Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ketika Kemunafikan Lebih Busuk dari Kejahatan Terang-terangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:00 WIB Last Updated 2026-01-14T17:01:00Z
Kutipan ini memang terdengar keras, bahkan menyakitkan. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ada ironi tajam ketika kejahatan dilakukan secara terbuka—dan lebih ironis lagi ketika kebusukan disembunyikan di balik doa, simbol kesalehan, dan bahasa moral. Penjahat sejati, betapapun salahnya, setidaknya jujur pada perbuatannya. Sementara kemunafikan adalah kejahatan yang memakai topeng kebaikan.
Kemunafikan mencemari ruang yang seharusnya suci: doa, kepercayaan, dan nilai. Ia merusak dari dalam. Orang yang percaya pada kepalsuan hidup dalam ilusi moral—merasa bersih padahal sedang berkubang. Seperti perumpamaan mandi dengan air kencing babi lalu mengeluh karena tidak bersih, kemunafikan menolak bercermin tetapi rajin menyalahkan.
Dalam kehidupan sosial dan politik, kemunafikan jauh lebih berbahaya daripada kejahatan terbuka. Penjahat yang jujur bisa dilawan dengan hukum; kemunafik sulit disentuh karena bersembunyi di balik citra. Ia berbicara tentang moral sambil melanggarnya, menyerukan keadilan sambil berkompromi, dan mengutip ayat sambil menindas. Di sinilah doa berubah menjadi alat legitimasi, bukan sarana pertobatan.
Menghormati penjahat sejati dalam konteks ini bukan memuliakan kejahatan, melainkan menegaskan nilai kejujuran. Kejujuran adalah titik awal perubahan. Tanpa kejujuran, tidak ada tobat, tidak ada perbaikan, dan tidak ada keadilan. Kepalsuan justru mematikan kesadaran, karena orang yang munafik merasa dirinya sudah benar.
Opini ini bukan ajakan untuk sinisme, melainkan peringatan keras. Agama, moral, dan nilai luhur bukan tameng untuk menutup kebusukan. Jika doa tidak mengubah perilaku, maka yang rusak bukan doanya, tetapi orang yang memanfaatkannya. Lebih baik berdosa dan sadar, daripada pura-pura suci dan menipu.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hancur oleh penjahat terang-terangan, tetapi oleh orang-orang yang mengkhianati nilai sambil mengaku menjaganya. Dan di hadapan kemunafikan semacam itu, kemarahan moral bukan sikap berlebihan—ia adalah bentuk pembelaan terhadap kejujuran dan martabat.