Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Narkoba Tak Akan Lenyap, Selama Manusia Masih Ada

Sabtu, 10 Januari 2026 | 22:36 WIB Last Updated 2026-01-10T15:36:27Z


Pernyataan bahwa narkoba tidak akan lenyap di Indonesia hingga kiamat dunia terdengar pesimistis, tetapi ia menyimpan kejujuran yang pahit. Narkoba bukan sekadar barang terlarang; ia adalah gejala dari problem manusia yang lebih dalam—hasrat, pelarian, ketimpangan, dan lemahnya makna hidup. Selama manusia masih mencari jalan pintas untuk lari dari realitas, narkoba akan selalu menemukan celah.

Sejarah membuktikan, sekeras apa pun penindakan, narkoba tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk, jalur, dan pemain. Ketika satu ladang dimusnahkan, ladang lain tumbuh. Ketika satu bandar ditangkap, jaringan beradaptasi. Ini bukan pembenaran atas kejahatan, melainkan pengakuan atas kompleksitas persoalan. Mengira narkoba bisa dihapus total dengan operasi semata adalah ilusi kebijakan.

Namun, mengakui ketidaklenyapan bukan berarti menyerah. Justru di situlah kewarasan berpikir dimulai. Tujuan realistisnya bukan “Indonesia bebas narkoba” sebagai slogan kosong, melainkan meminimalkan dampak, mempersempit ruang gerak, dan menyelamatkan manusia. Perang yang matang bukan tentang kemenangan total, tetapi tentang menurunkan korban.
Akar narkoba bersifat multidimensi. Ada kemiskinan yang mendorong produksi, ada permintaan yang lahir dari keputusasaan, ada budaya permisif, dan ada pasar global yang rakus. Di sisi lain, ada luka psikologis, krisis identitas, dan kehampaan spiritual yang mendorong konsumsi. Selama akar-akar ini dibiarkan, narkoba akan selalu relevan bagi sebagian orang.

Karena itu, strategi harus bergeser. Penegakan hukum tetap mutlak—tegas, adil, dan bersih. Tetapi ia harus berjalan seiring dengan pencegahan berbasis keluarga, pendidikan yang membangun makna, layanan kesehatan mental yang terjangkau, dan alternatif ekonomi yang nyata. Mengurung pelaku tanpa memulihkan sebab hanya memindahkan masalah ke waktu lain.

Peran masyarakat tak kalah penting. Stigma berlebihan sering mengusir korban dari pertolongan. Padahal, pemulihan membutuhkan penerimaan yang bertanggung jawab: tegas pada peredaran, manusiawi pada pengguna. Tanpa itu, siklus kambuh dan kriminalisasi akan berulang.

Maka, benar: narkoba mungkin tak akan lenyap hingga kiamat. Tetapi masa depan bangsa ditentukan oleh seberapa sedikit nyawa yang ia rampas dan seberapa banyak yang kita selamatkan. Di antara utopia dan putus asa, ada jalan kewarasan—bekerja konsisten, lintas sektor, dan berfokus pada manusia. Itu bukan kemenangan mutlak, tetapi itulah bentuk tanggung jawab kita.