Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jangan Lupakan Kakek Nenekmu

Rabu, 04 Juni 2025 | 21:08 WIB Last Updated 2025-06-04T14:08:28Z



Di era modern ini, di tengah derasnya arus digital dan tuntutan hidup yang makin menekan, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian kita: kakek dan nenek. Sosok yang dulu pernah memeluk kita erat saat kecil, menggendong di punggung, membelikan permen di warung, dan membacakan cerita sebelum tidur. Mereka adalah saksi hidup dari sejarah keluarga kita. Tapi sayangnya, tak sedikit anak-cucu hari ini yang mulai lupa akan keberadaan mereka.

Seringkali, dalam hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari, kita lebih sibuk dengan dunia kita sendiri. Ada yang sibuk kerja, sekolah, urusan rumah tangga, atau terpaku di layar ponsel. Seakan waktu untuk sekadar menyapa kakek nenek sudah menjadi hal langka. Padahal, di usia senja itu, yang mereka butuhkan bukan harta, bukan kemewahan, tapi perhatian dan kasih sayang dari anak cucunya.

Mereka Tak Abadi di Dunia

Satu hal yang patut kita ingat: usia kakek nenek kita tak sepanjang usia muda kita. Mereka makin renta, makin rapuh, makin sering sakit, dan makin butuh perhatian. Kalau dulu mereka yang mengejar kita saat menangis, sekarang mereka yang berharap kita yang datang menyapa. Kalau dulu mereka kuat menggendong, sekarang mereka butuh dipapah.

Kita sering merasa punya banyak waktu untuk sekadar menelepon, menjenguk, atau mengajak mereka makan bersama. Padahal kenyataannya, waktu itu makin menipis. Jangan sampai penyesalan datang ketika mereka sudah tak ada, saat yang tinggal hanya batu nisan dan kenangan.

Lebih dari Sekadar Orang Tua Kedua

Kakek dan nenek bukan sekadar orang tua dari ayah ibu kita. Mereka adalah guru kehidupan yang penuh pengalaman, pencerita masa lalu, penjaga tradisi keluarga, dan penyambung silaturahmi antargenerasi. Dari merekalah kita belajar tentang sejarah keluarga, nilai-nilai adat, kisah masa perang, pahit manisnya hidup, dan doa-doa penguat jiwa.

Mereka juga punya jasa yang tak terhitung. Banyak dari kita yang waktu kecil diasuh langsung oleh kakek nenek saat orang tua sibuk bekerja. Mereka yang menyiapkan sarapan, menunggu kita pulang sekolah, bahkan mengobati saat kita demam. Namun seringkali jasa itu terlupa ketika kita mulai dewasa.

Realita yang Menyedihkan

Fakta di lapangan cukup memilukan. Banyak kakek nenek yang hidup sebatang kara di kampung, di rumah tua yang mulai lapuk, atau di panti jompo karena anak cucu tak lagi peduli. Ada yang makan seadanya, berobat dengan daun-daunan, atau sekadar menghangatkan badan di depan tungku karena listrik tak sanggup dibayar.

Ironisnya, anak cucunya sibuk pamer makanan mahal di media sosial, liburan ke luar negeri, membeli barang-barang branded, tapi lupa sekadar menanyakan kabar kakek nenek yang dulu pernah menyuapi mereka bubur hangat di waktu kecil.

Waktu Luang Itu Ada, Tinggal Niat atau Tidak

Seringkali alasan yang diucapkan, “Maaf, sibuk, nanti ya,” padahal kenyataannya waktu itu selalu ada. Hanya saja, kita kerap mendahulukan hal-hal yang bersifat duniawi dibanding nilai kekeluargaan. Kita punya waktu berjam-jam untuk bermain ponsel, hangout, nonton film, tapi lupa sekadar menelepon menanyakan kabar kakek nenek yang menua di kampung.

Padahal, tak perlu uang banyak untuk membahagiakan mereka. Satu panggilan video, sepotong pesan hangat, atau sesekali kunjungan sederhana sudah cukup membuat hati renta mereka berbunga.

Bahagia Mereka, Pahala untuk Kita

Dalam Islam, berbuat baik kepada orang tua itu wajib, dan memperhatikan kakek nenek juga bagian dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menyambung silaturahmi, terlebih kepada keluarga dekat.

Setiap senyuman yang kita berikan, setiap obrolan ringan yang kita luangkan, setiap kebahagiaan kecil yang kita hadirkan untuk kakek nenek, itu semua menjadi amal jariyah dan pahala yang tak terputus.

Di usia senja itu, hati mereka sangat sensitif. Seringkali hanya butuh kabar sederhana untuk membuat mereka merasa hidupnya masih berarti. Dan percayalah, ketika mereka tiada nanti, tak ada hal yang bisa menggantikan rasa kehilangan itu.

Warisan Paling Berharga: Doa Kakek Nenek

Jangan pernah sepelekan doa dari mulut renta itu. Di balik tubuh ringkih dan suara yang makin lemah, doa-doa mereka memiliki kekuatan luar biasa. Berapa banyak cucu yang selamat dari musibah, dimudahkan urusannya, atau mendapat rezeki tak terduga berkat doa kakek neneknya.

Jika saat ini kita merasa hidup dipenuhi keberkahan, bisa jadi itu adalah buah dari doa-doa mereka yang tak pernah putus sejak kita kecil. Maka, selagi mereka masih ada, jangan sia-siakan waktu. Dekati, peluk, dengarkan cerita-ceritanya, bahagiakan mereka sebisa mungkin.

Penutup: Waktumu Mungkin Banyak, Tapi Kesempatan Tak Akan Selalu Ada

Jangan menunggu kakek nenekmu dipanggil Allah baru sadar betapa berharganya mereka. Jangan biarkan makam mereka sepi tanpa doa cucu. Jangan sampai kamu dikenal sukses di dunia, tapi tak pernah dikenal di hati kakek nenekmu.

Hidup ini terlalu singkat untuk melupakan orang-orang yang pernah mencintai kita tanpa syarat. Kakek nenek itu tak minta apa-apa. Mereka hanya ingin tahu bahwa anak cucunya masih peduli.

Hari ini, cobalah ambil ponselmu. Kirim pesan, telepon, atau jika bisa, pulanglah ke kampung. Tatap mata mereka. Peluk tubuh renta itu. Dan bisikkan, “Aku sayang kakek nenek.”

Karena suatu saat nanti, kamu akan sangat merindukan waktu itu — saat mereka masih bisa menjawab dan membalas pelukanmu.