Yang tersisa bukan hanya perceraian di meja pengadilan, tetapi luka sosial yang jauh lebih panjang: perempuan yang harus membesarkan anak sendiri, anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah, serta trauma yang diwariskan secara diam-diam.
Masalahnya bukan pada pernikahannya.
Masalahnya pada fondasi yang rapuh sejak awal.
Pernikahan yang dibangun karena nafsu cenderung mengabaikan pertanyaan-pertanyaan paling mendasar:
Apakah kami siap secara mental?
Apakah kami mampu secara ekonomi?
Apakah kami sejalan dalam nilai hidup, agama, dan cara mendidik anak?
Apakah kami mampu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering kalah berarti dibanding rasa rindu, cemburu, dan euforia cinta.
Lebih berbahaya lagi, nafsu sering menyamar sebagai takdir.
Kalimat seperti “sudah jodoh” kerap dijadikan pembenaran untuk menutup ruang berpikir. Padahal jodoh tidak pernah membebaskan manusia dari kewajiban ikhtiar. Dalam pernikahan, ikhtiar itu bernama persiapan.
Di banyak kasus, pasangan baru menyadari kerasnya realitas setelah tinggal satu atap. Tagihan listrik, biaya kontrakan, susu anak, cicilan motor, kebutuhan orang tua, konflik dengan mertua, hingga perbedaan cara beribadah dan bergaul—semuanya muncul tanpa kompromi. Nafsu tidak pernah mengajarkan cara bertahan dalam situasi seperti ini.
Yang lebih menyedihkan, ketika konflik datang, pihak yang paling menderita hampir selalu perempuan dan anak.
Secara sosial, perempuan masih memikul beban moral yang lebih berat. Ia dituntut sabar, menahan, dan menerima. Ketika pernikahan runtuh, ia pula yang harus menjelaskan kepada lingkungan, mengurus anak, dan memulai hidup dari nol.
Di ruang hukum, negara sesungguhnya telah berupaya membangun sistem perlindungan melalui pencatatan perkawinan dan pembinaan pranikah yang dikelola oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Namun sayangnya, sebagian masyarakat masih menganggap tahapan tersebut sebagai formalitas semata—bahkan ada yang memilih jalan pintas melalui pernikahan tidak tercatat.
Di titik inilah nafsu benar-benar berubah menjadi petaka.
Ketika pernikahan tidak dicatat, ketika kesepakatan hanya dibangun atas dasar “yang penting sah menurut kami”, maka saat terjadi perceraian, kekerasan, atau kematian, perempuan dan anak berada dalam posisi yang sangat rentan. Nafkah tidak jelas, hak waris kabur, dan administrasi anak menjadi rumit.
Ironisnya, semua itu jarang dipikirkan saat pernikahan hendak dilangsungkan.
Yang dipikirkan hanya satu: bagaimana segera bersama.
Dalam konteks Aceh, pernikahan seharusnya menjadi ruang ibadah sosial, bukan sekadar pelampiasan perasaan. Nilai-nilai adat dan syariat yang kita banggakan selama ini sesungguhnya mengajarkan kehati-hatian, musyawarah keluarga, dan pertimbangan matang sebelum dua insan disatukan.
Namun realitas hari ini justru menunjukkan gejala sebaliknya. Generasi muda semakin berani memutuskan pernikahan tanpa restu, tanpa kesiapan, bahkan tanpa keterbukaan kepada orang tua. Bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka terjebak pada narasi romantik yang membungkus nafsu sebagai kebebasan.
Padahal kebebasan tanpa tanggung jawab hanya melahirkan penderitaan baru.
Petaka terbesar dari pernikahan karena nafsu bukanlah perceraian itu sendiri. Petaka terbesarnya adalah rusaknya cara pandang generasi terhadap makna pernikahan. Pernikahan direduksi menjadi proyek kebahagiaan pribadi, bukan lagi komitmen sosial dan moral.
Ketika pernikahan gagal, anak-anak tumbuh dengan pengalaman konflik yang tidak mereka pahami. Mereka belajar bahwa pertengkaran adalah bahasa sehari-hari. Mereka menyerap kecemasan, kemarahan, dan ketidakstabilan sebagai sesuatu yang normal. Di situlah lingkaran petaka sosial mulai berulang.
Maka, yang perlu kita luruskan bukan hanya perilaku individu, tetapi cara berpikir kolektif.
Kita perlu berani mengatakan bahwa tidak semua cinta harus segera dinikahkan. Kita perlu jujur mengakui bahwa menunda pernikahan demi mempersiapkan diri jauh lebih bermartabat daripada menikah cepat lalu meninggalkan tanggung jawab.
Cinta yang matang tidak takut diuji oleh waktu.
Cinta yang hanya berisi nafsu justru takut menghadapi realitas.
Sudah saatnya kita mengajarkan kepada generasi muda bahwa pernikahan bukan pelarian dari sepi, bukan tiket keluar dari tekanan keluarga, dan bukan alat untuk melegalkan hasrat. Pernikahan adalah kesediaan untuk memikul beban hidup orang lain, bahkan ketika perasaan sedang tidak sedang berbunga.
Jika pernikahan dibangun di atas nafsu, maka yang lahir hanyalah euforia singkat.
Namun jika pernikahan dibangun di atas kesiapan, nilai, dan tanggung jawab, maka ia menjadi ruang tumbuh—bukan ruang luka.
Karena pada akhirnya, cinta sejati bukan tentang seberapa cepat kita menikah, melainkan seberapa sanggup kita bertahan ketika nafsu telah lama pergi, dan hanya tanggung jawab yang tersisa.