Di balik gemerlap gedung pencakar langit, di balik hingar-bingar angka pertumbuhan ekonomi yang diumumkan pemerintah, ada suara lirih yang jarang terdengar: jeritan kecil rakyat di lapisan bawah. Mereka bukan headline berita, bukan statistik penting, bahkan sering kali tak tercatat dalam laporan resmi. Namun, merekalah denyut nadi sejati bangsa.
Pasar-pasar tradisional kini kian sepi, pedagang kecil bertarung dengan toko modern yang menjamur. Petani masih menunggu harga panen yang layak, sementara pupuk terus melambung. Buruh menahan napas dengan upah yang pas-pasan, bahkan kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Nelayan menatap laut luas yang kaya, tapi hasil tangkapannya tak lagi sebanding dengan kerja kerasnya.
Itulah ekonomi rakyat kini—bertahan dengan segala keterbatasan, berjuang di tengah pusaran sistem yang lebih sering menguntungkan segelintir orang.
Sayangnya, jeritan kecil ini kerap hilang tanpa jejak. Tidak ada kamera televisi yang menyorotinya, tidak ada pejabat yang benar-benar hadir mendengarkannya. Mereka menjadi suara yang samar, meski justru merekalah mayoritas rakyat negeri ini.
Namun, di balik kepedihan itu, ada harapan. Sejarah membuktikan bahwa bangsa ini selalu bertahan karena rakyat kecil. Dari sawah, dari pasar, dari laut, dari keringat pekerja sederhana—Indonesia hidup. Maka, jangan pernah meremehkan jeritan kecil itu, karena di sanalah letak kekuatan bangsa.
Hari ini kita mungkin merasa sunyi, seolah tidak ada yang peduli. Tapi jangan berhenti melangkah. Kekuatan rakyat adalah persatuan, gotong royong, dan keberanian untuk tidak menyerah. Jeritan kecil yang bersatu bisa mengguncang negeri, bisa mengubah arah sejarah, bisa mengingatkan penguasa bahwa bangsa ini tidak hanya milik elit, melainkan milik semua.
Mari kita jaga semangat ini. Mari kita terus suarakan keadilan, meski suara itu kecil. Karena sekecil apa pun suara kita, ia akan menjadi gema yang besar bila disatukan.
Ekonomi rakyat bukan sekadar angka, tetapi kehidupan nyata. Dan jeritan kecil itu, suatu saat akan menjadi lagu kemenangan bila kita tetap teguh berjuang.