Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Darurat Pencurian: Ketika Ketiadaan Lapangan Kerja

Rabu, 14 Januari 2026 | 22:57 WIB Last Updated 2026-01-14T16:05:15Z
Gelombang pencurian yang kian marak tidak bisa dibaca semata sebagai persoalan kriminalitas. Ia adalah gejala dari penyakit sosial yang lebih dalam: tidak adanya lapangan pekerjaan yang layak. Ketika perut lapar, tanggung jawab keluarga menumpuk, dan negara absen menyediakan ruang kerja, sebagian orang terdorong memilih jalan yang salah—bukan karena tabiat, tetapi karena keterpaksaan hidup.
Istilah darurat pencurian sejatinya adalah cermin kegagalan sistemik. Banyak pelaku pencurian bukan residivis, bukan pula penjahat profesional. Mereka adalah buruh yang dirumahkan, pemuda yang tak kunjung mendapat kerja, kepala keluarga yang kehabisan pilihan. Hukum memang harus ditegakkan, tetapi keadilan tidak boleh buta terhadap sebab-sebab sosial yang melahirkannya.
Ketiadaan lapangan pekerjaan adalah bentuk kekerasan struktural yang sunyi. Ia tidak berdarah, tidak gaduh, tetapi menghancurkan martabat manusia secara perlahan. Negara sering hadir dengan pendekatan represif: patroli ditingkatkan, hukuman diperberat, penjara dipenuhi. Namun solusi hulu—penciptaan kerja, pemberdayaan ekonomi, dan jaminan hidup layak—sering tertinggal di belakang pidato.
Pemuda menjadi korban paling nyata. Lulus sekolah, ijazah di tangan, tetapi pintu kerja tertutup. Akhirnya, energi muda yang seharusnya produktif berubah menjadi frustrasi. Di titik inilah kriminalitas tumbuh. Bukan karena niat jahat, tetapi karena keputusasaan yang dipelihara oleh sistem yang tidak adil.
Darurat pencurian seharusnya mendorong pemerintah berhenti sibuk pada proyek-proyek simbolik. Yang dibutuhkan rakyat adalah kerja nyata: industri padat karya, pertanian yang dilindungi, UMKM yang dibiayai dengan mudah, serta pelatihan kerja yang sesuai kebutuhan pasar. Lapangan kerja adalah benteng paling efektif melawan kriminalitas.
Masyarakat juga tidak boleh larut dalam sikap menghakimi. Mengutuk pelaku tanpa memahami akar masalah hanya akan memperlebar jurang sosial. Solidaritas, empati, dan kontrol sosial yang sehat harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum yang berkeadilan.
Jika negara serius menutup kran pencurian, maka bukalah kran pekerjaan. Karena selama lapangan kerja langka, selama itu pula kejahatan akan mencari jalannya sendiri. Darurat pencurian bukan sekadar alarm keamanan—ia adalah jeritan kebutuhan hidup yang menuntut keberpihakan nyata.