Nafsu lahir lebih dulu dari kebijaksanaan.
Ia menyala sebelum akal sempat memberi nama pada arah.
Di usia muda, ia datang sebagai rindu yang tergesa,
sebagai hasrat yang ingin segera sampai,
tanpa bertanya: siapkah jiwa memikul akibatnya?
Maka pernikahan sering dipanggil
sebagai jawaban dari gelisah yang tak sabar.
Padahal nikah bukan obat penenang,
melainkan janji panjang
yang menuntut kesadaran, bukan sekadar keberanian.
Nafsu adalah api.
Ia bisa menghangatkan malam,
atau membakar rumah jika ditinggal tanpa penjaga.
Dan nikah adalah perapian—
tempat api diletakkan agar memberi cahaya,
bukan melalap segalanya.
Banyak yang menikah karena cinta pada rupa,
pada senyum yang manis di awal cerita.
Namun waktu adalah penguji yang jujur.
Ia mengikis warna kulit,
menyederhanakan pujian,
dan menyisakan satu pertanyaan:
masihkah kita saling memilih,
ketika nafsu tak lagi berteriak?
Dalam pernikahan, nafsu tidak mati.
Ia hanya diminta duduk sopan.
Menunggu giliran,
tunduk pada adab,
dan patuh pada tanggung jawab.
Di situlah manusia belajar:
bahwa cinta bukan selalu gemuruh,
kadang ia hadir sebagai diam yang setia,
sebagai lelah yang tetap bertahan,
sebagai sabar yang tidak diumumkan.
Ada suami yang kalah bukan oleh perempuan lain,
melainkan oleh pandangan yang tak dijaga.
Ada istri yang terluka bukan oleh kata kasar,
melainkan oleh rasa dibandingkan.
Dan di antara keduanya,
nafsu berdiri sebagai hakim palsu
yang selalu membenarkan diri sendiri.
Padahal nikah adalah ibadah yang sunyi.
Ia tidak butuh sorak,
tidak perlu saksi dunia setiap hari.
Cukup Allah yang tahu
berapa kali nafsu ditahan,
berapa kali ego diturunkan,
dan berapa kali setia dipilih
meski hati ingin lari.
Jika nafsu adalah angin,
maka iman adalah layar.
Tanpa iman, bahtera rumah tangga
akan hanyut ke mana pun dorongan membawa.
Namun dengan iman,
arah tetap terjaga
meski badai datang silih berganti.
Nikah bukan tentang memiliki,
tetapi menjaga.
Bukan tentang menang,
tetapi bertahan.
Bukan tentang memuaskan nafsu,
melainkan mendewasakan jiwa.
Dan pada akhirnya,
pernikahan yang indah
bukan yang bebas dari godaan,
melainkan yang berhasil
mengubah nafsu
menjadi doa
yang setia menua bersama waktu.