Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Menikah Karena Nafsu, Bertahan Karena Iman

Sabtu, 03 Januari 2026 | 21:49 WIB Last Updated 2026-01-03T14:49:39Z

Nafsu dan Nikah dalam Kehidupan
Dalam perjalanan hidup manusia, tidak ada dorongan yang paling kuat dan paling sering menjerumuskan selain nafsu. Ia hadir sejak muda, tumbuh bersama darah dan denyut kehidupan. Islam tidak memusuhi nafsu, tetapi tidak pula membiarkannya liar. Karena itulah pernikahan dihadirkan—bukan untuk menghapus nafsu, melainkan menjinakkannya.

Kesalahan besar banyak orang hari ini adalah mengira bahwa menikah berarti menuntaskan nafsu. Padahal, menikah justru membuka babak baru: mengelola nafsu dalam bingkai tanggung jawab.
Nafsu: Musuh atau Amanah?
Nafsu sering disalahpahami sebagai musuh yang harus dimatikan. Padahal tanpa nafsu, manusia kehilangan semangat hidup, cinta, dan keberlanjutan generasi. Yang menjadi masalah bukan nafsunya, tetapi ketika nafsu menjadi pemimpin, bukan yang dipimpin.
Nafsu yang tidak diarahkan akan melahirkan:

Pernikahan tergesa-gesa tanpa kesiapan,
Rumah tangga yang rapuh oleh cemburu dan curiga,
Perselingkuhan yang dibenarkan dengan dalih “fitrah”.
Di sinilah pernikahan seharusnya hadir sebagai madrasah pengendalian diri, bukan panggung pelampiasan.
Menikah Karena Nafsu, Bertahan Karena Iman
Banyak pernikahan dimulai karena ketertarikan fisik. Itu manusiawi. Namun jika pernikahan hanya berdiri di atas nafsu, maka ia akan runtuh ketika nafsu itu berubah arah.

Kecantikan memudar. Ketampanan menua. Tubuh lelah oleh waktu. Jika sejak awal tidak dibangun di atas iman, tanggung jawab, dan visi hidup, maka pernikahan mudah retak.
Di sinilah berlaku satu kaidah sederhana:
Nafsu boleh menjadi pintu masuk pernikahan,

tetapi iman harus menjadi penjaganya.
Nikah Bukan Akhir Pergulatan Nafsu
Ada anggapan keliru di masyarakat: “Setelah menikah, godaan selesai.” Faktanya, banyak godaan justru datang setelah akad. Dunia tetap menampilkan yang indah, media sosial tetap membuka aurat, dan perbandingan tetap menggoda.
Maka menikah bukan akhir ujian, melainkan awal disiplin diri. Suami dituntut menundukkan pandangan. Istri diuji kesabaran dan keteguhan hati. Keduanya belajar bahwa cinta bukan sekadar rasa, melainkan keputusan yang diulang setiap hari.
Nafsu Tanpa Tanggung Jawab
Ketika nafsu tidak diikat oleh nilai, lahirlah berbagai tragedi:
Perceraian yang tergesa,
Kekerasan dalam rumah tangga,
Anak-anak yang tumbuh dalam luka orang dewasa.

Banyak rumah tangga hancur bukan karena miskin harta, tetapi karena miskin pengendalian diri. Nafsu ingin segera dipuaskan, tetapi enggan memikul konsekuensi.
Padahal dalam pernikahan, setiap kenikmatan selalu berdampingan dengan kewajiban.

Pernikahan sebagai Jalan Penyucian
Islam memuliakan pernikahan karena ia adalah jalan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Dalam pernikahan, seseorang belajar menahan ego, berbagi, memaafkan, dan setia meski keadaan berubah.
Di situlah pernikahan naik derajat dari sekadar hubungan biologis menjadi ibadah sosial. Setiap kesabaran bernilai pahala. Setiap kesetiaan dicatat sebagai amal.

Nafsu adalah api. Ia bisa menghangatkan kehidupan, tetapi juga bisa membakar rumah jika dibiarkan. Pernikahan adalah wadahnya—bukan untuk memadamkan api, tetapi untuk mengendalikannya agar memberi cahaya, bukan kehancuran.
Maka siapa pun yang hendak menikah, bertanyalah pada dirinya sendiri:
Apakah aku ingin menikah untuk memuaskan nafsu,
atau untuk mendewasakan jiwa?
Karena pernikahan yang hanya ditopang nafsu akan cepat lelah.
Namun pernikahan yang dijaga iman akan bertahan, meski nafsu diuji oleh waktu.