Jika ingin tahu siapa yang benar-benar mengikat langkah kita, tidak perlu melihat siapa yang kita lawan. Cukup perhatikan siapa yang kita bela, meski hati sendiri ragu. Di sanalah simpul-simpul ketundukan terbentuk—bukan oleh teriakan, bukan oleh ancaman terbuka, melainkan oleh kompromi sunyi yang kita rawat setiap hari.
Kekuasaan paling efektif tidak selalu hadir dalam bentuk represi yang bising. Ia justru bekerja dalam keheningan yang kita anggap wajar. Saat kritik mati di tenggorokan, bukan karena tak ada kata, tetapi karena kita memilih menelannya. Kita belajar diam, bukan karena bodoh, melainkan karena takut kehilangan kenyamanan, posisi, atau penerimaan.
Pembelaan yang lahir dari keraguan adalah alarm moral. Ia menandai momen ketika nalar bernegosiasi dengan kepentingan. Kita tahu ada yang keliru, namun tetap berdiri di barisan pembenaran. Bukan karena yakin, melainkan karena terbiasa. Di titik ini, bisu menjadi mata uang: ditukar dengan rasa aman semu.
Budaya diam sering diselimuti dalih etika—“jaga suasana,” “jangan memperkeruh,” “tunggu waktu.” Padahal, etika tanpa keberanian mudah berubah menjadi perisai bagi ketidakadilan. Kritik bukan sekadar suara keras; ia adalah kejujuran yang menuntut konsekuensi. Ketika kejujuran dianggap ancaman, yang berkuasa bukan lagi argumen, melainkan ketakutan.
Kendali yang paling berbahaya adalah yang tidak terlihat. Ia berdiri ketika kita menginternalisasi batas-batas yang tidak pernah ditetapkan secara resmi. Kita menyensor diri sendiri. Kita menertibkan nurani. Kita menyebutnya kedewasaan, padahal sering kali itu adalah penjinakan.
Opini ini bukan seruan untuk berteriak tanpa arah, melainkan ajakan untuk memulihkan keberanian yang tenang: berbicara saat perlu, menolak saat harus, dan—yang terpenting—tidak membela apa yang hati sendiri tak sanggupi benarkan. Sebab kebebasan tidak selalu dirampas; sering kali ia diserahkan sedikit demi sedikit, melalui pembelaan yang ragu dan kebisuan yang dipelihara.
Di sanalah kendali diam-diam berdiri. Dan di sanalah pula, bila kita jujur pada nurani, ia bisa mulai runtuh.