Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jika Anda Membuat Mereka Sibuk dengan Kebutuhan Dasar,Mereka Akan Melupakan Kebebasan yang Telah Hilang”

Minggu, 25 Januari 2026 | 10:59 WIB Last Updated 2026-01-25T03:59:53Z

Ada satu cara paling halus untuk menindas manusia tanpa perlu senjata, tanpa perlu penjara, dan tanpa perlu larangan terbuka: buat mereka terlalu sibuk bertahan hidup, sampai tak sempat lagi memikirkan kebebasan yang telah dirampas.

Kalimat ini bukan sekadar kutipan tajam. Ia adalah potret telanjang tentang bagaimana ketidakadilan modern bekerja.
Ketika Perut Kosong Menjadi Alat Kekuasaan
Orang yang lapar tidak sempat berpikir tentang hak politik.
Orang yang sibuk mencari makan tidak punya tenaga untuk menuntut keadilan.
Orang yang hidup dari hari ke hari tidak punya ruang untuk melawan penindasan struktural.
Di titik inilah kebutuhan dasar—makan, tempat tinggal, pekerjaan, air bersih—berubah dari hak asasi menjadi alat kendali.

Bukan karena negara tidak mampu memenuhinya,
tetapi karena sebagian kekuasaan justru diuntungkan oleh rakyat yang terus berada dalam kondisi darurat.
Rakyat yang miskin adalah rakyat yang jinak.

Rakyat yang lelah adalah rakyat yang patuh.
Bantuan Sosial: Penyelamat atau Penjinak?
Bantuan sosial seharusnya menjadi jaring pengaman sementara.
Namun dalam praktiknya, sering diubah menjadi rantai panjang ketergantungan.
Bukan untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan,

tetapi untuk menjaga mereka tetap cukup hidup agar tidak memberontak.
Setiap kali rakyat mulai bertanya:
“Mengapa hidup kami tidak pernah benar-benar membaik?”
Jawabannya dialihkan menjadi:
“Sudah dapat bantuan, kan? Bersyukur saja.”
Di sinilah keadilan dibunuh secara perlahan—
bukan dengan peluru, tetapi dengan beras lima kilo dan janji kosong.
Ketika Hak Diganti dengan Sedekah
Negara yang adil memberi hak.
Negara yang manipulatif memberi sedekah.

Hak membuat rakyat berdaulat.
Sedekah membuat rakyat berterima kasih.
Dan kekuasaan lebih menyukai rakyat yang berterima kasih
daripada rakyat yang menuntut haknya.
Maka lahirlah budaya syukur yang dipelintir:

miskin disuruh sabar,
lapar disuruh ikhlas,
tertindas disuruh tawakal.
Agama dan moralitas dipakai untuk menenangkan korban,
bukan untuk menegur pelaku ketidakadilan.

Keadilan yang Ditunda adalah Penindasan yang Disamarkan
“Bersabar dulu, ekonomi sedang sulit.”
“Bersabar dulu, negara sedang berproses.”
“Bersabar dulu, nanti juga diperhatikan.”
Kalimat-kalimat ini terdengar bijak,
padahal sering hanya cara sopan untuk berkata:

“Terimalah nasibmu, dan jangan mengganggu kenyamanan kami.”
Keadilan yang selalu ditunda pada akhirnya bukan lagi keadilan,
melainkan penindasan yang dibungkus harapan palsu.
Mereka Tidak Bodoh, Mereka Hanya Terlalu Lelah
Kesalahan terbesar elit adalah mengira rakyat bodoh.
Rakyat tahu mereka dipermainkan.
Rakyat tahu janji diingkari.
Rakyat tahu kebijakan tidak adil.
Tapi mereka terlalu lelah untuk melawan.
Karena setiap hari energi mereka habis untuk:

mencari makan,
membayar utang,
mengobati anak,
bertahan dari PHK dan harga naik.
Dalam kondisi seperti itu, idealisme terasa seperti kemewahan.
Dari Ketidakadilan Ekonomi ke Ketidakadilan Politik
Kemiskinan yang dibiarkan bukan sekadar masalah ekonomi.
Ia adalah strategi politik.
Rakyat yang bergantung pada bantuan akan takut bersuara.
Rakyat yang hidup di tanah sengketa akan takut melawan penguasa.
Rakyat yang kerjanya informal akan takut kehilangan segalanya.
Di situlah kebebasan mati pelan-pelan.
Tanpa larangan pers.
Tanpa pembubaran partai.
Tanpa darurat militer.
Cukup dengan membuat hidup rakyat selalu genting.
Penutup: Keadilan Dimulai dari Membebaskan Perut, Bukan Membungkam Mulut
Kalimat,

“Jika Anda membuat mereka sibuk dengan kebutuhan dasar, mereka akan melupakan kebebasan yang telah hilang,”
adalah peringatan keras bagi siapa pun yang masih percaya bahwa ketidakadilan bisa disamarkan selamanya.
Rakyat mungkin diam.
Tapi diam bukan berarti lupa.
Diam bukan berarti ridha.

Suatu hari, ketika perut mereka tidak lagi terlalu kosong untuk berpikir,
ketika hidup mereka tidak lagi terlalu genting untuk bersuara—
maka mereka akan mengingat satu hal:
bahwa kebebasan mereka pernah dirampas
sambil mereka disibukkan dengan bertahan hidup.
Dan pada hari itu,
keadilan tidak akan lagi datang sebagai permintaan—
tetapi sebagai tuntutan.