Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Puncak kehidupan manusia sering disalahpahami

Senin, 23 Februari 2026 | 18:33 WIB Last Updated 2026-02-23T11:35:29Z
.

Ia bukan jabatan tertinggi, bukan rumah paling megah, bukan pula rekening yang paling tebal. Kita terlalu sering diajari untuk menatap ke atas—kepada kekuasaan, gelar, dan pengaruh—seolah-olah di sanalah letak makna hidup.
Padahal, puncak kehidupan manusia justru dimulai ketika seseorang berani sadar.
Sadar tentang siapa dirinya.
Sadar tentang dari mana ia datang.
Dan, yang paling penting, sadar untuk apa ia hidup.

Kesadaran adalah titik balik.
Ia membuat manusia berhenti hidup sekadar sebagai penonton zaman, dan mulai menjadi subjek dari pilihannya sendiri.

Di dunia hari ini—yang bergerak cepat, penuh kompetisi, penuh pencitraan—banyak orang tampak “berhasil”, tetapi sesungguhnya kehilangan arah. Kita melihat manusia sibuk membangun citra, namun lupa membangun jiwa. 
Kita menyaksikan orang berlomba menjadi penting, tetapi lupa menjadi bermanfaat.
Maka, pertanyaannya bukan lagi:
Seberapa tinggi kita naik?
Melainkan: Seberapa dalam kita memahami hidup?
Puncak kehidupan manusia tidak diukur dari seberapa banyak orang mengenalnya, tetapi seberapa jujur ia mengenali dirinya sendiri.

Di titik kesadaran itulah, manusia mulai mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang menang, tetapi tentang tidak mengkhianati nurani. Bukan hanya tentang memperoleh, tetapi tentang menjaga. Bukan hanya tentang menjadi besar, tetapi tentang tetap benar.
Kesadaran membuat seseorang mampu berkata,
“Tidak semua yang menguntungkan itu pantas.”
“Tidak semua yang populer itu benar.”
Dan tidak semua yang legal itu adil.
Di sinilah puncaknya.
Sebab, ketika seseorang telah sampai pada kesadaran ini, ia tidak lagi mudah dibeli oleh pujian, tidak mudah dibutakan oleh jabatan, dan tidak mudah digiring oleh kepentingan.
Ia tahu kapan harus melangkah.
Ia tahu kapan harus berhenti.
Dan ia tahu kapan harus berdiri, meski sendirian.
Lebih dari itu, kesadaran melahirkan tanggung jawab.
Manusia yang sadar tidak akan ringan melukai sesamanya demi kenyamanan pribadi. Ia tidak tega mengambil hak orang lain demi stabilitas posisinya. Ia tidak sanggup menutup mata ketika ketidakadilan terjadi di hadapannya.
Karena pada puncak kesadaran, manusia memahami satu hal sederhana namun berat:
bahwa hidupnya selalu beririsan dengan hidup orang lain.

Di tengah masyarakat kita hari ini—yang lelah oleh konflik, kecewa oleh janji, dan luka oleh kepentingan elit—kesadaran adalah bentuk keberanian yang paling sunyi. Tidak banyak yang memujinya. Tidak semua orang menyukainya. Tetapi darinyalah martabat manusia dijaga.
Puncak kehidupan manusia, pada akhirnya, bukan ketika ia berhasil menguasai keadaan.
Melainkan ketika ia mampu menguasai dirinya sendiri.

Bukan ketika ia berada di atas orang lain,
tetapi ketika ia mampu berdiri sejajar—tanpa kehilangan nurani.
Dan mungkin, di dunia yang makin bising oleh kepentingan,
puncak hidup yang paling tinggi justru adalah:
tetap menjadi manusia.