Di era digital, kebenaran tidak selalu kalah oleh kebohongan—sering kali ia kalah oleh kebisingan yang diorkestrasi. Suara oknum buzzer hadir bukan untuk menerangkan keadaan, melainkan untuk menutupi kebodohan kebijakan dan memamerkan keberhasilan semu yang jauh dari realita masyarakat.
Oknum buzzer bekerja dengan pola yang nyaris seragam: memilih potongan fakta yang menguntungkan, mengulang narasi positif secara masif, dan menenggelamkan kritik dengan stigma. Kegagalan disebut dinamika, kelambanan dikemas sebagai kehati-hatian, dan kekacauan diberi label pencapaian. Publik dipaksa melihat panggung, bukan dapur; sorotan lampu, bukan kondisi nyata.
Yang berbahaya bukan sekadar isi pesannya, melainkan efeknya terhadap nalar publik. Ketika keberhasilan direkayasa berulang-ulang, masyarakat perlahan diajak percaya bahwa persepsi lebih penting daripada kinerja. Data kalah oleh desain grafis, kerja kalah oleh tagar. Inilah pembodohan yang halus: bukan menghilangkan akal, tetapi membuat akal lelah.
Oknum buzzer sering mengklaim sedang “membela”. Padahal pembelaan yang menutup-nutupi kesalahan adalah pengkhianatan terhadap kepentingan umum. Ia melindungi ketidakmampuan, memanjakan ketidakseriusan, dan menunda pertanggungjawaban. Dalam jangka panjang, yang rusak bukan hanya kepercayaan publik, tetapi etika bernegara.
Lebih ironis lagi, suara-suara ini kerap dilepas tanpa kendali. Ketika pimpinan gagal menertibkan barisan komunikasinya, oknum buzzer bergerak liar—menyerang, memelintir, dan memecah belah. Stabilitas sosial terganggu bukan oleh kritik, melainkan oleh narasi palsu yang dibiarkan tumbuh.
Opini ini bukan seruan untuk membungkam, melainkan untuk memulihkan kejujuran. Keberhasilan sejati tidak membutuhkan pengeras suara. Ia tampak pada layanan yang membaik, kebijakan yang bekerja, dan kehidupan warga yang berubah. Jika semua itu absen, maka apa pun yang dipamerkan hanyalah keberhasilan tanpa realita—gaung kosong yang menutupi kebodohan dengan kebisingan.