Puisi Rakyat menangis di desa Tanah Tumbuh dan Kuala Kepeng pasca Damai
Tanah yang Menangis di Tanah Tumbuh dan Kuala Kepeng
Aceh Singkil – Subulussalam
Oleh: Azhari
Di tanah yang dulu dipeluk oleh akar,
di bumi yang diwariskan oleh leluhur,
ada cerita yang tertanam bersama air mata,
tentang tanah yang bukan sekadar hamparan,
tetapi tempat hidup, tempat mencari nafkah,
tempat anak-anak mengenal arti rumah.
Tanah Tumbuh dan Kuala Kepeng,
namamu bukan hanya titik di peta,
engkau adalah saksi perjalanan rakyat kecil,
yang menggantungkan harapan pada tanah sendiri.
Dahulu kami menanam harapan di sini,
menyemai keringat bersama matahari,
menghidupi keluarga dengan tangan sendiri.
Namun hari ini ada suara yang terluka,
ada hati yang merasa kehilangan,
ketika tanah yang menjadi sandaran hidup
seakan dirampas dari pemiliknya.
Wahai tanah kami,
apakah damai hanya berarti tidak ada suara senjata?
Apakah perdamaian hanya tentang berhentinya perang,
sementara rakyat masih menangis kehilangan haknya?
Sebab damai bukan hanya tentang tidak adanya konflik,
tetapi tentang hadirnya keadilan.
Damai adalah ketika rakyat merasa aman,
ketika hak mereka dihormati,
ketika tanah leluhur tidak menjadi sumber penderitaan.
Kami tidak meminta lebih,
kami hanya ingin keadilan berdiri tegak.
Kami hanya ingin suara rakyat didengar,
bukan dipadamkan oleh kekuatan yang lebih besar.
Tanah ini bukan sekadar tanah,
di dalamnya ada sejarah orang tua kami,
ada keringat para petani,
ada doa para ibu,
ada masa depan anak-anak kami.
Jangan biarkan perdamaian kehilangan makna,
jangan biarkan kata keadilan hanya menjadi cerita.
Karena sebuah negeri akan kuat bukan karena banyak bangunan tinggi,
tetapi karena mampu menjaga hak rakyat kecil.
Wahai pemimpin,
dengarkanlah suara yang datang dari tanah,
dengarkanlah jeritan yang tidak terdengar,
sebab rakyat bukan musuh pembangunan,
rakyat adalah alasan mengapa pembangunan itu harus ada.
Jika tanah ini mampu berbicara,
mungkin ia akan berkata:
"Aku bukan ingin menjadi rebutan kekuasaan.
Aku hanya ingin kembali menjadi tempat rakyatku hidup dengan tenang."
Tanah Tumbuh dan Kuala Kepeng,
semoga suatu hari nanti bukan menjadi nama luka,
tetapi menjadi simbol keadilan dan harapan.
Sebab perdamaian yang sejati bukan hanya tentang berhentinya pertikaian,
tetapi tentang hadirnya rasa adil bagi setiap manusia.
Karena tanah boleh diwariskan,
tetapi keadilan harus diperjuangkan.
Dan suara rakyat, walau kecil, tetap memiliki hak untuk didengar.