Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Di Genjot Jin dalam Mimpi: Antara Nafsu, Jiwa, dan Kesadaran

Sabtu, 03 Januari 2026 | 22:06 WIB Last Updated 2026-01-03T15:10:44Z

Mimpi adalah wilayah sunyi
tempat logika tertidur
dan jiwa berbicara dengan bahasa yang tak selalu kita pahami.
Di sanalah bayangan, hasrat, ketakutan,
dan bisikan yang tak kasat mata
datang tanpa izin.

Sebagian mimpi hanya bunga tidur.
Sebagian lagi meninggalkan bekas—
malu yang tak terucap,
takut yang tak bernama,
dan pertanyaan yang sulit dijawab saat terjaga.

Ketika seseorang bermimpi digerakkan, disentuh,
bahkan “digenjot” oleh sosok jin,
banyak yang terbangun dengan dada sesak:
apakah ini godaan?
apakah ini gangguan?
atau hanya pantulan nafsu yang tak tertata?
Islam mengajarkan satu hal penting:
tidak semua mimpi layak ditakuti,
dan tidak semua mimpi layak diceritakan.
Ada mimpi yang datang dari Allah—
menenangkan dan memberi arah.

Ada mimpi dari pikiran—
sisa-sisa yang belum selesai di siang hari.
Dan ada mimpi dari bisikan—
yang menguji keteguhan jiwa manusia.
Mimpi tentang sentuhan, birahi, dan dominasi
sering kali bukan tentang jin itu sendiri,
melainkan tentang jiwa yang lelah menjaga diri.
Tentang nafsu yang di siang hari ditahan,
lalu mencari jalan keluar saat kesadaran tertidur.

Jin tidak selalu datang untuk merusak,
tetapi bisikan selalu mencari celah.
Dan celah paling mudah
adalah jiwa yang kosong dari dzikir,
mata yang lelah oleh tontonan,
dan hati yang jarang pulang pada Tuhan.
Namun penting untuk jujur pada diri sendiri:
tidak semua mimpi buruk adalah serangan gaib.

Kadang ia hanya cermin—
menunjukkan apa yang terlalu sering kita sembunyikan,
apa yang terlalu lama kita biarkan tumbuh dalam diam.

Malu setelah mimpi bukan tanda dosa,
tetapi tanda hati masih hidup.
Takut setelah terbangun bukan kelemahan,
melainkan panggilan untuk kembali waspada.

Karena manusia yang paling rapuh
bukan yang bermimpi buruk,
tetapi yang menormalisasi keburukan
dan berhenti menjaga dirinya.
Maka jangan panik,
jangan pula bangga menceritakan yang tak pantas.

Cukup ambil hikmahnya.
Perbaiki wudhu sebelum tidur,
ringankan lisan dengan doa,
dan bersihkan mata serta pikiran
dari apa yang tidak perlu.
Tidur adalah kematian kecil.

Dan mimpi adalah pesan—
bukan untuk ditafsirkan berlebihan,
tetapi untuk disadari maknanya.
Jika mimpi membuatmu gelisah,
maka bangunlah dengan taubat.

Jika mimpi membuatmu malu,
maka bangunlah dengan penjagaan diri.
Karena sejatinya,
yang paling berbahaya bukan jin dalam mimpi,
melainkan nafsu yang dibiarkan hidup
tanpa kendali dalam kehidupan nyata.