Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Sebelum Terlambat: Pemerintah Aceh Harus Fokus Menjaga Alam Aceh

Kamis, 25 Juni 2026 | 01:11 WIB Last Updated 2026-06-24T18:12:06Z


Aceh dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Hutan yang luas, gunung yang menjulang, sungai yang mengalir dari hulu ke hilir, serta keanekaragaman hayati yang menjadi kebanggaan bukan hanya bagi Aceh, tetapi juga bagi Indonesia dan dunia. Namun kekayaan tersebut bukanlah jaminan akan tetap lestari selamanya.

Di berbagai daerah, masyarakat mulai merasakan dampak perubahan lingkungan. Banjir yang semakin sering, longsor, berkurangnya sumber air bersih, hingga rusaknya kawasan hutan menjadi peringatan bahwa alam memiliki batas kemampuan untuk menanggung tekanan akibat aktivitas manusia.

Karena itu, Pemerintah Aceh harus menjadikan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama pembangunan. Kemajuan ekonomi memang penting, investasi juga dibutuhkan, tetapi pembangunan yang mengorbankan kelestarian alam hanya akan menciptakan keuntungan jangka pendek dan kerugian jangka panjang.

Hutan yang hilang tidak mudah dikembalikan. Sungai yang tercemar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Ketika bencana datang akibat kerusakan lingkungan, biaya yang harus ditanggung masyarakat jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang pernah diperoleh dari eksploitasi sumber daya alam.

Aceh pernah dikenal sebagai daerah yang memiliki kawasan hutan penting di Pulau Sumatra. Kawasan ini bukan hanya menjadi rumah bagi berbagai satwa langka, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga kehidupan masyarakat. Jika benteng alam ini rusak, maka ancaman terhadap kehidupan rakyat akan semakin besar.

Pemerintah Aceh perlu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, meningkatkan rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai, serta memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Masyarakat juga harus dilibatkan sebagai mitra dalam menjaga alam, bukan sekadar menjadi penonton.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak daerah menyesal setelah kerusakan lingkungan terjadi. Ketika hutan telah gundul, sungai telah keruh, dan bencana telah datang, penyesalan tidak mampu mengembalikan keadaan seperti semula.

Karena itu, langkah terbaik adalah bertindak sekarang. Menjaga alam bukan berarti menolak pembangunan, melainkan memastikan bahwa pembangunan berlangsung secara bijaksana dan berkelanjutan.

Jangan sampai generasi mendatang mewarisi cerita tentang Aceh yang pernah hijau, pernah indah, dan pernah kaya akan alamnya. Tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa keindahan dan kekayaan itu tetap hidup untuk anak cucu di masa depan. Sebab ketika alam Aceh hancur, penyesalan tidak akan mampu membangun kembali apa yang telah hilang.