Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jangan salahkan Zaman ,padahal kita yang berubah

Selasa, 31 Maret 2026 | 02:02 WIB Last Updated 2026-03-30T19:02:50Z
Kita sering mendengar keluhan yang sama: zaman sudah rusak, generasi sudah tidak punya adab, moral sudah hancur, dan nilai-nilai sudah hilang. Hampir setiap masa, kalimat itu selalu diulang. Seolah-olah zaman adalah pihak yang bersalah, sementara manusia hanyalah korban yang tak berdaya.

Padahal, jika direnungkan lebih dalam, zaman tidak pernah punya kesalahan. Zaman hanyalah ruang waktu tempat manusia hidup. Ia tidak berpikir, tidak memilih, tidak mengambil keputusan. Manusialah yang menentukan arah zaman itu sendiri.

Jika hari ini kita melihat banyaknya kebohongan, maka bukan zaman yang berbohong, tetapi manusia yang memilih untuk berbohong. Jika kita melihat lunturnya nilai moral, bukan zaman yang meruntuhkannya, tetapi manusia yang perlahan meninggalkannya. Jika kita melihat hubungan keluarga yang retak, bukan zaman yang memecahkannya, tetapi manusia yang tidak lagi menjaga kehangatan dan kebersamaan.

Zaman hanyalah cermin. Ia memantulkan siapa kita sebenarnya. Bila kita baik, maka zaman akan terlihat baik. Bila kita rusak, maka zaman akan tampak rusak.
Namun, ada kecenderungan manusia untuk selalu mencari kambing hitam. Menyalahkan zaman terasa lebih mudah daripada mengakui kelemahan diri sendiri.

 Menyalahkan generasi terasa lebih ringan daripada memperbaiki cara kita mendidik. Menyalahkan teknologi terasa lebih nyaman daripada mengakui bahwa kita yang tidak mampu menggunakannya dengan bijak.

Padahal teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi jalan kebaikan atau jalan keburukan. Media sosial bisa menjadi ruang dakwah atau ruang fitnah. Informasi bisa menjadi ilmu atau menjadi racun. Semua kembali pada siapa yang menggunakannya.

Ironisnya, setiap generasi selalu merasa generasi sebelumnya lebih baik. Orang tua dulu menyalahkan generasi sekarang, dan generasi sekarang kelak akan menyalahkan generasi berikutnya. Siklus ini terus berulang. Seolah manusia lupa bahwa setiap generasi dibentuk oleh generasi sebelumnya.

Jika hari ini kita mengeluh tentang generasi muda, maka sebenarnya kita sedang melihat hasil dari pendidikan kita sendiri. Jika hari ini kita mengeluh tentang kepemimpinan, maka kita juga harus bertanya: apakah kita sudah menjadi masyarakat yang jujur dan adil?

Zaman tidak pernah berubah dengan sendirinya. Zaman berubah karena manusia berubah. Ketika manusia memilih kejujuran, zaman akan menjadi lebih jujur.

 Ketika manusia memilih kepedulian, zaman akan menjadi lebih peduli. Ketika manusia memilih kebaikan, zaman akan terasa lebih damai.

Sebaliknya, ketika manusia sibuk dengan ego, iri, dan kepentingan pribadi, maka zaman pun terasa semakin keras dan dingin. Bukan karena zaman berubah, tetapi karena manusia kehilangan nilai kemanusiaannya.

Kita sering merindukan masa lalu. Mengatakan dulu lebih baik, dulu lebih sopan, dulu lebih beradab. Namun kita lupa, masa lalu juga penuh dengan masalah. Bedanya, manusia dulu mungkin lebih kuat dalam menjaga nilai dan prinsip.
Hari ini tantangannya memang berbeda.

 Dunia lebih cepat, teknologi lebih canggih, informasi lebih terbuka. Namun, nilai-nilai dasar manusia sebenarnya tidak pernah berubah: kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan kepedulian. Nilai-nilai itu tetap sama sejak dulu hingga sekarang.

Maka, bukan zaman yang harus kita salahkan, tetapi diri kita yang harus kita perbaiki. Karena perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil dalam diri manusia.

Jika kita ingin zaman menjadi lebih baik, mulailah dari diri sendiri.
Jika ingin generasi menjadi lebih baik, mulailah dari keluarga.

Jika ingin masyarakat menjadi lebih baik, mulailah dari sikap sehari-hari.
Jangan terus menyalahkan zaman. Karena zaman hanyalah saksi.

Sementara manusialah pelaku.
Dan pada akhirnya, sejarah akan mencatat:
bukan zaman yang menentukan manusia,
tetapi manusialah yang menentukan zamannya. ✨