MENGUAK TABIR MAKAM PENDIRI KENEGERIAN PASAI TH 1524 M…?MENGUAK TABIR MAKAM PENDIRI KENEGERIAN PASAI TH 1524 M
Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat
... menit baca
Pada Manuskrip kitab Bustanussalatin (Istana Para Raja) karangan Syech Nuruddin bin Muhammad Ali Arranir bin Hasanji bin Muhammad Hamid yg ditulis pada masa Sultan Iskandar Tsani (1637-1641) disebutkan bahwa keturunan raja-raja Pasai terdiri dari 3 jalur nasabnya, yaitu :
1. Langsung dari negeri Hadramaut Yaman melalui Tu Poraja Chiek Yamani Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani bertarikh 868 Hijriyah cicit Saydina Hasan RA.
2. Melalui jalur marga Al Habsyi, yg berasal dari Dinasty Abbasiyah Irak.
3. Jalur dinasty Sasanid persia (negeri Rum) melalui Pangeran Shahriansyah Salman dari Kerajaan Jeumpa (877 M), yg bercampur dgn klan dinasty Abbasiyah, Irak.
Ketiga jalur tersebut bermuara pada Bani Hasyim dan Dinasti Mamluk di Afrika Utara dan negeri Syam Yaman yg membentuk keturunan raja2x di Aceh. Ketiga jalur nasab inilah yg membentuk Sukee Tok Batee salah satu suku yg membentuk etnis Aceh selain Sukee Lhee Reutoeh (Gayo dan Alas), Sukee Peut Reutoeh (Hindi Dravida) dan Sukee Imeum Peut (akulturasi 3 suku tsb).
Dalam arakata Pasee sanat 1243 Hijriyah yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Cut Nyak Husein, salah seorang Tuha Peut dari negeri Keujruen Kanang (Keujruen Kandang), Cunda disebutkan bahwa Tu Poraja Chik Yamani Pasee merupakan bapak pendiri Kenegerian Pasai setelah era dinasty Samudera Pasai.
Kenegerian Pasai merupakan salah satu negeri otonom dimasa era Kesultanan Aceh Darusalam yg didirikan pd th 1524 M. Tentunya dalam hal ini timbul pertanyaan, kalau memang benar Tu Poraja Chik Yamani Pasee tokoh pendiri kenegeriaan Pasai, dimana letak makamnya sekarang…?
Untuk menjawab pertanyaan tsb, saya coba menganalisis berdasarkan sesuai fakta sejarah yg ada.
Dalam arakata ulee balang Blang Me, Geudong, tokoh ini disebut dgn Syech Syareh Yamani. Dalam arakata ulee balang Samakuroek, Blang Jruen, tokoh ini disebut dgn Tgk Syareh Yamani. Dalam arakata negeri Geudong, tokoh ini disebut Tgk MadSyech.
Dalam kitab Bustanussalatin yg membahas tentang Sejarah dan Ketatanegaraan Kerajaan Aceh Darussalam tokoh ini disebut dgn nama Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani.
Dalam Hikayat Tanah-Tanah Besar Melayu fasal Negeri Perak (Kedah, Malaysia ) dimana Sultan Perak pertama yg dilantik langsung oleh Sultanah Sri Ratu Safiatuddinsyah juga masih keturunannya disebut dgn Syech Muhammad Yamani.
Dalam Hikayat ini disebutkan bahwa suku Angkola dan Mandailing yg menetap di Sumatera Timur disebut dgn Batak Yamani. Apakah mereka juga masih keturunan Syech Muhammad Yamani belum ditemukan bukti yg shahih tetapi yg jelas mereka mengenal agama islam karena di bawa oleh musafir dari negeri Yaman.
Dalam Lembaran negara. (Statblaad) pemerintah Hindia Belanda, tokoh ini disebut dgn Tgk Syareh. Bahkan Stamenhoose sendiri, seorang kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala pemerintah Hindia Belanda di Aceh yg pernah melakukan penelitian terhadap makam-makam kuno pd th 1910 diwilayah Pasai tdk berhasil mengidentifikasi kaligrafi dan epitaf yg tertulis di nisan tsb.
Stamenhoose hanya mendapatkan informasi dari masyarakat setempat bahwa itu adalah makam Tgk Syareh seorang ulama besar yg berasal dari Negeri Yaman. Sejarahwan Aceh yg juga. Guru Besar Sejarah UGM Alm. Prof. Teuku Ibrahim Alfian juga gagal mengidentifikasi makam anonim tsb yg terletak di Jalan Medan- Banda Aceh, Meunasah Mancang, Geudong, Aceh Utara.
Sedangkan menurut versi pemerintah kabupaten Aceh Utara Cq pemerintah Republik Indonesia makam anonim tersebut diberi nama (nomenklatur) dgn Makam Sayyid Syarief sbg tanda telah ditetapkan situs warisan cagar budaya non benda oleh pemerintah setempat.
Bentuk nisan Tgk Syareh yg berbentuk keranda batu hampir sama dgn bentuk nisan Ratu Nahrasiyah bin Sultan Zainal Abidin I dan Nisan Pangeran Saidi Abdullah Muhammad Shabilul Al Khabir keturunan Sultan Mu’tazim Billah, sultan terakhir dari Dinasty Abbasiyah, Irak.
Beliau hijrah ke pasai pada abad ke 15 Masehi yg kuburannya terletak di Gampoeng Blang Me, Geudong.
Dari semua sumber yg disebutkan di atas semua tdk dijelaskan siapa tokoh ini dan hanya menyebutkan tokoh dalam arakata tsb adalah indatu dan moyang mereka di wilayah Pasee.
Siapa sebenarnya tokoh ini..?
Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi.
Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke negeri pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
Pada th 1518 Sultan Zainal Abidin wafat dan berakhirlah era kesultanan Samudera Pasai dgn muncul kesultanan baru Kesultanan Aceh Darusalam pd th 1512 yg berpusat di Bandar Aceh Darussalam yg didirikan oleh Raja Sherla (Tgk Chik Sherla) bin Sultan SyamsuSyah dgn gelar Sultan Ali Mughayatsyah Zillullah Fil Alam.
Raja Sherla Merupakan abang kandung dari Raja Ibrahim. Raja Ibrahim juga merupakan ayahanda dari Putroe Beutong, permaisuri Sultan Zainal Abidin III Ra Ubabdar yg tak lain adalah ibunda dari Sultan Zainal Abidin IV, sultan terakhir Kerajaan Samudera Pasai yg wafat pd th 1518.
Menurut Manuskrip Hikayat Atjeh, Raja Ibrahim berseteru dgn kemenakannya sendiri Sultan Salahuddin hingga beliau dibunuh oleh kemenakannya.
Pada tahun 1524 Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani resmi di tunjuk oleh Sultan Aceh sbg wali negeri Pasai dgn gelar “Tu Poraja Chik Yamani Pasee”.
Dari sinilah keturunan ulee balang wilayah Pasee, Jeumpa, Tamiang, Mereudue Pidie, Daya, Lingge Gayo, Meulaboh dan Tapak Tuan diturunkan dgn sebutan “Keturunan Hulubalang Mukim Tujuh”.
Menurut arakata di bawah ini keturunan Tu Poraja Chik Yamani menyebar ke 7 wilayah (hulubalang mukim 7) yaitu Hulu Sungai Miang (Tamiang Kuala Simpang), Lingge Gayo, Tapak Tuan, Susoeh, Malabuh Haji (Labuhan Haji), Meulaboh kemudiaan Keujruen Meulala Negeri Daya, kemudian Pidie, Keujruen Tirusieb, Keujruen Mereudue, Ie Leubue, Paloeh pidie, dan Gigieng, kemudian Meusee Krueng Panjoe (Keujruen Meusyi) Peusangan Jeumpa (Jempah), kemudian wilayah Pasee (Pasi) dan Teluk Samawi (Lhokseumawe) diantaranya Meuraksa Bayu, Blang Mangat, Teupin Puenti, Cunda, Samakurok, Geudong, Keureutoe, Simpang Mulieng.
Dalam arakata Pasee ini juga disebut Sultan Aceh Pocut Husein atau Sultan Jauharul Alamsyah (1796-1824) juga masih keturunan Tu Poraja Chik Yamani Pasee dari Jalur ibundanya Pocut Di Pasee yg merupakan permaisuri Sultan Muhammad Syah.
Sultan. Jauharul Alamsyah juga disebut sbg sultan yg mengistiadatkan Kerajaan Aceh Darussalam karena beliau termasuk sultan yg menduduki tahta kerajaan terlama selama kurun waktu hampir 29 tahun (1796-1824) walaupun sempat menjalankan pemerintahan selama 5 tahun (1814-1818) di pemerintahan pengasingan Teluk Samawi, Lhokseumawe.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee Merupakan ayah dari Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu atau Tgk Chik Ahmad Idris (Tgk Madeireih). Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu Punya 44 anak dari empat orang istrinya. Dari 44 org anak, keturunan Poraja Chik Malik yg jadi akan Hulubalang 7 org yg disebut dgn Hulubalang Mukim Tujuh, jadi akan Sultan 1 org,jadi akan Raja 12 orang, jadi akan Aulia (ulama besar) 4 org, jadi akan Menteri 5 orang, jadi akan Panglima 3 orang, jadi akan Imam 14 orang, jadi akan Bujang (Pengawal Sultan) 7 orang, yg menjadi tandil (Hulubalang Istana) 1 org, jadi akan keujruen 1 org, 1 org jadi akan hakim dan pulang berlayar ke negeri Yaman 2 orang yaitu Abdurrahman dan. Ali Akbar.
(Foto, Komplek Kuburan Syech Syareh Yamani dan keturunannya, th 1910, fotographer Stamenhoose, kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala Hindia Belanda, koleksi Rijkmuseum, Leiden),
Trm. (Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Copas di fb tgk malikul mubin
Sebelumnya
...