Air Asin yang Tidak Tawar, Pasca Bencana Bireuen Pasrah"
"
Bencana tidak berhenti ketika air mulai surut. Bagi sebagian masyarakat Bireuen, persoalan baru justru muncul setelahnya: bagaimana mendapatkan kembali kebutuhan dasar, terutama air bersih. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi masalah ketika sumber air tercemar, sumur tidak bisa digunakan, dan masyarakat terpaksa bertahan dengan kondisi yang serba terbatas. Banjir di Bireuen sebelumnya juga berdampak pada sejumlah wilayah dan menyebabkan rumah serta fasilitas masyarakat terdampak.
Ironisnya, setelah bencana berlalu, rakyat sering kali kembali menghadapi kesunyian. Mereka bukan hanya kehilangan harta benda, tetapi juga kehilangan kepastian: kapan air bersih kembali tersedia, kapan pemulihan berjalan, dan siapa yang benar-benar bertanggung jawab memastikan kehidupan mereka kembali normal.
Air asin yang tidak tawar menjadi simbol bahwa masalah pasca bencana bukan hanya tentang genangan air, tetapi tentang lemahnya kesiapan dan keberlanjutan penanganan. Pemerintah daerah tidak cukup hanya hadir saat tanggap darurat dengan bantuan sesaat. Yang dibutuhkan masyarakat adalah rencana pemulihan yang jelas, penyediaan air bersih, perbaikan infrastruktur, serta sistem mitigasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Bireuen memiliki pemerintah yang memiliki kewenangan dan anggaran. Maka pertanyaan rakyat sederhana: apakah setelah bencana masyarakat harus kembali berjuang sendiri, atau pemerintah benar-benar hadir membawa solusi?
Bencana memang datang tanpa diundang, tetapi penderitaan berkepanjangan setelah bencana adalah sesuatu yang bisa dikurangi dengan kepemimpinan yang siap dan bekerja.
**Jangan biarkan rakyat Bireuen hanya belajar menerima bencana. Pemerintah harus belajar mencegah, merespons, dan memulihkan. Karena air bersih bukan kemewahan, tetapi hak dasar setiap warga.**