Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Perceraian Era Digital dan Dilema Keutuhan Rumah Tangga: Antara Ilmu dan Iman

Sabtu, 17 Januari 2026 | 15:41 WIB Last Updated 2026-01-17T08:43:26Z

Perceraian di era digital tidak lagi hadir sebagai peristiwa sunyi yang diselesaikan di ruang keluarga atau pengadilan agama semata. Ia kini tumbuh di ruang-ruang virtual—di layar ponsel, kolom komentar, dan video singkat yang menawarkan “pencerahan” instan. Di tengah derasnya arus informasi, rumah tangga berada pada simpang jalan yang rumit: bertahan dengan iman, atau berpisah dengan dalih ilmu.

Ilmu yang Melimpah, Kesabaran yang Menipis

Era digital menghadirkan limpahan pengetahuan tentang relasi: psikologi pernikahan, kesehatan mental, hak pasangan, hingga teknik komunikasi. Semua tersedia cepat, ringkas, dan persuasif. Namun kemudahan ini melahirkan paradoks: semakin banyak tahu, semakin cepat ingin memutuskan.
Konflik yang dahulu dipandang sebagai fase pembelajaran, kini sering dilabeli toxic tanpa proses pendalaman. Kesalahan pasangan segera diposisikan sebagai bukti ketidaklayakan. Ilmu—yang seharusnya menuntun pada perbaikan—kerap dipakai sebagai pembenar untuk menyerah.

Iman yang Diuji oleh Zaman
Di sisi lain, iman tetap menjadi benteng nilai. Ia mengajarkan kesabaran, tanggung jawab, dan sakralitas akad. Namun iman juga diuji oleh cara ia dipraktikkan. Nasihat “bertahan demi pahala” sering diulang tanpa membaca konteks luka yang nyata. Ketika iman dilepaskan dari keadilan, ia berubah menjadi beban moral—terutama bagi pihak yang menanggung kekerasan atau penelantaran.

Iman yang sejati bukanlah perintah untuk bertahan dalam kezaliman, melainkan kompas untuk menjaga martabat manusia. Ia membuka ruang musyawarah, memberi batas pada kesabaran, dan mengakui perceraian sebagai jalan terakhir ketika kemudaratan tak terelakkan.

Digitalisasi Emosi dan Retaknya Keintiman
Perceraian era digital juga dipicu oleh perubahan cara manusia berelasi. Keintiman digeser oleh notifikasi, percakapan digantikan pesan singkat, dan perbandingan hidup orang lain memupuk ketidakpuasan. Perselingkuhan emosional tumbuh dari ruang privat yang tak lagi terjaga.

Ilmu menjelaskan mekanismenya; iman mengingatkan etikanya. Tanpa keduanya bersatu, rumah tangga rapuh oleh prasangka, curiga, dan kesepian yang tak terucap.

Di Persimpangan Keputusan
Keutuhan rumah tangga hari ini menuntut kedewasaan baru:

Ilmu dengan kebijaksanaan: Memahami konflik, trauma, dan hak—tanpa menghapus komitmen dan tanggung jawab.
Iman dengan empati: Menjaga kesabaran dan keadilan—tanpa membungkam penderitaan.

Proses sebelum putusan: Konseling, mediasi keluarga, dan tabayyun sebelum langkah hukum.
Etika digital keluarga: Menata batas layar, menjaga privasi, dan memulihkan dialog.

Perceraian di era digital bukan semata akibat lunturnya iman, dan keutuhan rumah tangga bukan hasil ilmu semata. Keduanya berdiri di antara pengetahuan dan ketakwaan. Ilmu tanpa iman melahirkan keputusan dingin tanpa nurani; iman tanpa ilmu berisiko melanggengkan luka.

Keutuhan sejati lahir ketika ilmu menuntun pada perbaikan, iman menjaga keadilan, dan keputusan—bertahan atau berpisah—diambil dengan tanggung jawab, adab, dan kemanusiaan.