Ulama tidak lahir dari kenyamanan. Mereka tidak muncul dari panggung gemerlap atau ruang-ruang kuasa. Mereka ditempa oleh lapar yang panjang, oleh sabar yang tak bersuara, dan oleh perjalanan yang menguji raga serta iman. Malam-malam mereka dilalui dengan kitab di dada, lampu redup, dan doa yang tak putus—menukar lelah dengan harap, menukar dunia dengan khidmat kepada umat.
Dari surau ke surau, dari dayah ke dayah, mereka berjalan tanpa pamrih. Tidak mencari nama, tidak mengejar tepuk tangan. Mereka berdiri sebagai pelita—sunyi namun menerangi. Dalam kesederhanaan itulah iman Aceh dijaga, bukan dengan teriak, tetapi dengan ilmu dan akhlak.
Ulama Aceh adalah saksi zaman. Mereka hidup di antara keterbatasan, namun melahirkan keteguhan. Di tengah perubahan dunia yang gaduh, merekalah penjaga keseimbangan—mengikat adat dengan syariat, menyatukan ilmu dengan adab, dan menautkan langit dengan bumi.
Kini langkah itu memang terhenti di dunia. Satu per satu ulama kharismatik Aceh dipanggil pulang oleh Yang Maha Memiliki ilmu. Namun perjuangan mereka tidak pernah mati. Ia hidup dalam ayat yang diamalkan, dalam doa yang diajarkan, dalam akhlak yang diwariskan kepada santri dan umat.
Wahai para guru, jasadmu telah kembali menjadi tanah, tetapi namamu hidup di langit dan di hati kami. Selama ilmu diamalkan dan adab dijaga, selama Aceh masih menyebut Allah dengan penuh takzim, di sanalah engkau terus hidup.
Al-Fatihah untuk tiga ulama kharismatik Aceh.
Semoga kami tidak sekadar mengenang, tetapi melanjutkan.
#JejakPerjuanganUlama
#UlamaAceh
#PelitaUmat
#WarisanIlmu
#SantriMengenang
#AlFatihah 🤍