Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Tak Ada Kenikmatan di Masa Tua bagi Mereka yang Malas di Masa Muda

Sabtu, 10 Januari 2026 | 23:05 WIB Last Updated 2026-01-10T16:06:03Z
Ungkapan ini terdengar keras, bahkan kejam. Namun di balik ketegasannya, ia memuat peringatan yang jujur. Masa tua bukanlah undian keberuntungan; ia adalah panen dari apa yang ditanam di masa muda. Ketika waktu, tenaga, dan kesempatan disia-siakan, masa depan sering kali datang dengan tangan hampa.
Kemalasan di masa muda jarang tampil sebagai diam total. Ia kerap menyamar: menunda, merasa cukup, menghindari tanggung jawab, dan mengganti usaha dengan alasan. Hari-hari berlalu tanpa investasi pada ilmu, keterampilan, kesehatan, dan karakter. Saat usia bertambah, yang tersisa bukan sekadar penyesalan, tetapi keterbatasan yang nyata.


Kenikmatan di masa tua bukan semata materi. Ia mencakup kesehatan yang terjaga, kemandirian ekonomi, relasi yang hangat, dan ketenangan batin. Semua itu dibangun perlahan. Tubuh yang dirawat sejak muda lebih kuat menua. Keahlian yang diasah lebih lama memberi pilihan. Integritas yang dipupuk melahirkan kepercayaan. Tanpa fondasi ini, masa tua mudah berubah menjadi beban—bagi diri sendiri maupun orang lain.

Namun pernyataan ini bukan vonis final. Ia adalah ajakan untuk bertindak, bukan untuk menghakimi. Setiap fase hidup masih menyediakan ruang perbaikan. Kemalasan bukan identitas permanen; ia kebiasaan yang bisa diubah. Mulai dari langkah kecil—belajar konsisten, bekerja jujur, menata disiplin—panen mungkin tak instan, tetapi ia nyata.

Penting pula membedakan kerasnya nasihat dengan keadilan sosial. Tidak semua kesulitan masa tua lahir dari kemalasan; banyak yang terhimpit oleh struktur dan keterbatasan. Karena itu, empati tetap perlu. Namun empati tidak meniadakan tanggung jawab personal. Keduanya harus berjalan seiring.

Akhirnya, masa muda adalah modal yang paling cepat menyusut. Ia tak bisa diulang, hanya dimanfaatkan. Jika hari ini kita memilih bersungguh-sungguh, masa tua tak harus menakutkan. Ia bisa menjadi ruang menikmati hasil—bukan kenikmatan yang berlebihan, tetapi kecukupan yang menenangkan.