Ada zaman ketika kritik diperlakukan sebagai vitamin demokrasi. Ia pahit, tapi menyembuhkan. Namun kini, kritik sering dianggap kueh—diperebutkan, ditafsirkan sesuka hati, bahkan dipotong-potong sesuai selera kekuasaan. Siapa yang berani mengkritik, dicurigai punya kepentingan; siapa yang diam, dianggap setia.
Ketika kritik dianggap kueh, substansinya hilang. Yang diperdebatkan bukan lagi isi, melainkan siapa yang menyampaikan. Kritik tidak dibaca sebagai upaya memperbaiki, tetapi sebagai ancaman terhadap citra. Akibatnya, ruang publik menjadi sesak oleh pujian palsu dan sunyi dari kejujuran.
Dalam pemerintahan dan organisasi, kritik sering ditanggapi dengan emosi, bukan refleksi. Padahal kritik adalah cermin. Memecahkan cermin tidak akan menghilangkan wajah yang kotor. Ia hanya membuat kita buta terhadap kekurangan sendiri. Kekuasaan yang alergi kritik sedang menggali lubang legitimasi bagi dirinya.
Lebih berbahaya lagi, ketika kritik dibalas dengan stigma: dianggap membenci, tidak nasionalis, atau tidak bersyukur. Ini bukan sekadar salah paham, melainkan kemunduran berpikir. Demokrasi hidup dari perbedaan pendapat, bukan dari keseragaman pujian.
Menganggap kritik sebagai kueh juga melahirkan budaya cari muka. Banyak yang memilih aman, menukar nurani dengan kenyamanan. Yang kritis disisihkan, yang patuh diangkat. Dalam jangka panjang, organisasi atau negara akan rapuh—tampak rapi di luar, busuk di dalam.
Kritik bukan untuk dijilat, apalagi direbut. Ia untuk didengar dan diolah. Ia tidak meminta disukai, hanya diminta dipertimbangkan. Pemimpin yang besar bukan yang dikelilingi pujian, tetapi yang sanggup berdiri tegak di hadapan kritik.
Jika kritik terus dianggap kueh, maka jangan heran bila kesalahan diulang, kebijakan melenceng, dan rakyat menjauh. Karena saat kritik dibungkam, yang berbicara nanti bukan lagi kata-kata—melainkan kekecewaan.