uLSN08P13StNRpu8zdLBsXY8k4kNVrJ45iKXYMFb
Bookmark

Hancurnya Rumah Tangga Karena Hilangnya Ilmu dan Tanggung Jawab dalam Hati



Rumah tangga adalah tempat pertama manusia belajar tentang kasih sayang, kesetiaan, pengorbanan, dan tanggung jawab. Dalam ajaran agama, pernikahan bukan hanya sekadar ikatan antara dua orang, tetapi sebuah amanah yang harus dijaga dengan ilmu, kesabaran, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Namun, banyak rumah tangga hari ini mengalami keretakan bahkan berakhir dengan perceraian bukan semata-mata karena masalah besar, tetapi karena hilangnya ilmu dan tanggung jawab dalam hati.

Ilmu menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga. Tanpa ilmu, seseorang mungkin memahami pernikahan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan pribadi, bukan sebagai ibadah dan amanah. Banyak orang memasuki rumah tangga dengan persiapan yang kurang, hanya mengandalkan perasaan cinta, tetapi tidak memahami bagaimana menjadi suami, istri, maupun orang tua yang baik.

Padahal, cinta tanpa ilmu dapat berubah menjadi egoisme. Ketika terjadi perbedaan pendapat, seseorang yang tidak memiliki ilmu tentang cara menyelesaikan masalah akan mudah marah, menyalahkan, bahkan menyakiti pasangan. Sebaliknya, orang yang memiliki ilmu akan berusaha mencari jalan keluar dengan musyawarah, kesabaran, dan sikap saling menghargai.

Allah SWT berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat. Rumah tangga tidak dibangun hanya dengan harta atau keindahan fisik, tetapi dengan hati yang memahami peran dan kewajiban masing-masing.

Selain ilmu, tanggung jawab merupakan tiang utama dalam keluarga. Banyak kehancuran rumah tangga terjadi ketika seseorang kehilangan rasa tanggung jawab. Suami tidak menjalankan kewajibannya, istri tidak menjaga amanah keluarga, atau keduanya lebih mengutamakan ego pribadi dibanding mempertahankan keharmonisan.

Rasulullah SAW mengingatkan:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab. Seorang suami bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri bertanggung jawab terhadap amanah dalam rumah tangga, dan keduanya memiliki kewajiban untuk saling menjaga.

Rumah tangga bukan tempat mencari siapa yang paling benar, tetapi tempat belajar untuk saling memperbaiki. Ketika suami dan istri sama-sama memiliki kesadaran bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, maka masalah yang muncul akan lebih mudah diselesaikan dengan cara yang baik.

Namun, ketika ilmu agama dan nilai moral mulai hilang, manusia mudah dikendalikan oleh hawa nafsu. Masalah kecil menjadi besar, perbedaan menjadi pertengkaran, dan komunikasi berubah menjadi saling menyakiti. Banyak pasangan lebih memilih mempertahankan ego daripada menjaga hubungan.

Allah SWT berfirman:

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
(QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini mengajarkan pentingnya memperlakukan pasangan dengan cara yang baik. Dalam rumah tangga, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan yang harus diterima dengan kesabaran dan kebijaksanaan.

Selain itu, menjaga lisan juga menjadi kunci keharmonisan keluarga. Banyak hubungan rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena kata-kata yang melukai hati. Perkataan kasar, penghinaan, dan membuka aib pasangan dapat menghancurkan rasa percaya yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga ucapan adalah bagian dari keimanan. Dalam keluarga, perkataan yang lembut dapat menjadi obat, sedangkan perkataan yang menyakitkan dapat meninggalkan luka yang dalam.

Keharmonisan rumah tangga juga membutuhkan kemampuan untuk memaafkan. Tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena masing-masing pihak menyimpan kesalahan masa lalu dan tidak mau membuka ruang untuk memperbaiki diri. Padahal, manusia adalah tempat salah dan lupa.

Allah SWT menyukai orang-orang yang memberikan maaf:

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."
(QS. Al-A'raf: 199)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memberikan kesempatan untuk berubah dan memperbaiki hubungan.

Pada akhirnya, kehancuran rumah tangga sering kali bukan karena tidak adanya cinta, tetapi karena hilangnya ilmu dan tanggung jawab dalam hati. Cinta membutuhkan ilmu agar dapat diarahkan, dan pernikahan membutuhkan tanggung jawab agar dapat dipertahankan.

Rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang tidak pernah memiliki masalah, tetapi rumah tangga yang mampu menghadapi masalah dengan iman, ilmu, dan kedewasaan.

Sebelum menyalahkan pasangan, setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya sudah menjalankan peran saya dengan baik? Apakah saya sudah memberikan hak pasangan sebagaimana mestinya? Apakah saya sudah menjadikan Allah sebagai tujuan dalam membangun keluarga?

Karena sejatinya, keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi tempat untuk mencari keberkahan dan jalan menuju ridha Allah SWT. Ketika ilmu menjadi cahaya dan tanggung jawab menjadi pegangan hati, maka rumah tangga akan lebih kuat menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Penulis 

Azhari dosen Universitas Islam Aceh 

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar