Demokrasi kita sedang sakit, dan salah satu gejala terparahnya adalah politik uang. Ia merusak nurani pemilih, menurunkan martabat kepemimpinan, dan mengubah suara rakyat menjadi transaksi sesaat. Dalam kondisi inilah, gerakan perempuan menjadi harapan penting bagi lahirnya demokrasi yang lebih bersih dan bermakna.
Perempuan memiliki posisi strategis dalam memutus mata rantai politik uang. Bukan karena perempuan lebih suci, tetapi karena pengalaman hidup mereka lebih dekat dengan dampak langsung dari kebijakan publik. Ketika uang politik datang, perempuan sering menjadi saksi di dapur-dapur rumah: uang habis dalam sehari, sementara penderitaan akibat kebijakan salah berlangsung bertahun-tahun. Kesadaran inilah yang bisa menjadi basis moral gerakan perubahan.
Gerakan perempuan untuk demokrasi tanpa politik uang bukan sekadar slogan. Ia harus dimulai dari pendidikan politik keluarga. Ibu adalah sekolah pertama demokrasi. Dari rumah, nilai kejujuran, harga diri, dan keberanian menolak uang haram politik bisa ditanamkan. Jika perempuan bersikap tegas, politik uang kehilangan ladang suburnya.
Lebih jauh, perempuan harus hadir sebagai aktor politik, bukan hanya pemilih. Keterlibatan perempuan sebagai calon legislatif, pengawas pemilu, relawan pendidikan pemilih, hingga pemimpin komunitas akan mempersempit ruang transaksi. Politik uang tumbuh subur di ruang gelap; kehadiran perempuan yang terorganisir adalah cahaya yang membuka ruang itu.
Demokrasi tanpa politik uang membutuhkan keberanian kolektif. Menolak amplop berarti siap menolak tekanan, intimidasi, bahkan cemoohan. Di sinilah solidaritas perempuan menjadi kunci. Jika perempuan bergerak sendiri, ia mudah dilemahkan. Jika perempuan bersatu, ia menjadi kekuatan sosial yang sulit dibeli.
Negara dan partai politik juga harus didesak untuk berubah. Perempuan tidak boleh sekadar dijadikan pemanis kuota, tetapi harus ditempatkan sebagai pengambil keputusan yang berintegritas. Regulasi yang tegas, pendanaan politik yang transparan, serta perlindungan bagi pelapor praktik politik uang adalah agenda yang harus terus diperjuangkan.
Gerakan perempuan adalah gerakan perubahan jangka panjang. Ia mungkin tidak langsung menang dalam satu pemilu, tetapi ia sedang menyiapkan masa depan demokrasi yang lebih bermartabat. Demokrasi tanpa politik uang bukan utopia jika perempuan berdiri di barisan depan perubahan.
Karena ketika perempuan menjaga harga diri demokrasi, masa depan tidak lagi ditentukan oleh tebalnya amplop, melainkan oleh kejernihan nurani.