Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Cinta Palsu: Kenakalan Remaja dalam Asmara dan Kehancuran Mahkota

Sabtu, 03 Januari 2026 | 22:51 WIB Last Updated 2026-01-03T15:51:31Z


Di usia yang seharusnya dipenuhi mimpi dan pencarian jati diri, sebagian remaja justru terjebak pada satu ilusi bernama cinta. Cinta yang belum matang, belum dipahami, namun sudah berani dituntut layaknya orang dewasa. Dari sinilah cinta palsu lahir—bukan dari ketulusan,
 melainkan dari dorongan nafsu, pengaruh lingkungan, dan kekosongan arah hidup.
Kenakalan remaja hari ini tidak lagi sekadar soal bolos sekolah atau melawan orang tua. Ia telah menjelma dalam bentuk yang lebih halus namun jauh lebih berbahaya: asmara tanpa batas.
Asmara Remaja dan Ilusi Kedewasaan
Banyak remaja merasa telah “dewasa” hanya karena mampu menjalin hubungan asmara. Padahal yang sering terjadi bukan kedewasaan, melainkan keberanian meniru perilaku orang dewasa tanpa kesiapan mental, moral, dan tanggung jawab.

Cinta palsu membuat remaja:
rela melanggar batas demi dianggap setia,
mengorbankan pendidikan demi pembuktian perasaan,
menormalisasi sentuhan, kebohongan, bahkan pelanggaran nilai,
dan menganggap larangan orang tua sebagai musuh cinta.

Yang mereka kejar bukan cinta sejati, melainkan pengakuan dan penerimaan. Nafsu menyamar sebagai perhatian, posesif dianggap bukti sayang, dan kecemburuan dipuji sebagai kesetiaan.
Cinta Palsu dan Hancurnya Mahkota
Dalam banyak budaya dan nilai moral, mahkota bukan sekadar simbol kehormatan fisik, tetapi juga martabat, harga diri, dan kesucian jiwa. Ketika cinta palsu merajalela, mahkota itu perlahan retak—bukan karena dipaksa, tetapi karena dibujuk.

Banyak remaja kehilangan mahkotanya bukan karena kejahatan orang lain, melainkan karena bujuk rayu yang dibungkus janji. Janji setia yang tak bertahan lama, janji masa depan yang bahkan belum dipahami maknanya.

Ironisnya, ketika mahkota itu jatuh, yang sering disalahkan adalah korban. Sementara cinta palsu yang merusak justru lolos dari tanggung jawab.
Peran Lingkungan dan Sunyinya Pengawasan
Kenakalan asmara remaja tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh subur dalam:
lemahnya pengawasan keluarga,
minimnya pendidikan akhlak dan cinta yang sehat,
pengaruh media digital yang menormalisasi hubungan bebas,
serta budaya yang lebih sibuk menghukum daripada membimbing.

Remaja dibiarkan belajar tentang cinta dari layar, bukan dari teladan. Mereka tahu cara pacaran, tetapi tidak tahu makna menjaga diri. Mereka paham kata “sayang”, tetapi asing dengan kata “tanggung jawab”.
Cinta Sejati Tidak Merusak Masa Depan
Cinta yang benar tidak membuat remaja:
takut pada orang tua,
berbohong pada guru,
menjauh dari nilai agama,
atau kehilangan arah hidup.

Cinta sejati justru menjaga, menunggu, dan menahan diri. Ia tidak menuntut bukti yang melanggar batas. Ia tidak merampas mahkota demi kenikmatan sesaat. Cinta yang memaksa kehilangan bukan cinta—ia adalah ego yang menyamar.
Refleksi untuk Orang Tua, Sekolah, dan Masyarakat
Cinta palsu remaja adalah alarm sosial. Ia menegur kita semua—orang tua yang terlalu sibuk, sekolah yang terlalu fokus pada nilai akademik, dan masyarakat yang terlalu cepat menghakimi.
Remaja tidak butuh ceramah panjang. Mereka butuh:
ruang dialog yang aman,
keteladanan dalam menjaga nilai,
pendidikan cinta yang bermartabat,
dan kehadiran orang dewasa yang mau mendengar, bukan hanya melarang.

Menjaga Mahkota, Menyelamatkan Generasi
Mahkota remaja—kehormatan, masa depan, dan harga diri—terlalu berharga untuk dihancurkan oleh cinta palsu. Kenakalan asmara bukan sekadar kesalahan usia muda, tetapi cermin kegagalan kita membimbing generasi.
Jika hari ini kita membiarkan cinta palsu merajalela, maka esok kita akan menuai generasi yang bingung membedakan cinta dan nafsu, setia dan posesif, kebebasan dan kehancuran.

Menjaga mahkota bukan soal mengekang, tetapi menuntun. Karena cinta sejati selalu menjaga masa depan, bukan merusaknya.