Nilai seorang pemimpin sejatinya tidak diukur dari seberapa banyak pujian yang ia terima, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Sayangnya, dalam realitas politik dan pemerintahan hari ini, tidak sedikit pemimpin yang terjebak dalam lingkaran penjilat. Mereka lebih nyaman mendengar pujian dibandingkan kritik, lebih senang melihat citra dibandingkan kenyataan, dan lebih sibuk membangun popularitas daripada membangun kesejahteraan.
Padahal, pemimpin sejati tidak membutuhkan penjilat. Pemimpin yang kuat justru membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan, memberi masukan, bahkan mengkritik demi kebaikan bersama. Sebab, pujian yang berlebihan tanpa dasar sering kali menjadi racun yang perlahan melemahkan kepemimpinan itu sendiri.
Penjilat hanya akan mengatakan bahwa semua berjalan baik, meskipun kenyataannya masyarakat sedang menghadapi kesulitan. Mereka menciptakan ilusi keberhasilan, padahal di lapangan masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. Akibatnya, pemimpin yang terlalu percaya pada pujian akan kehilangan kepekaan terhadap realitas masyarakat.
Nilai kepemimpinan yang sebenarnya justru terlihat dari aksi nyata. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, pemimpin hadir membawa solusi. Ketika bencana terjadi, pemimpin turun langsung melihat kondisi rakyat. Ketika ada ketimpangan sosial, pemimpin berani mengambil kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil.
Aksi nyata tidak selalu harus besar, tetapi harus terasa. Masyarakat tidak membutuhkan janji yang berulang, melainkan kebijakan yang memberi dampak langsung. Jalan yang diperbaiki, bantuan yang tepat sasaran, pelayanan publik yang lebih baik, dan keadilan yang dirasakan—itulah ukuran keberhasilan seorang pemimpin.
Seorang pemimpin yang terlalu dikelilingi penjilat juga berisiko kehilangan arah. Ia hanya akan mendengar apa yang ingin didengar, bukan apa yang perlu didengar. Kritik dianggap ancaman, sementara pujian dianggap kebenaran. Dalam kondisi seperti ini, kepemimpinan menjadi rapuh karena tidak berpijak pada realitas.
Sebaliknya, pemimpin yang berorientasi pada aksi nyata akan lebih dekat dengan masyarakat. Ia tidak hanya muncul saat kampanye atau seremoni, tetapi hadir dalam persoalan rakyat sehari-hari. Ia mendengar keluhan, memahami kebutuhan, dan berusaha memberikan solusi yang nyata.
Masyarakat hari ini semakin cerdas. Mereka tidak lagi mudah terpengaruh oleh pencitraan atau pujian kosong. Mereka menilai dari hasil kerja, bukan dari kata-kata. Pemimpin yang bekerja dengan tulus akan dikenang, sementara pemimpin yang hanya mengandalkan penjilat akan dilupakan.
Kepemimpinan bukan soal kekuasaan, tetapi soal tanggung jawab. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab terhadap masyarakat. Oleh karena itu, pemimpin harus berani keluar dari zona nyaman pujian dan masuk ke ruang kerja nyata.
Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat berapa banyak penjilat yang dimiliki seorang pemimpin. Sejarah hanya mencatat apa yang telah dilakukan untuk masyarakat. Maka, nilai seorang pemimpin bukan pada penjilat di sekelilingnya, tetapi pada aksi nyata yang dirasakan oleh rakyat.
Karena pemimpin sejati tidak mencari pujian, tetapi mencari keberkahan melalui pengabdian bagi masyarakat.