Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Bercerai atau Bertahan: Dilema Sunyi dalam Rumah Tangga

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:28 WIB Last Updated 2026-01-17T08:37:31Z
Tidak ada pasangan yang menikah dengan niat berpisah. Setiap akad diucapkan dengan harapan: saling menguatkan, menua bersama, dan pulang ke rumah yang sama hingga akhir usia. Namun, realitas sering berjalan berliku. Di titik tertentu, rumah tangga berubah menjadi medan tanya: haruskah bertahan, atau justru berpisah demi kewarasan dan keselamatan jiwa?

Pertanyaan ini bukan soal hitam dan putih. Ia adalah wilayah abu-abu yang dipenuhi air mata, rasa bersalah, tekanan sosial, dan pertimbangan moral—terutama di masyarakat yang menjunjung tinggi keutuhan keluarga.

Bertahan: Antara Kesabaran dan Pengorbanan
Bertahan sering dipuja sebagai simbol kesetiaan dan kesabaran. Ada keyakinan bahwa badai pasti berlalu, bahwa pasangan bisa berubah, dan bahwa anak-anak membutuhkan orang tua yang utuh. Dalam banyak kasus, bertahan memang membuahkan hasil—ketika komunikasi dibangun ulang, komitmen diteguhkan, dan kesalahan diakui bersama.

Namun bertahan juga bisa menjelma menjadi pengorbanan yang melukai bila yang dipertahankan adalah kekerasan (fisik maupun psikis), pengkhianatan berulang, atau penelantaran yang tak kunjung berakhir. Kesabaran bukanlah izin untuk disakiti tanpa batas. Agama pun tidak pernah memuliakan kezaliman dengan label “ketahanan rumah tangga”.

Bercerai: Jalan Terakhir yang Tidak Pernah Mudah

Perceraian sering dicap sebagai kegagalan. Perempuan lebih sering menanggung stigma; anak-anak ditakuti menjadi korban. Padahal, perceraian dalam kondisi tertentu justru jalan penyelamatan—bagi jiwa, akal, dan masa depan.

Berpisah bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan mengakui bahwa ikhtiar telah dilakukan dan kerusakan lebih besar bila dipaksakan. Dalam perspektif hukum dan agama, perceraian dibolehkan ketika kemudaratan lebih dominan daripada kemaslahatan. Ia adalah pintu darurat—bukan pilihan pertama, tetapi sah ketika keadaan memaksa.

Anak-Anak dan Kejujuran Emosional
Sering kali keputusan bertahan dibungkus atas nama anak. Namun pertanyaan pentingnya: anak membutuhkan rumah tangga yang utuh, atau lingkungan yang sehat? Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Pertengkaran yang terus-menerus, sikap dingin, atau kekerasan diam-diam justru mewariskan luka yang panjang.

Kejujuran emosional orang tua—dengan tetap menjaga adab dan tanggung jawab—sering kali lebih menenangkan daripada kepalsuan kebersamaan.
Menimbang dengan Akal Sehat dan Hati Nurani
Bercerai atau bertahan bukan keputusan instan. Ia perlu ditimbang dengan:
Keselamatan jiwa dan martabat (apakah ada kekerasan atau penelantaran).
Kemungkinan perubahan nyata, bukan janji sesaat.
Kesiapan tanggung jawab pasca-cerai, terutama terhadap anak.
Nasihat orang bijak: keluarga, ulama, konselor—bukan sekadar opini tetangga.

Tidak semua yang bertahan itu mulia, dan tidak semua yang bercerai itu hina. Kemuliaan terletak pada kejujuran menghadapi keadaan, keberanian mengambil keputusan yang paling sedikit mudaratnya, dan komitmen untuk tetap bertanggung jawab—apa pun jalannya.
Rumah tangga seharusnya menjadi tempat pulang, bukan penjara sunyi. Jika bertahan membawa ketenangan dan perbaikan, rawatlah. Jika berpisah adalah satu-satunya cara menjaga akal dan jiwa, tempuhlah dengan adab dan tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan sekadar status, melainkan keadilan, keselamatan, dan kemanusiaan di dalam keluarga.

Azhari 
Dosen prodi hukum keluarga islam
Kampus UIA