Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Pasca Cerai, Harapan oknum Janda untuk Kehidupan

Minggu, 22 Februari 2026 | 22:08 WIB Last Updated 2026-02-22T15:10:37Z

Ada satu mimpi yang jarang dibicarakan secara jujur dalam ruang publik:
mimpi seorang janda setelah perceraian.
Bukan mimpi tentang cinta baru.
Bukan pula mimpi tentang kemewahan.
Tetapi mimpi yang sangat sederhana—dan justru karena itu sangat berat:
mampu hidup tenang, bermartabat, dan tidak terus-menerus disalahkan oleh keadaan.

Bagi banyak perempuan, perceraian bukan sekadar berakhirnya sebuah pernikahan. Ia adalah awal dari hidup yang dipenuhi tatapan, bisik-bisik, dan penilaian.
Seolah-olah status “janda” otomatis menjadikannya orang yang gagal.
Padahal yang gagal, sering kali, bukan dia.
Yang runtuh adalah relasi.

Yang pecah adalah komitmen dua orang.
Yang tidak berjalan adalah sistem pendukung.
Namun, yang menanggung beban paling panjang justru perempuan.
Perceraian Mengakhiri Pernikahan, Bukan Harga Diri
Harapan pertama seorang janda pasca cerai bukanlah pasangan baru.

Harapan pertamanya adalah mengembalikan rasa percaya diri.
Banyak janda keluar dari pernikahan dengan luka yang tidak terlihat:
lelah secara mental,
runtuh secara emosional,
dan rapuh secara ekonomi.

Di situlah mimpi kecil mulai tumbuh:
“Saya ingin berdiri lagi, walau pelan.”
Ia ingin membuktikan—kepada anak-anaknya, kepada keluarganya, kepada lingkungan—dan terutama kepada dirinya sendiri, bahwa hidupnya tidak berhenti hanya karena satu kegagalan.
Harapan yang Bernama Kemandirian
Bagi janda, kemandirian bukan slogan.
Ia adalah kebutuhan.

Banyak dari mereka tidak lagi memiliki sandaran ekonomi yang stabil.
Ada yang harus memulai dari nol: jualan kecil-kecilan, menerima jahitan, membuat kue, membuka jasa daring, atau bekerja serabutan.Mimpinya bukan menjadi pengusaha besar.

Mimpinya adalah:
“Hari ini saya bisa membeli beras, besok saya bisa membayar sekolah anak.”
Sesederhana itu.
Dan sesulit itu.

Di balik senyum mereka, ada ketakutan yang jarang terucap:
takut jatuh sakit, takut kehilangan pekerjaan, takut anak putus sekolah.
Maka harapan janda bukan sekadar hidup.
Harapannya adalah hidup yang tidak selalu berada di ujung cemas.

Harapan Seorang Janda Hampir Selalu Bernama Anak
Bagi janda yang memiliki anak, hidup tidak lagi tentang dirinya sendiri.
Ia memikul dua peran sekaligus: menjadi ibu, dan menjadi ayah.
Ia belajar menahan lelah, karena tidak ada lagi tempat berbagi beban.

Ia belajar kuat, bukan karena ingin dipuji, tetapi karena tidak ada pilihan lain.
Mimpinya pun berubah:
bukan lagi tentang masa depan dirinya,
melainkan tentang masa depan anak-anaknya.
Ia ingin anak-anaknya tumbuh tanpa membawa stigma.

Ia ingin anak-anaknya tetap percaya bahwa keluarga mereka tetap utuh—meski bentuknya berbeda.
Bagi seorang janda, keberhasilan anak adalah obat paling mujarab atas luka perceraian.
Luka Sosial yang Tidak Pernah Diakui
Yang sering melukai janda bukan hanya mantan pasangan.
Tetapi masyarakat.

Di banyak lingkungan, status janda masih dipandang sebagai:
ancaman,
bahan gosip,
dan objek curiga.
Geraknya diawasi.
Caranya berbicara ditafsirkan.
Senyumnya dicurigai.

Seolah-olah seorang perempuan yang bercerai harus hidup lebih tertutup dibandingkan perempuan lain.
Di sinilah mimpi sosial seorang janda muncul:
ingin hidup normal, tanpa harus terus-menerus membela diri.

Ia tidak ingin dikasihani berlebihan.
Ia juga tidak ingin dicurigai berlebihan.
Ia hanya ingin dihormati sebagai manusia yang sedang berjuang.
Harapan Akan Negara yang Hadir, Bukan Sekadar Menyaksikan
Tidak semua janda bercerai dalam kondisi yang adil.

Tidak sedikit yang keluar dari pernikahan tanpa harta, tanpa jaminan, tanpa perlindungan ekonomi yang memadai.
Maka salah satu mimpi yang jarang diucapkan, tetapi sangat penting, adalah:
negara benar-benar hadir.
Bukan hanya mencatat perceraian,
tetapi memastikan:
akses kerja terbuka,
pelatihan keterampilan tersedia,
bantuan sosial tidak menyulitkan,
dan perlindungan ekonomi pasca cerai tidak berhenti di atas kertas.

Janda tidak butuh simpati birokrasi.
Yang mereka butuhkan adalah kesempatan nyata untuk bangkit.
Harapan tentang Cinta, Tetapi Tanpa Paksaan
Tidak semua janda ingin menikah lagi.
Dan tidak semua janda menutup pintu untuk menikah lagi.

Namun satu hal yang sama:
mereka ingin memilih, bukan dipaksa.
Dipaksa oleh keluarga.
Dipaksa oleh tekanan sosial.
Dipaksa oleh rasa takut akan label.
Mimpi janda tentang cinta sangat sederhana: jika suatu hari datang, ia ingin datang sebagai kebahagiaan—bukan sebagai pelarian.

Impian yang Tidak Terlihat, Tetapi Sangat Nyata
Harapan seorang janda sering kali tidak terdengar lantang di ruang publik.
Ia tidak turun ke jalan.
Ia tidak muncul di podium.
Tetapi ia hidup di dapur kecil,
di meja belajar anak,
di layar ponsel yang menunggu pesan pekerjaan,

di doa panjang sebelum tidur.
Impian itu adalah impian bertahan.
Impian untuk tidak runtuh, meski hidup sering memaksanya rapuh.
Penutup: Mimpi Seorang Janda Adalah Hak, Bukan Kemewahan
Pasca cerai, seorang janda tidak meminta hidup yang istimewa.
Ia hanya meminta hidup yang adil.
Adil untuk bekerja tanpa stigma.
Adil untuk membesarkan anak tanpa rasa malu.

Adil untuk bermimpi kembali tanpa dicurigai.
Sebab perceraian boleh saja memutus ikatan rumah tangga.
Tetapi ia tidak pernah, dan tidak seharusnya, memutus hak seorang perempuan untuk berharap.
Dan di tengah sunyi perjuangan itu, satu mimpi kecil terus dijaga:
bahwa suatu hari, hidupnya tidak lagi sekadar tentang bertahan—
melainkan tentang benar-benar hidup.