Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ramadhan Tanpa Ayah di Tahun 2026

Minggu, 22 Februari 2026 | 21:54 WIB Last Updated 2026-02-22T14:57:39Z
 

Ramadhan 2026 datang seperti biasa.
Azan tetap mengalun. Takjil tetap tersaji.
Lampu-lampu masjid tetap menyala.
Namun bagi sebagian rumah, satu kursi tetap kosong.

Ramadhan tanpa ayah bukan sekadar kehilangan sosok.Ia adalah kehilangan suara yang dulu membangunkan sahur,
kehilangan tangan yang dulu membelikan kue lebaran,kehilangan bahu tempat anak-anak bersandar ketika hidup terasa terlalu berat.

Dan yang paling sunyi—kehilangan doa yang dulu selalu dibisikkan ayah di setiap langkah keluarga.Bagi seorang ibu, Ramadhan tanpa ayah adalah ujian paling senyap.Ia harus tetap tersenyum di depan anak-anak,meski lelahnya tidak lagi terbagi.

Ia harus kuat, bukan karena ia tidak takut,
tetapi karena anak-anak masih membutuhkan satu-satunya tempat pulang.Bagi seorang anak, Ramadhan tanpa ayah adalah pertanyaan yang tidak selalu berani diucapkan:
“Ayah sekarang berbuka di mana?”
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan kata-kata panjang.

Cukup dengan satu keyakinan sederhana:
bahwa kasih sayang ayah tidak pernah ikut pergi bersama jasadnya.
Di Aceh, kita sering berkata: keluarga adalah benteng.Tetapi tidak semua benteng dibangun dari tembok yang utuh.
Sebagian dibangun dari air mata yang disembunyikan,dari doa yang dilipat rapi di sepertiga malam,dari ibu yang tetap memasak sahur meski hatinya ikut lapar.
Ramadhan 2026 seharusnya tidak kita jadikan musim kesedihan.

Ia harus menjadi musim penguatan.
Karena anak-anak yang tumbuh tanpa ayah,bukan anak-anak yang harus dikasihani,melainkan anak-anak yang harus dikuatkan.Bukan dengan belas kasihan,tetapi dengan kehadiran.

Wahai ibu,
jika hari ini engkau merasa tak lagi punya tempat bersandar,ingatlah satu hal:
Allah tidak pernah menitipkan beban tanpa sekaligus menyiapkan kemampuan untuk memikulnya.

Engkau mungkin lelah.Engkau mungkin sering ingin menyerah.Tetapi setiap suap sahur yang kau siapkan,setiap baju sekolah yang kau setrika,setiap air mata yang kau tahan,adalah sedekah yang tidak pernah sepi dari balasan.

Anak-anakmu mungkin belum tahu betapa berat hidupmu.Namun suatu hari, merekalah yang akan menjadi saksi bahwa ibunya adalah pahlawan paling sunyi.
Wahai anak-anak yang menjalani Ramadhan tanpa ayah,jangan pernah merasa hidupmu kurang.

Boleh jadi ayahmu tidak lagi menuntun tanganmu ke masjid.Tetapi ia sedang menunggu, agar engkau menuntun dirimu sendiri ke jalan yang lebih terang.
Jangan jadikan kehilangan sebagai alasan untuk kalah.

Jadikan ia alasan untuk tumbuh.
Belajarlah rajin, bukan untuk membuktikan kepada dunia, tetapi untuk membahagiakan doa yang pernah ayah titipkan pada langit.Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar.
Ia adalah tentang belajar menerima takdir tanpa kehilangan harapan.

Rumah tanpa ayah bukan rumah yang runtuh. Ia hanya rumah yang harus dibangun ulang—dengan cinta yang lebih sabar, dengan pelukan yang lebih sering,
dan dengan doa yang lebih panjang.
Dan untuk kita semua—masyarakat, tetangga, pemimpin, dan lingkungan sekitar—jangan biarkan keluarga tanpa ayah menjalani Ramadhan dalam kesendirian.

Bukan bantuan besar yang mereka tunggu.
Kadang, cukup dengan menyapa.
Cukup dengan mengajak berbuka.
Cukup dengan tidak membuat mereka merasa berbeda.

Karena luka terbesar dari kehilangan
bukanlah kematian,
Lmelainkan rasa ditinggalkan oleh sesama.Ramadhan 2026,biarlah menjadi Ramadhan yang mengajarkan satu hal penting kepada kita:

Bahwa keluarga yang ditinggal ayah
bukan keluarga yang patah,
melainkan keluarga yang sedang ditempa.
Dan dari rumah-rumah sunyi itu,
akan lahir anak-anak kuat—yang suatu hari akan berkata:
“Aku tidak dibesarkan oleh kemewahan,
tetapi oleh doa ibu dan keteguhan seorang ayah yang mengajariku kuat,
bahkan setelah ia tiada.”