Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Pasca Bencana: Perang Sudut Pandang Pejabat, Luka Tambahan di Masa Pemulihan

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:18 WIB Last Updated 2026-01-14T16:20:19Z
Pada masa pasca pemulihan bencana, masyarakat berada dalam kondisi paling rapuh—fisik, psikologis, dan ekonomi. Rumah rusak, mata pencaharian hilang, trauma belum pulih. Dalam situasi seperti ini, perang sudut pandang antar pejabat justru menjadi luka tambahan yang tidak perlu. Alih-alih menghadirkan harapan, perdebatan terbuka yang saling menyalahkan hanya memperpanjang kelelahan publik.
Yang dibutuhkan masyarakat bukan adu narasi, bukan pula pembenaran kebijakan satu sama lain. Rakyat tidak membutuhkan siapa yang paling benar di media, tetapi siapa yang paling cepat bekerja di lapangan. Setiap pernyataan yang saling bertentangan dari pejabat justru menimbulkan kebingungan, kecemasan, dan hilangnya kepercayaan. Dalam situasi darurat, ketenangan adalah kebutuhan dasar, sama pentingnya dengan logistik dan hunian sementara.
Perang sudut pandang sering lahir dari ego sektoral dan kepentingan politik. Ada yang ingin tampil paling peduli, ada yang ingin mencuci tangan, ada pula yang sibuk menjaga citra. Padahal, bencana tidak mengenal jabatan. Air bah, longsor, dan reruntuhan tidak memilih korban berdasarkan struktur birokrasi. Yang tersisa hanyalah manusia yang membutuhkan pertolongan segera.
Masyarakat menunggu aksi nyata: distribusi bantuan yang adil, hunian sementara yang layak, air bersih, layanan kesehatan, serta kepastian arah pemulihan. Semua itu tidak akan terwujud jika energi pejabat habis untuk saling berdebat. Koordinasi yang solid jauh lebih bermakna daripada pernyataan yang keras.
Suara pejabat seharusnya menjadi suara yang menenangkan. Kata-kata yang jujur, sederhana, dan empatik akan jauh lebih berharga dibandingkan argumentasi panjang yang membela kebijakan masing-masing. Dalam kondisi trauma, masyarakat tidak membutuhkan jargon teknis, tetapi kehadiran negara yang terasa.
Masa pasca bencana adalah ujian kepemimpinan sejati. Bukan siapa yang paling vokal, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab. Bukan siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling konsisten bekerja. Jika para pejabat mampu menahan ego dan menyatukan langkah, maka pemulihan akan menjadi proses kolektif yang bermartabat.
Karena pada akhirnya, bencana tidak membutuhkan banyak sudut pandang—ia membutuhkan satu tujuan: menyelamatkan, memulihkan, dan mengembalikan harapan masyarakat.