Ada satu masa dalam hidup yang tak bisa dihindari: ketika ayah dan ibu telah tiada. Rumah yang dulu ramai menjadi sunyi. Tidak ada lagi nasihat, tidak ada lagi canda, tidak ada lagi tawa yang menghangatkan suasana. Yang tersisa hanya kenangan dan rindu yang tak terbalas.
Di saat itulah, banyak anak mulai bertanya:
Apa arti harta jika orang tua sudah tidak ada?
Harta yang dulu ingin dipersembahkan, kini kehilangan tujuan. Rumah besar terasa kosong. Kendaraan mewah tak lagi membawa kebahagiaan. Bahkan kesuksesan terasa hambar, karena orang yang paling ingin kita bahagiakan sudah tidak lagi menyaksikan.
Ketika ayah dan ibu masih hidup, harta bisa menjadi alat untuk membahagiakan mereka. Membelikan kebutuhan mereka, mengajak mereka berjalan-jalan, atau sekadar memastikan mereka hidup nyaman. Namun ketika mereka telah tiada, harta hanya menjadi benda—tidak lagi menghadirkan kehangatan hati.
Di sinilah kita memahami bahwa kekayaan sejati bukanlah jumlah harta, tetapi keberadaan orang tua. Mereka adalah sumber doa, keberkahan, dan ketenangan hidup. Ketika mereka pergi, sebagian dari kebahagiaan itu ikut hilang.
Namun, bukan berarti harta kehilangan makna sepenuhnya. Harta masih bisa menjadi jalan untuk mengenang mereka. Bersedekah atas nama orang tua, membantu sesama, atau melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang mereka ajarkan. Dengan begitu, harta tidak hanya menjadi simbol dunia, tetapi juga menjadi amal yang terus mengalir untuk mereka. 🤲
Karena pada akhirnya, setelah ayah dan ibu tiada, yang paling berharga bukan lagi harta…
tetapi doa anak yang terus hidup untuk mereka,
dan kenangan yang tak pernah hilang dalam hati. 🕊️