Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Emas Naik, Pernikahan Tertunda: Ketika Ekonomi Menunda Keputusan Hati”

Minggu, 22 Februari 2026 | 22:26 WIB Last Updated 2026-02-22T15:29:27Z
.

Emas Naik, Pernikahan Tertunda: Ketika Ekonomi Menunda Keputusan Hati
Di tengah gejolak ekonomi yang terus berputar, frase “emas naik, pernikahan tertunda” bukan lagi sekadar gurauan di grup chat keluarga atau meme di media sosial. Ini sudah menjadi realitas sosial.

 Ketika harga emas, bahan pokok, atau biaya hidup lainnya meningkat, banyak pasangan—terutama generasi muda—memutuskan untuk menunda pernikahan. Tidak karena cinta mereka hilang, tetapi karena logika ekonomi merangsek masuk ke ruang paling pribadi dalam kehidupan manusia: keputusan untuk berkomitmen seumur hidup.

Pernikahan ideal sering kali dikaitkan dengan kemampuan finansial. Rumah layak, tabungan, biaya resepsi, bahkan uang saku awal menjadi rambu-rambu yang dipikirkan sebelum akad digelar. Namun, ketika kalkulator menjadi arbiter utama, cinta yang semula tulus sering kali tertahan oleh angka.

Dalam konteks ekonomi Indonesia saat ini, kenaikan harga emas bisa menjadi simbol dari semua kecemasan finansial. Emas bukan lagi sekadar instrumen investasi; ia menjadi indikator ketidakpastian dan ketidaknyamanan ekonomi. Ketika emas naik, daya beli menurun, dan rasa aman finansial menjadi lebih rapuh.

Namun, mari kita renungkan: apakah pernikahan seharusnya ditunda karena emas naik atau karena kita belum siap secara materi? Apakah cinta harus menunggu rekening menebal? Kebahagiaan berumah tangga tidak melulu dirancang dari stabilitas ekonomi semata. Hubungan yang sehat dibangun dari kesiapan emosional, niat yang kuat, serta kemampuan saling mendukung ketika badai kehidupan tiba.

Memang, tanggung jawab ekonomi tidak bisa diabaikan begitu saja. Memulai keluarga berarti bersiap menanggung kebutuhan lahiriah: tempat tinggal, makan, kesehatan, dan pendidikan. Tapi di sisi lain, menunggu saat “sempurna secara finansial” bisa menjadi alasan abadi untuk menunda. Sempurna itu sering kali tidak pernah tiba.

Realitas hidup menunjukkan lebih banyak pasangan yang memutuskan menikah dengan cara sederhana, lalu bersama-sama membangun kehidupan baru. Mereka tahu bahwa keluarga bukan soal pesta yang megah atau tabungan ideal. Keluarga adalah tentang bagaimana dua insan bersinergi menghadapi kesulitan bersama—termasuk di saat ekonomi tidak bersahabat.

Kita juga perlu menggeser fokus dari “apa yang harus dimiliki sebelum menikah” kepada “apa yang akan dibangun setelah menikah.” Pendidikan kehidupan finansial bagi calon pengantin, perencanaan bersama, saling terbuka tentang harapan dan realitas, serta kesiapan menghadapi tantangan adalah modal yang jauh lebih krusial daripada sekadar emas yang bersinar.

Emas naik, memang. Biaya hidup melonjak, nyata adanya. Namun, cinta yang matang tidak seharusnya terkubur di balik angka. Menunda pernikahan karena perlu persiapan adalah bijak—tapi menunda cinta karena takut risiko hidup adalah kerugian besar bagi kemanusiaan kita sendiri.

Pernikahan adalah perjalanan bersama, bukan sebuah kompetisi memenuhi checklist materi. Dan ketika dua hati siap berjalan bersama, mereka akan belajar menata kehidupan, bahkan dalam ekonomi yang tidak ideal sekalipun.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah berapa banyak emas yang kita miliki, tetapi seberapa kuat kita saling menggenggam tangan ketika jalan hidup berliku.