Di zaman ketika satu geser jari dapat memperkenalkan seribu wajah baru, makna setia perlahan kehilangan kesakralannya. Bagi sebagian generasi muda hari ini, setia kerap dipersempit menjadi sekadar “tidak ketahuan selingkuh”, bukan lagi komitmen batin yang dijaga dengan kesadaran dan tanggung jawab moral.
Asmara generasi muda hidup di ruang yang bising: media sosial, aplikasi kencan, dan budaya validasi instan. Cinta sering diukur dari seberapa cepat membalas pesan, seberapa sering unggahan berdua dipamerkan, atau seberapa cemburu seseorang terlihat. Padahal, setia tidak pernah lahir dari pengawasan, melainkan dari kesadaran.
Banyak anak muda menganggap kesetiaan sebagai beban yang mengekang kebebasan. Mereka takut terikat, takut kehilangan peluang, takut “ketinggalan pengalaman”. Maka lahirlah hubungan tanpa kejelasan: dekat tapi tidak bertanggung jawab, mesra tapi tanpa arah, setia sementara tapi mudah berpaling saat hadir pilihan yang tampak lebih menarik.
Ironisnya, generasi yang paling lantang menuntut kejujuran justru hidup dalam kompromi pengkhianatan kecil yang dianggap wajar. Chat diam-diam, perhatian berlebih pada orang lain, atau membiarkan hati tumbuh di tempat yang salah—semua dibungkus dengan dalih “sekadar berteman” atau “tidak ada niat”. Padahal, pengkhianatan tidak selalu dimulai dari perbuatan besar, melainkan dari pembiaran rasa yang tak dijaga.
Setia sejatinya bukan soal menutup mata dari ketertarikan pada orang lain. Manusiawi jika hati bergetar. Namun, kedewasaan terletak pada kemampuan mengelola rasa, bukan menuruti semuanya. Setia adalah keputusan berulang: memilih satu hati meski ada banyak godaan, memilih bertahan meski ada ketidaksempurnaan.
Generasi muda juga perlu menyadari bahwa kesetiaan bukan hanya kepada pasangan, tetapi juga kepada nilai. Setia pada janji, setia pada batasan, setia pada adab. Tanpa fondasi nilai, cinta mudah berubah menjadi transaksi emosional: selama bahagia bertahan, saat kecewa pergi.
Di Aceh—dan banyak ruang budaya lain—setia dahulu diajarkan sebagai kehormatan, bukan sekadar perasaan. Ia dijaga oleh agama, adat, dan rasa malu. Kini, ketika rasa malu mulai dianggap kuno, setia pun kehilangan pagar. Yang tersisa hanyalah kebebasan tanpa arah dan hubungan tanpa masa depan.
Sudah saatnya generasi muda mendefinisikan ulang kesetiaan, bukan sebagai penjara cinta, tetapi sebagai keberanian memilih dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Setia bukan tanda kalah oleh keadaan, melainkan kemenangan atas diri sendiri.
Sebab cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak pilihan yang ditolak, tetapi dari satu pilihan yang dijaga hingga akhir.