Ada satu pesan sederhana dari orang tua kita dulu yang terus terngiang di telinga:
"Nak, kelak kalau ibu ayah tiada, jangan lupa doakan. Karena di dalam kubur, tak ada lagi yang bisa kami bawa kecuali doa anak yang saleh."
Kalimat itu dulu mungkin terasa biasa saja. Tapi seiring usia, saat satu per satu orang tua, nenek, datuk, atau sanak saudara berpulang, makna kalimat itu menggema lebih dalam. Kita mulai sadar, sesibuk apa pun kita hari ini, seberapa jauh pun langkah kaki menapaki dunia, ada satu kewajiban yang tak boleh putus: mengingat dan mendoakan orang tua yang telah tiada.
Waktu Boleh Berjalan, Tapi Kenangan Tak Pernah Pudar
Kita mungkin tak lagi sempat ziarah tiap pekan. Mungkin jarang datang ke pusara karena kesibukan pekerjaan, urusan rumah tangga, atau aktivitas sosial yang terus menumpuk. Tapi ingatan tentang mereka tak boleh ikut terkubur oleh rutinitas dunia.
Sebab setiap kita adalah anak dari sepasang orang tua yang pernah bertaruh nyawa untuk melahirkan, membesarkan, dan menyekolahkan kita. Betapa sering tangan tua itu menahan lapar demi bisa membeli buku sekolah anaknya. Betapa banyak malam tanpa tidur mereka lalui saat anaknya sakit. Semua itu tak pernah mereka hitung. Tak pernah mereka minta balas. Cukup melihat anaknya bahagia, itu sudah surga bagi mereka.
Lantas, apakah kita begitu sibuk hingga lupa sekedar mendoakan mereka di sela-sela kesibukan itu?
Kubur Itu Sepi, Doa Anak Adalah Penerang
Dalam satu hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan:
> “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.”
(HR. Muslim)
Lihatlah, di antara semua amal, yang paling abadi bagi orang tua yang telah tiada adalah doa anaknya. Di alam kubur yang sunyi, di mana tak ada lagi handphone, internet, atau televisi, yang mereka nantikan hanyalah kiriman doa dari anak-anak yang mereka besarkan dulu.
Satu bacaan Al-Fatihah, satu kalimat “Ya Allah, ampunilah ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil”, itu cahaya yang menembus liang lahat, menerangi jalan mereka.
Tapi kenyataan hari ini begitu miris. Banyak anak yang lupa. Tak hanya jarang mendoakan, bahkan ziarah tahunan pun kerap dilupakan. Tertutup kesibukan, tertelan ego, terbenam ambisi dunia.
Mengukir Nama di Dunia, Melupakan yang Membesarkan
Kita sibuk membangun karir, mengejar jabatan, mengumpulkan kekayaan. Kita bangga namanya tercatat di kantor, di proyek, di jabatan, bahkan di media sosial. Tapi nama orang tua yang dulu berkeringat membesarkan kita, pelan-pelan lenyap dalam daftar doa kita.
Ada ironi yang menyedihkan. Saat hidup, orang tua rela melakukan apapun demi anaknya. Tapi saat mereka wafat, banyak anak lebih sibuk menata makam orang tua hanya untuk pamer foto, bukan untuk tulus mendoakan. Lebih semangat menghadiri hajatan dan rapat bisnis daripada melangkah ke pusara orang tua.
Pertanyaannya sederhana: apa gunanya kita kaya raya, terhormat, dihormati orang, kalau orang tua kita di dalam kubur sendirian tanpa doa?
Sibuk Itu Manusiawi, Melupakan Itu Celaka
Saya tak pernah menyalahkan orang-orang yang sibuk. Zaman memang berubah. Tuntutan hidup makin keras. Tapi sibuk bukan alasan untuk melupakan orang tua yang sudah tiada.
Tidak butuh waktu lama untuk mendoakan mereka. Cukup luangkan satu menit setelah salat, sebut nama mereka, kirim Al-Fatihah, minta Allah ampuni dosa-dosa mereka, lapangkan kuburnya, dan tempatkan di surga-Nya.
Tak ada waktu? Di mobil saat lampu merah, di kereta saat perjalanan, di sela rapat sebelum mulai, di malam sunyi sebelum tidur, bisa. Semua bisa, asal ada niat. Yang sering kita lupakan bukan karena tak sempat, tapi karena tak terbiasa.
Surga Itu Masih di Bawah Telapak Kaki Ibu
Kalimat ini bukan slogan. Ini sabda Nabi Muhammad SAW. Sekalipun orang tua kita sudah tiada, surga tetap bisa kita kejar dengan cara merawat nama baik mereka, bersedekah atas nama mereka, menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang mereka cintai, dan tentu saja tidak pernah lupa mendoakan mereka.
Kita jangan menjadi anak yang hanya ingat orang tua saat butuh warisan. Atau hanya datang ke makam saat ada hajatan keluarga. Jadilah anak yang setia menjaga nama orang tua di hadapan Allah, di bumi, dan di alam kubur mereka.
Sebab nanti, kelak saat kita wafat, posisi itu akan berbalik. Kita yang akan menunggu kiriman doa dari anak-anak kita. Dan apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kita petik esok.
Penutup: Mari Kembali Ingat
Hari ini, mari kita renungi:
Sudahkah kita mendoakan ayah ibu yang telah tiada?
Kapan terakhir kita kirim Al-Fatihah untuk mereka?
Kapan terakhir kita ziarah ke makam mereka?
Kapan terakhir kita bersedekah atas nama mereka?
Kapan terakhir kita mengenang kebaikan mereka dalam keluarga?
Jangan tunggu hari tua. Jangan tunggu sepi. Jangan tunggu kita terbaring sakit. Karena hidup ini terlalu singkat untuk menunda hal-hal baik.
Ingatlah, orang tua kita tak minta banyak. Mereka tak lagi butuh uang, makanan, atau harta. Mereka hanya butuh doa anak-anaknya. Kiriman cahaya yang menghapus gelap di kubur.
Sesibuk apa pun kita, jangan pernah lupa: ada sepasang orang tua yang dulu bertaruh nyawa demi kita, yang kini menunggu doa-doa kita di alam sana.
Semoga kita menjadi anak-anak yang tahu diri, tahu terima kasih, dan tak pernah putus mendoakan orang tua, di dunia maupun di akhirat.