Sering kali kita memahami rezeki sebagai sesuatu yang besar, spektakuler, dan jauh di depan sana. Padahal, dalam banyak perjalanan hidup, rezeki justru hadir diam-diam, dekat, dan sederhana. Bukan karena rezeki itu tidak ada, melainkan karena hati kita kurang peka untuk mengenalinya.
Kepekaan hati adalah kemampuan yang kian langka di tengah hiruk-pikuk ambisi. Kita diburu target, dikejar perbandingan, dan terjebak pada standar orang lain. Akibatnya, yang kecil terasa remeh, yang sederhana dianggap tak bernilai. Padahal, dari yang kecil itulah sering lahir keberkahan yang panjang: pertemuan yang tulus, kesempatan yang tak terduga, atau keputusan tepat yang datang dari intuisi yang jernih.
Intuisi bukan bisikan kosong. Ia lahir dari hati yang tenang, pikiran yang bersih, dan kedekatan dengan nilai-nilai spiritual. Ketika hati riuh oleh iri, takut, dan tergesa-gesa, sinyal rezeki menjadi kabur. Namun saat kita berhenti sejenak, menata napas, dan membuka diri, arah sering kali menjadi jelas. Bukan karena jalannya berubah, melainkan karena pandangan kita yang lebih peka.
Berdoa pun sejatinya bukan sekadar daftar permintaan. Doa adalah latihan kepekaan—memohon agar diberi petunjuk, bukan hanya diberi hasil. Dengan petunjuk, kita tahu kapan melangkah, kapan menunggu, dan kapan bersyukur. Di sinilah doa bertemu ikhtiar: satu menenangkan hati, yang lain menggerakkan kaki.
Rezeki memang seperti sinyal. Ia tidak selalu berteriak; sering kali ia berbisik. Yang menangkapnya bukan mereka yang paling keras berlari, melainkan yang paling jernih mendengar. Hati yang bersih memantulkan arah, hati yang tenang menuntun keputusan.
Maka, sebelum mengeluh tentang rezeki yang terasa jauh, ada baiknya kita bertanya: sudahkah hati kita cukup peka? Sudahkah kita menghargai yang kecil, merawat yang ada, dan membersihkan niat? Sebab ketika hati dibersihkan, pintu rezeki sering kali tampak—bukan di tempat yang jauh, tetapi tepat di sekitar kita.