Di Aceh, mayam bukan sekadar satuan berat emas. Ia adalah simbol adat, kehormatan, dan keseriusan seorang laki-laki dalam memuliakan pernikahan. Namun di era modern—ketika emas diperjualbelikan dalam gram, dan administrasi negara menuntut kejelasan angka—pertanyaan sederhana tapi penting sering muncul: 1 mayam itu berapa gram?
Mayam dan Konversinya
Secara adat yang telah lama hidup di Aceh:
1 mayam = ± 3,33 gram emas
Maka konversinya sebagai berikut:
1 mayam ≈ 3,33 gram
2 mayam ≈ 6,66 gram
3 mayam ≈ 9,99 gram
5 mayam ≈ 16,65 gram
10 mayam ≈ 33,3 gram
Konversi ini penting bukan hanya untuk jual-beli emas, tetapi juga untuk:
kejelasan mahar dalam akad nikah,
pencatatan administrasi (KUA, perjanjian mahar),
menghindari sengketa rumah tangga di kemudian hari.
Mahar: Simbol, Bukan Beban
Masalahnya, mayam hari ini sering bergeser makna. Dari simbol kesanggupan dan penghormatan, ia berubah menjadi standar gengsi. Mahar diukur bukan dari kesiapan membangun rumah tangga, tetapi dari tekanan sosial: “anak si fulan dapat sekian mayam”.
Padahal, dalam Islam:
Mahar adalah hak perempuan,
nilainya tidak ditentukan oleh adat semata,
dan tidak boleh memberatkan hingga menghalangi pernikahan.
Mengonversi mayam ke gram seharusnya menjadi langkah kejujuran dan kesadaran, bukan alat menaikkan tuntutan. Transparansi angka justru membantu calon pasangan berdialog secara dewasa: apa yang mampu, apa yang wajar, dan apa yang bermakna.
Tradisi Bertahan, Akal Sehat Berjalan
Menjaga mayam sebagai identitas Aceh adalah hal mulia. Namun memahaminya secara rasional adalah bentuk tanggung jawab. Tradisi yang baik tidak takut pada kejelasan, dan adat yang hidup tidak alergi pada ilmu.
Ketika mahar dipahami sebagai ikrar kesungguhan, bukan ajang pamer, maka:
pernikahan menjadi lebih mudah,
konflik ekonomi pasca nikah bisa ditekan,
dan makna sakral akad kembali ke tempatnya.
Mengubah mayam ke gram bukan merusak adat Aceh. Justru sebaliknya, ia merawat adat dengan kejujuran zaman. Sebab pernikahan tidak diukur dari berat emas semata, melainkan dari berat tanggung jawab setelah akad diucapkan.
Mayam adalah simbol. Gram adalah alat ukur.
Yang paling penting adalah niat, kesiapan, dan keadilan dalam membangun rumah tangga.
Penulis Azhari
Dosen prodi hukum keluarga islam
Kampus universitas Islam Aceh